Parangkusumo Gelar Larung Sesaji Sambut Malam 1 Suro, Ribuan Peziarah Padati Pantai Selatan

“Malam 1 Suro tahun 1959 Jawa atau 1960 Dal jatuh pada Selasa Wage, 16 Juni 2026. Larung sesaji merupakan bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi masyarakat,” ujarnya.

IMG-20260616-WA0001

Portallensa.com – Bantul,– Suasana sakral menyelimuti Pantai Parangkusumo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Senin (15/6/2026) malam. Ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan pantai selatan untuk mengikuti prosesi larung sesaji dalam rangka menyambut Malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa 1960.

 

Tradisi yang digelar Keraton Yogyakarta tersebut berlangsung sejak sore hari hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Rangkaian ritual diawali dengan doa bersama di kawasan Cepuri Parangkusumo, tempat yang diyakini memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Jawa.

 

Dengan khidmat, para abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa berbagai sesaji berupa hasil bumi, tumpeng, kembang tujuh rupa, kemenyan, serta perlengkapan adat lainnya menuju bibir pantai. Saat malam mulai turun, satu per satu sesaji dilarung ke Samudra Hindia diiringi lantunan doa tolak bala yang dipimpin juru kunci.

 

Kepala Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan tradisi turun-temurun Keraton Yogyakarta dalam menyambut Tahun Baru Jawa.

 

“Malam 1 Suro tahun 1959 Jawa atau 1960 Dal jatuh pada Selasa Wage, 16 Juni 2026. Larung sesaji merupakan bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Meski Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat tinggi gelombang laut selatan mencapai 3 hingga 4 meter disertai angin kencang, antusiasme masyarakat tidak surut. Ribuan peziarah tetap bertahan di sepanjang pantai dengan obor-obor yang menyala, menciptakan pemandangan magis di tengah gelapnya malam.

 

Untuk mengantisipasi potensi bahaya gelombang tinggi, personel SAR, TNI, Polri, serta relawan disiagakan di sejumlah titik rawan.

 

Sebagian peziarah memanfaatkan malam yang dianggap istimewa tersebut untuk melakukan tirakat, meditasi, hingga semedi di tepi pantai. Sebagian lainnya memilih menyaksikan prosesi sambil memanjatkan doa secara pribadi.

Juru kunci Parangkusumo, Supriyanto, menjelaskan bahwa nama Parangkusumo memiliki makna filosofis yang mendalam.

 

“Parang berarti perang, sedangkan kusumo berarti bunga. Maknanya adalah perang melawan hawa nafsu dalam diri agar hati dapat mekar seperti bunga. Karena itu, seluruh prosesi dilakukan dengan tenang, hening, dan penuh kekhusyukan,” jelasnya.

 

Prosesi larung sesaji berakhir sekitar pukul 19.00 WIB. Sesaji yang hanyut terbawa ombak Samudra Hindia seolah membawa harapan dan doa masyarakat menuju tahun baru Jawa yang lebih baik.

 

Ketika ribuan peziarah mulai meninggalkan kawasan pantai, cahaya obor yang perlahan padam dan desir ombak malam Parangkusumo menyisakan keheningan. Namun, gema doa dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur tetap hidup, menjadi pengingat bahwa Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momentum untuk membersihkan diri dan menaklukkan hawa nafsu demi mencapai ketenangan batin.//Kang Gito/ Bang_Ali//.