Belajar Kelola Sampah Sejak Dini, Siswa SD IT Nidaul Hikmah Diajak Melihat “Wajah Asli” Persoalan Lingkungan
SALATIGA —//portallensa.com//– Di usia ketika sebagian anak masih sibuk bermain dan mengenal dunia lewat gambar di buku pelajaran, puluhan siswa kelas 1 SD IT Nidaul Hikmah justru diajak melihat langsung satu persoalan nyata yang setiap hari dihasilkan manusia: sampah.
Sebanyak 75 siswa bersama tujuh guru melakukan kunjungan edukatif ke TPS Bulu 3R, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Rabu (29/4/2026). Kegiatan outing class yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga itu bukan sekadar agenda jalan-jalan sekolah, melainkan upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Di lokasi pengolahan sampah tersebut, anak-anak diperlihatkan bagaimana sampah yang selama ini mereka buang ternyata tidak hilang begitu saja. Sampah harus dipilah, diolah, bahkan sebagian membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai jika tidak dikelola dengan benar.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan, langkah kecil ini justru terasa penting. Sebab persoalan lingkungan hari ini tidak hanya lahir dari kurangnya fasilitas, tetapi juga akibat kebiasaan masyarakat yang masih menganggap sampah sebagai urusan sepele.
Anak-anak dikenalkan pada konsep 3R — reduce, reuse, recycle — dengan pendekatan sederhana dan menyenangkan. Mereka melihat langsung pemilahan sampah organik dan anorganik, pengolahan sampah menjadi pupuk, hingga pemanfaatan barang bekas seperti galon air dan kotak es krim menjadi pot tanaman sayur.
Keceriaan para siswa terlihat saat mereka menyaksikan barang yang semula dianggap tidak berguna ternyata bisa memiliki nilai manfaat kembali. Dari pengalaman sederhana itu, tersimpan pelajaran besar: lingkungan yang bersih tidak tercipta secara instan, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Kepala SD IT Nidaul Hikmah, Dony Prasetyo Nugroho, menegaskan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya diajarkan lewat teori di dalam kelas.
“Anak-anak perlu melihat langsung prosesnya agar mereka memahami bahwa sampah itu harus dikelola dengan benar. Kami ingin membangun kebiasaan baik sejak dini, mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya.
Apa yang dilakukan sekolah ini menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter tidak selalu tentang nilai akademik. Di tengah budaya masyarakat yang masih sering membuang sampah sembarangan, pembelajaran seperti ini justru menjadi investasi moral bagi generasi mendatang.
Tidak sedikit orang dewasa yang masih gagal memberi contoh dalam menjaga lingkungan. Sungai dipenuhi limbah, sampah dibakar sembarangan, hingga kebiasaan membuang sampah dari kendaraan masih sering ditemui. Karena itu, membangun kesadaran sejak usia sekolah dasar menjadi langkah penting sebelum persoalan lingkungan semakin sulit dikendalikan.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak antusias bertanya dan memperhatikan proses pengolahan sampah. Mereka belajar bahwa sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sementara barang bekas masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna.
“Anak-anak sangat senang karena bisa belajar langsung di lapangan. Ini bukan hanya pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga menjadi pembelajaran yang bermakna bagi mereka,” tambah Dony.
Kegiatan sederhana di TPS Bulu 3R itu seakan mengingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Kesadaran itu harus dibangun dari rumah, sekolah, dan kebiasaan sehari-hari.
Dan mungkin, perubahan besar soal lingkungan memang harus dimulai dari tangan-tangan kecil yang hari ini sedang belajar mencintai bumi dengan cara sederhana: memahami sampah mereka sendiri. //Tomy/Bang_Ali//