April 17, 2026

Jangan Jadikan MBG Bahan Olok-Olok: Suara Orang Tua untuk Perbaikan SPPG

ChatGPT Image 27 Feb 2026, 08.34.01

Semarang, //Portallensa.com// Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah gagasan besar dan mulia. Ia menyentuh hak paling dasar anak-anak: tumbuh sehat, aman, dan bermartabat. Namun hari ini, alih-alih menjadi kebanggaan bersama, MBG justru terancam menjadi bahan olok-olokan publik. Bukan karena idenya keliru, melainkan karena kelalaian dalam pengelolaan dan sikap abai terhadap kritik.

Polemik MBG tak kunjung usai. Pernyataan demi pernyataan dari elit politik dan pejabat Badan Gizi Nasional lebih sering terdengar seperti narasi sensasional ketimbang penjelasan kebijakan. Mulai dari wacana pemotongan sapi di setiap SPPG, klaim dukungan tinggi badan 180 cm, hingga pemberian seekor lele utuh untuk setiap anak—semua digaungkan seolah capaian besar. Sayangnya, narasi ini terasa hampa ketika di lapangan anak-anak justru sakit karena makanan yang mereka konsumsi.

Ketika Anak Jadi Korban, Orang Tua Tak Bisa Diam

Sebagai orang tua, kami tidak berbicara dari ruang seminar atau meja konferensi pers. Kami berbicara dari dapur rumah, dari ruang tunggu puskesmas, dari kecemasan melihat anak pulang sekolah dengan mual, pusing, bahkan keracunan. Fakta di lapangan menunjukkan adanya makanan basi dan kedaluwarsa, porsi yang tidak mencukupi, serta menu yang jauh dari standar gizi dan keamanan pangan.

Ini bukan sekadar kekurangan teknis. Ini soal keselamatan anak. Dan ketika keselamatan anak dipertaruhkan, tidak ada ruang untuk pembelaan diri atau sikap merasa paling benar.

Namun yang kami temui justru sebaliknya. Keluhan orang tua sering kali tidak disikapi dengan empati dan perbaikan, melainkan dengan bantahan. Ada kesan kuat bahwa pelaksana SPPG kebal kritik, seolah sistem yang dijalankan tidak mungkin salah. Padahal dalam program publik berskala besar, kritik adalah alarm, bukan ancaman.

Masalahnya Jelas: Tata Kelola yang Lalai

Kami perlu menegaskan satu hal penting: orang tua tidak menolak MBG. Justru kami ingin program ini berhasil. Yang kami tolak adalah kelalaian.

Masalah MBG hari ini bukan pada niat, melainkan pada tata kelola:

  • Standar mutu dan keamanan pangan yang tidak konsisten

  • Pengawasan harian yang lemah

  • Tidak adanya sanksi tegas bagi pelanggaran

  • Saluran pengaduan yang ada tetapi tidak berfungsi

Tanpa pembenahan serius pada aspek-aspek ini, MBG hanya akan menjadi proyek besar dengan fondasi rapuh. Program yang baik bisa rusak bukan karena konsepnya salah, tetapi karena dikelola tanpa tanggung jawab.

Seruan Orang Tua kepada Elit BGN

Kami menyerukan kepada elit BGN: berhentilah membangun narasi konyol yang justru merendahkan program itu sendiri. Publik tidak membutuhkan sensasi. Anak-anak tidak membutuhkan janji tinggi badan. Yang mereka butuhkan adalah makanan yang aman, layak, cukup, dan bergizi setiap hari.

Fokuskan energi dan anggaran pada:

  • pembenahan SOP SPPG secara nasional,

  • pelatihan dan pengawasan ketat pelaksana,

  • transparansi distribusi dan bahan pangan,

  • serta mekanisme pengaduan yang benar-benar ditindaklanjuti.

Jangan sampai program yang seharusnya menjadi tonggak perbaikan gizi anak justru dikenang sebagai bahan olok-olokan nasional akibat kelalaian pengelolaan dan keengganan mendengar suara rakyat.

Menjaga Martabat Program, Melindungi Anak

MBG terlalu penting untuk dipermainkan. Setiap piring makan anak adalah cermin keseriusan negara. Jika negara lalai, yang menanggung akibatnya bukan statistik, melainkan tubuh dan masa depan anak-anak.

Sebagai orang tua, kami akan terus bersuara. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan: program yang baik hanya akan bermakna jika dijalankan dengan tanggung jawab, kerendahan hati, dan keberanian untuk memperbaiki diri.

MBG harus diselamatkan—bukan dari kritik, tetapi dari kelalaian. Penulis: Ali Mahfudi. SE., SH. Pemred. Media Portallensa,com