Dari Sampah Jadi Berkah: Anton Budiono, Warga Kebonharjo yang Mengubah Limbah Plastik Menjadi Karya Bernilai
Semarang – Portallensa.com – Di tengah himpitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, ketika banyak warga kehilangan pekerjaan dan ruang gerak dibatasi, seorang warga Kebonharjo, Semarang Utara, memilih tidak menyerah pada keadaan.
Anton Budiono, warga Gang Kunir 2 RT 04 RW 04, justru memulai langkah kecil yang hari ini memberi makna besar: mengolah sampah plastik kresek menjadi tanaman hias bernilai seni dan ekonomi.
Berawal dari keterpaksaan mencari peluang kerja di masa sulit, Anton memberanikan diri memungut plastik bekas dari tempat pembuangan sampah hingga area Pasar Kobong.

Dari tangan kreatifnya, limbah yang kerap dianggap tak berguna disulap menjadi bunga hias, pohon pisang mini, hingga replika tanaman “janda bolong” yang tampak estetik dan diminati pembeli.“Awalnya saya hanya coba membuat satu sampai lima jenis tanaman. Bahannya benar-benar dari plastik kresek bekas yang saya pungut sendiri. Tidak langsung bisa jadi, tapi seiring waktu berkembang hingga sekarang,” ungkap Anton.
Proses Kreatif dari Limbah Menjadi Estetika
Proses pembuatan kerajinan ini tidak sederhana. Plastik kresek yang telah dikumpulkan terlebih dahulu dicuci dan direndam hingga bersih serta tidak berbau. Setelah itu dikeringkan di tempat teduh agar tidak rusak oleh sinar matahari langsung. Tahap berikutnya, plastik disetrika untuk membentuk tekstur dan warna sesuai kebutuhan daun maupun bunga.Proses panjang ini menunjukkan bahwa produk daur ulang bukanlah barang “murahan”, melainkan karya yang membutuhkan ketelatenan, ketekunan, dan keterampilan.
Dari Diremehkan hingga Diakui
Perjalanan Anton juga sarat tantangan. Di awal merintis, karyanya kerap diragukan. Tidak sedikit yang menganggap hasil karyanya mustahil dibuat dari plastik bekas. Respons positif nyaris tak ia dapatkan.Pengakuan baru datang setelah enam bulan berjalan, ketika karyanya diikutkan dalam lomba daur ulang limbah tingkat kelurahan. Saat itu, Anton justru keluar sebagai juara pertama, mengalahkan peserta yang sebelumnya menjadi juara bertahan.Sejak momen tersebut, karyanya mulai dikenal dan diterima masyarakat.
Pemasaran Masih Jadi Kendala
Meski produknya kini diminati, Anton mengakui tantangan terbesarnya adalah pemasaran. Tidak semua orang menyukai produk daur ulang, sehingga ia harus jeli membaca tren tanaman hias yang sedang digemari pasar.
Dalam memasarkan produknya, Anton lebih mengandalkan sistem gethok tular (dari mulut ke mulut) dibandingkan platform digital. Menurutnya, penjualan secara langsung lebih cepat mendapatkan respons karena calon pembeli bisa melihat dan memegang produk secara nyata.
Kontribusi Kecil untuk Lingkungan
sebagai perajin mandiri, Anton menyadari kontribusinya dalam mengurangi sampah plastik memang belum signifikan secara kuantitas. Namun, setidaknya ia telah mengambil peran nyata dalam mendukung upaya pengurangan limbah plastik melalui jalur kreatif.
Langkah kecil ini seharusnya tidak dipandang remeh. Di tengah persoalan sampah plastik yang kian menggunung di perkotaan, inisiatif warga seperti Anton justru patut mendapat perhatian lebih.
Dukungan Pemerintah Kota: Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Di sinilah kritik patut diarahkan. Hingga kini, pelaku usaha kecil berbasis daur ulang seperti Anton masih berjalan sendiri dengan segala keterbatasan. Minimnya pendampingan, promosi, serta akses pasar menunjukkan bahwa program pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif di tingkat kota belum sepenuhnya menyentuh pelaku-pelaku kecil di akar rumput.
Pemerintah Kota Semarang sejatinya kerap menggaungkan isu pengurangan sampah plastik, ekonomi kreatif, dan penguatan UMKM. Namun, tanpa dukungan nyata berupa pelatihan berkelanjutan, fasilitasi pameran, ruang promosi, kemudahan perizinan, hingga akses permodalan yang berpihak, jargon tersebut berpotensi berhenti sebatas slogan.
Usaha seperti yang dirintis Anton Budiono seharusnya diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjawab dua persoalan sekaligus: lingkungan dan ekonomi warga. Bila Pemkot serius mendorong kota yang ramah lingkungan dan inklusif secara ekonomi, maka perajin daur ulang di tingkat kampung layak mendapat ruang, bukan sekadar tepuk tangan simbolik.
Harapannya, ke depan terbangun sinergi nyata antara pemerintah kota, media, komunitas lingkungan, dan masyarakat untuk mendorong tumbuhnya ekosistem usaha kreatif berbasis daur ulang. Tanpa keberpihakan kebijakan, inisiatif warga akan terus bergerak sendirian—bertahan dengan keterbatasan, padahal potensinya besar untuk menjadi solusi bersama bagi persoalan sampah dan ekonomi perkotaan. (Red/Kreator: Bang_Ali).
