April 19, 2026

Di Balik Kabut Pagergedog, Syiar Islam Tumbuh dari Ketulusan Bu Nyai Syarifah Saefullah

IMG-20260121-WA0059

Kabupaten Semarang | Portallensa.com – Kabut tebal hampir selalu menyelimuti Dusun Pagergedog, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru. Udara dingin menusuk, jalan menanjak, dan jarak yang tak dekat kerap menjadi pembatas bagi banyak orang untuk datang. Namun, bagi Bu Nyai Syarifah Saefullah dan rombongan Machan-Machan Ngaji, kabut bukanlah penghalang, melainkan saksi bisu tumbuhnya syiar Islam yang dijalankan dengan ketulusan.

Setiap Minggu Kliwon, langkah-langkah kecil penuh makna menyusuri medan menuju dusun di ketinggian Kabupaten Semarang itu. Sekitar tiga tahun terakhir, pengajian rutin terus digelar—tanpa panggung besar, tanpa sorotan berlebih—hanya niat sederhana untuk berbagi ilmu dan menguatkan iman.

Pada Minggu (18/1), sekitar 70 ibu-ibu Dusun Pagergedog berkumpul dengan wajah-wajah penuh antusias. Di tengah kabut dan udara dingin, lantunan ayat suci dan tausiyah Bu Nyai Syarifah Saefullah mengalir hangat. Kalimat-kalimatnya sederhana, namun menyentuh relung hati. Bukan hanya mengajak untuk tahu, tetapi menggerakkan untuk menjalani ajaran Islam dalam keseharian.

Bu Nyai Syarifah bukan sekadar pengajar. Ia hadir sebagai teladan. Dari “Kandang Machan” — majelis taklim yang rutin digelar setiap Rabu sore di Krajan I, Dusun Tegaron — beliau mengajak para jamaah Machan-Machan Ngaji keluar dari ruang belajar, menyapa realitas, dan menanamkan nilai-nilai Islam langsung di tengah masyarakat.

Bagi warga Pagergedog, kehadiran pengajian ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang belajar, tempat bertanya, sekaligus penguat batin. Perlahan, pemahaman keislaman tumbuh, praktik ibadah semakin terjaga, dan ukhuwah kian erat.

Sementara itu, bagi jamaah Machan-Machan Ngaji, perjalanan ini menjadi proses belajar yang sesungguhnya. Mereka memahami bahwa ilmu tidak berhenti pada catatan dan hafalan, tetapi menemukan maknanya ketika dibagikan dengan ikhlas. Dari Bu Nyai Syarifah, mereka belajar bahwa syiar Islam adalah tentang hadir, mendengar, dan memberi contoh.

Di balik kabut Pagergedog, syiar Islam tumbuh bukan karena suara yang lantang, melainkan karena ketulusan yang konsisten. Lewat langkah-langkah sederhana dan hati yang lapang, Bu Nyai Syarifah Saefullah menunjukkan bahwa dakwah paling kuat adalah yang dijalani dengan akhlak.

Semoga setiap doa yang terucap, setiap ilmu yang dibagikan, dan setiap perjalanan yang ditempuh membawa keberkahan—menguatkan iman, mempererat persaudaraan, dan menegaskan bahwa cahaya Islam selalu menemukan jalannya, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.

(Red. Yuniarti / Kreatot – Bang Ali)