Mei 12, 2026

Musrenbang RKPD 2027 Kabupaten Semarang: Saat Suara Perempuan dan Anak Mulai Diperhitungkan

658140879_122122081767154106_8540645516359544480_n

Ungaran //Portallensa.com// Kamis, 26 Maret 2026, suasana Gedung PGRI Komplek GOR Wujil terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan sekadar forum tahunan, Musrenbang RKPD Kabupaten Semarang Tahun 2027 kali ini menghadirkan semangat kolaborasi yang lebih hangat—terutama dari mereka yang selama ini sering luput dari sorotan: perempuan, anak, dan keluarga.

Di tengah kehadiran para pemangku kebijakan—Bupati Semarang, Wakil Bupati, Forkopimda, hingga berbagai OPD—peran DP3AKB Kabupaten Semarang tampak menonjol. Tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai jembatan suara kelompok rentan yang selama ini membutuhkan ruang lebih besar dalam perencanaan pembangunan.

Bersama Forum Genre, Forum Anak, dan IpeKB, DP3AKB membawa perspektif yang berbeda dalam diskusi Bidang Pembangunan Manusia. Bukan sekadar angka dan target, tetapi cerita nyata tentang kebutuhan keluarga, perlindungan anak, hingga penguatan peran perempuan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Musrenbang sendiri memang dirancang sebagai forum partisipatif—tempat aspirasi masyarakat dihimpun melalui pendekatan bottom-up. Namun, yang membuat forum kali ini terasa lebih “hidup” adalah bagaimana DP3AKB dan mitra strategisnya berupaya memastikan bahwa suara-suara kecil tidak tenggelam di antara kepentingan besar.

Dalam diskusi, berbagai masukan mengemuka. Mulai dari pentingnya penguatan ketahanan keluarga, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga perlunya program yang lebih menyentuh generasi muda. Hal-hal yang mungkin tidak selalu menjadi headline, tetapi justru menjadi fondasi masa depan daerah.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Tidak semua aspirasi dapat langsung terakomodasi, dan tidak semua kebutuhan bisa dijawab dalam satu siklus perencanaan. Di sinilah pentingnya konsistensi—bagaimana setiap masukan yang sudah disuarakan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi benar-benar diupayakan menjadi kebijakan.

Peran DP3AKB menjadi krusial dalam menjaga agar isu-isu pembangunan manusia tetap berada di garis depan. Dengan pendekatan yang lebih humanis, mereka mengingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang kualitas hidup manusia di dalamnya.

Musrenbang RKPD 2027 ini setidaknya memberi harapan bahwa perencanaan pembangunan di Kabupaten Semarang mulai bergerak ke arah yang lebih inklusif. Bahwa suara perempuan, anak, dan keluarga tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam menentukan arah kebijakan.

Harapannya sederhana: semoga apa yang telah diperjuangkan dalam forum ini tidak hanya berhenti di ruang rapat, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena pada akhirnya, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang bisa dirasakan—oleh semua, tanpa terkecuali.//Bang_Ali