April 18, 2026

Sekolah Jangan Dijadikan Arena Eksperimen Program MBG

ChatGPT Image 13 Mar 2026, 08.24.06

Semarang //Portallensa.com// Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejatinya merupakan langkah mulia untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun dalam praktiknya, program ini justru berubah menjadi bahan perdebatan panjang di ruang publik. Ironisnya, dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar malah terseret menjadi arena polemik.

Pernyataan sejumlah pimpinan program yang kerap kontradiktif dengan fakta di lapangan menimbulkan kesan bahwa laporan yang sampai ke tingkat pusat tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Bahkan muncul persepsi bahwa Presiden menerima laporan yang hanya bersifat “asal bapak senang”, sementara realitas yang terjadi di sekolah-sekolah jauh berbeda.

Berbagai persoalan mulai mencuat. Menu yang tidak sesuai, porsi yang dipertanyakan, hingga kandungan gizi yang diragukan menjadi keluhan yang berulang kali muncul. Di beberapa daerah bahkan terjadi penolakan dari pihak sekolah karena makanan yang dibagikan dianggap tidak layak untuk dikonsumsi siswa.

Lebih memprihatinkan lagi, kasus keracunan massal yang sempat terjadi justru memperkuat kekhawatiran masyarakat. Program yang seharusnya memperbaiki gizi anak-anak malah menimbulkan risiko kesehatan jika tidak dikelola dengan baik.

Situasi ini semakin rumit ketika kritik masyarakat justru dibalas dengan sikap defensif. Bahkan ada laporan bahwa pihak yang memposting menu MBG di media sosial dilaporkan ke polisi. Langkah seperti ini hanya akan memperbesar kesan bahwa program tersebut alergi terhadap kritik.

Padahal, kritik publik seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dianggap sebagai ancaman. Dunia pendidikan bukan tempat untuk mempertahankan gengsi birokrasi. Sekolah bukan panggung pembenaran kebijakan, melainkan tempat yang harus dilindungi dari eksperimen program yang belum matang.

Jika memang ada ahli gizi yang dilibatkan dan dibayar untuk menyusun menu, maka publik berhak mempertanyakan mengapa masih muncul menu yang jauh dari standar gizi yang layak. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan bukan sekadar teknis, tetapi juga menyangkut keseriusan dalam pengawasan dan akuntabilitas program.

Program MBG tidak boleh dibiarkan berjalan dengan pendekatan administratif semata. Para pengambil kebijakan harus berani turun langsung ke lapangan, melihat kondisi sebenarnya di sekolah-sekolah, dan mendengar suara guru, siswa, serta orang tua.

Jika tidak segera dilakukan evaluasi menyeluruh, program yang seharusnya menjadi kebanggaan negara ini justru berpotensi menimbulkan kecurigaan publik bahwa MBG hanya menjadi ajang proyek anggaran yang rawan penyimpangan.

Anak-anak sekolah seharusnya fokus belajar, bukan menjadi bagian dari kontroversi kebijakan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa dunia pendidikan tidak dijadikan arena perdebatan akibat buruknya pelaksanaan sebuah program.

Program boleh ambisius, tetapi keselamatan, kesehatan, dan martabat dunia pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama. Penulis : Bang _Ali