April 17, 2026

Sampah, Kelalaian, dan Tanggung Jawab yang Kerap Diabaikan

WhatsApp Image 2026-02-01 at 08.56.17

Semarang, -portallensa.com- TPS Kelurahan Bangetayu Wetan pada Minggu pagi, 01/02/2026, kembali memperlihatkan fakta yang selama ini kerap kita hindari untuk dibicarakan secara jujur. Sampah bukan hanya persoalan teknis, melainkan persoalan sikap. Ia menumpuk bukan karena kurangnya fasilitas semata, tetapi karena kebiasaan abai yang terus dibiarkan.

Sejak pukul 07.00 WIB hingga selesai, Babinsa Kelurahan Bangetayu Wetan Serda Arif Supriyanto bersama Camat Genuk, Lurah Bangetayu Wetan, Ketua LPMK, dan warga masyarakat melaksanakan aksi simpatik dan kera bakti di TPS setempat. Kegiatan ini menjadi pengingat keras bahwa membersihkan sampah yang berserakan sejatinya bukan tugas utama mereka—namun tetap harus dilakukan karena kesadaran bersama belum sepenuhnya tumbuh.

Kita sering menuntut lingkungan bersih, namun lupa bertanya: sejauh mana kita berkontribusi menjaga kebersihan itu sendiri? Sampah yang berserakan di TPS adalah bukti bahwa sebagian masyarakat masih memandang ruang publik sebagai tempat “membuang”, bukan “menjaga”. Ketika sampah diletakkan sembarangan, yang dilanggar bukan hanya aturan, tetapi juga rasa hormat terhadap lingkungan dan orang lain.

Aksi kerja bakti ini secara tidak langsung menegur kebiasaan lama yang kerap dianggap wajar. Jika aparat dan warga yang peduli terus menjadi pihak yang membersihkan, sementara pelaku pembuangan sembarangan tidak pernah berubah, maka persoalan ini akan terus berulang. Membersihkan tanpa memperbaiki perilaku hanya akan melahirkan siklus yang melelahkan.

Karena itu, kegiatan ini harus dimaknai lebih dari sekadar rutinitas. Ia adalah ajakan tegas namun bermartabat agar masyarakat berhenti mewariskan masalah sampah kepada generasi berikutnya. Bangetayu Wetan membutuhkan lebih dari sekadar kerja bakti—ia membutuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab pribadi yang berdampak sosial.

Lingkungan yang bersih tidak lahir dari seremonial, tetapi dari keberanian untuk berubah, dimulai dari hal paling sederhana: membuang sampah pada tempatnya, setiap saat, tanpa menunggu diingatkan. (Report/Kreatot: Bang_Ali).