Dari Panggung Wayang ke Jalanan Genuk, Lurah Bangetayu Wetan Ramaikan Karnaval Ramadhan 1447 H
Semarang,/ /Portallensa.com// Ribuan warga memadati sepanjang rute pertigaan Tlogo hingga Lapangan Bangetayu Wetan, saat Karnaval Menyambut Ramadhan 1447 H Kecamatan Genuk digelar dengan penuh semarak dan warna budaya.
Bukan sekadar arak-arakan tahunan, karnaval ini menjadi panggung kebersamaan sekaligus simbol kuatnya identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Sorotan utama tertuju pada Lurah Bangetayu Wetan, Taufiq Rizkyana, yang tampil totalitas memerankan tokoh wayang. Dengan balutan busana tradisional dan riasan khas pewayangan, ia tidak hanya hadir sebagai pejabat wilayah, tetapi turun langsung menjadi representasi nilai-nilai kearifan lokal. Langkah ini dinilai sebagai pesan kuat bahwa budaya dan pemerintahan bisa berjalan seiring dalam membangun karakter masyarakat.
Iring-iringan karnaval bergerak dari pertigaan Tlogo, melintasi Jalan Woltermonginsidi, hingga berakhir di Lapangan Bangetayu Wetan. Sepanjang jalan, tepuk tangan dan sorak sorai warga tak henti mengiringi rombongan peserta.
Drumband dari SMP dan SMA se-Kecamatan Genuk tampil enerjik, memecah suasana dengan tabuhan ritmis yang menggema.
Para Ketua RW dan RT se-Kecamatan Genuk turut ambil bagian dengan menaiki odong-odong, menciptakan pemandangan unik yang sarat makna—bahwa pemimpin wilayah pun hadir membaur bersama masyarakat.
Berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) di wilayah Genuk juga menunjukkan eksistensi dan kekompakan mereka.
Karnaval ini bukan sekadar hiburan rakyat. Ia menjadi ruang ekspresi, ajang silaturahmi, sekaligus momentum refleksi menjelang bulan suci. Di tengah tantangan sosial dan dinamika perkotaan, kegiatan seperti ini menjadi perekat sosial yang memperkuat solidaritas warga.
Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang kebersamaan. Dan di Genuk, semangat itu telah lebih dulu digaungkan melalui karnaval budaya yang meriah, inklusif, dan penuh makna. Red. Bang_Ali