SMI Buktikan Hidayah Tak Berhenti di Syahadat, Wisuda Perdana Muallaf Jadi Simbol Lahirnya Muslim yang Istiqamah

0
IMG-20260801-WA0011

Semarang | Portallensa.com – Menjadi seorang muallaf bukan sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat. Perjalanan sesungguhnya justru dimulai setelahnya, ketika seseorang harus belajar mengenal Islam, menghadapi berbagai ujian, hingga berusaha tetap teguh dalam keimanan. Di titik inilah Sekolah Muallaf Indonesia (SMI) hadir sebagai rumah pembinaan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat bernaung, menguatkan, dan menumbuhkan rasa persaudaraan bagi para muallaf.

Komitmen tersebut dibuktikan melalui Wisuda Angkatan I Sekolah Muallaf Indonesia yang digelar pada Sabtu (1/8/2026). Mengangkat tema “Menguatkan Hidayah, Meneguhkan Istiqamah”, acara ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan simbol keberhasilan pembinaan yang telah dilakukan SMI sejak berdiri pada 20 Juli 2019.

Sebanyak 46 muallaf mengikuti prosesi wisuda dengan penuh haru. Di hadapan keluarga, para pembina, dan tamu undangan, mereka menerima sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan pembelajaran dasar keislaman sekaligus mengikrarkan komitmen untuk terus menjaga shalat, mempelajari Al-Qur’an, dan istiqamah menjalankan ajaran Islam.Pembina Sekolah Muallaf Indonesia, Dra. Sri Dewi Purnamawati Tjahjaningtyas, M.Pd.I., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan panjang menjadi muslim yang lebih baik.”Setelah Allah memberikan hidayah, tugas kita adalah menjaga hidayah itu dengan ilmu, amal saleh, dan lingkungan yang baik. SMI hadir agar para muallaf tidak berjalan sendirian,” ujarnya.

Kalimat tersebut menjadi cerminan misi besar SMI. Tidak sedikit muallaf yang harus menghadapi penolakan keluarga, kehilangan lingkungan pergaulan, bahkan mengalami tekanan psikologis setelah memeluk Islam. Melalui pembelajaran aqidah, fikih dasar, tahsin Al-Qur’an, mentoring, hingga pendampingan sosial, SMI berusaha memastikan setiap muallaf memiliki tempat untuk bertumbuh dan menguatkan iman.

Suasana haru semakin terasa ketika salah satu wisudawati, Veronica Kuswatini, membagikan kisah perjalanannya. Dengan suara bergetar, ia mengaku menemukan keluarga baru di SMI yang selalu mendampinginya melewati berbagai ujian setelah memeluk Islam.Lebih mengharukan lagi, tahun ini Veronica mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya mendampingi komunitas muallaf.

“Saya tidak pernah membayangkan akan mendapatkan hadiah umrah. Ini bukan sekadar hadiah, tetapi amanah untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin semangat melayani saudara-saudara muallaf,” tuturnya.Kesaksian serupa datang dari keluarga peserta. Aris, suami dari wisudawati Febriyanti, mengaku melihat perubahan nyata pada istrinya sejak mengikuti pembinaan di SMI.

Menurutnya, sang istri kini lebih rajin membaca Al-Qur’an, lebih tenang menghadapi persoalan hidup, serta semakin disiplin menjalankan ibadah. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan pembina SMI yang telah membimbing para muallaf dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.Wisuda perdana ini juga menjadi bukti bahwa pembinaan muallaf membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan kepedulian. Hidayah memang datang dari Allah SWT, tetapi menjaga hidayah membutuhkan lingkungan yang baik dan pembimbing yang tulus. Itulah yang selama ini berusaha diwujudkan oleh Sekolah Muallaf Indonesia.

Menutup rangkaian acara, Ustadzah Sri Dewi kembali mengingatkan para alumni agar tidak berhenti belajar setelah diwisuda. Ia mengajak seluruh muallaf untuk terus menuntut ilmu, menjaga akhlak, memperbanyak ibadah, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh donatur dan para relawan yang selama ini mendukung keberlangsungan program-program SMI. Menurutnya, setiap bantuan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar besar untuk menjaga saudara-saudara muallaf tetap istiqamah dalam Islam.

Wisuda Angkatan I ini menjadi tonggak sejarah bagi Sekolah Muallaf Indonesia. Lebih dari sekadar meluluskan peserta didik, SMI telah menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan mampu melahirkan pribadi-pribadi muslim yang tangguh, berilmu, berakhlak mulia, serta siap menjadi inspirasi bagi masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi para muallaf, kehadiran Sekolah Muallaf Indonesia menjadi bukti bahwa dakwah bukan hanya mengajak seseorang masuk Islam, tetapi juga memastikan mereka tetap kuat, tetap belajar, dan tetap istiqamah hingga akhir hayat.(DN/Juharmanik/Bang_Ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *