Seribu Jamaah Gelar Salat Istisqa di Karangroto, Memohon Hujan di Tengah Kekeringan

0
IMG-20260907-WA0012

SEMARANG, PORTALLENSA.COM — Terik matahari dan kondisi kemarau tak menyurutkan langkah sekitar 1.000 jamaah untuk berkumpul di Lapangan Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Selasa (1/9/2026) pagi.

Mereka datang bukan untuk sebuah pesta, melainkan untuk menundukkan kepala dalam Salat Istisqa, memohon rahmat Allah SWT dan turunnya hujan.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat. Dari tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, TNI-Polri, hingga pelajar tingkat SD, SMP dan SMA turut hadir dalam suasana penuh kekhusyukan.

Hadir antara lain Camat Genuk, Danramil 06/Genuk, Kapolsek Genuk, para lurah se-Kecamatan Genuk, Ketua LPMK, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama serta tokoh masyarakat Kelurahan Karangroto.

Di tengah barisan jamaah, kehadiran anak-anak sekolah juga menjadi pemandangan tersendiri. Mereka belajar bahwa ketika alam sedang tidak bersahabat, manusia tidak hanya dituntut untuk mengeluh, tetapi juga melakukan ikhtiar, introspeksi dan menjaga lingkungan.

Bukan Sekadar Meminta Hujan

Salat Istisqa sejatinya bukan sekadar ritual meminta air dari langit.

Ada pesan yang lebih dalam: manusia diingatkan bahwa kehidupan sangat bergantung pada air.

Ketika hujan tak kunjung turun, persoalannya bukan hanya tanah yang mengering. Air menjadi persoalan bagi pertanian, kebutuhan rumah tangga, ketersediaan sumber air bersih hingga keberlangsungan aktivitas masyarakat.

Karena itu, doa ribuan jamaah di Karangroto seharusnya tidak berhenti ketika sajadah dilipat.

Doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar.

Menjaga sumber mata air, tidak membuang sampah sembarangan, memperbanyak ruang terbuka hijau, menjaga daerah resapan dan menggunakan air secara bijak merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam.

Hujan memang berada di luar kendali manusia. Tetapi menjaga bumi agar mampu menyimpan air adalah bagian yang bisa dilakukan manusia.

Dari Karangroto, Sebuah Harapan Dipanjatkan

Pagi itu, Lapangan Karangroto menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga.

Tidak ada sekat. Semua berdiri dalam satu barisan, menghadap Sang Pencipta dengan harapan yang sama: agar kemarau segera berakhir dan hujan kembali membasahi bumi.

Sekitar 1.000 jamaah mengikuti kegiatan tersebut dengan tertib dan lancar.

Di balik kekhusyukan itu tersimpan sebuah pesan sederhana namun kuat: ketika manusia berada dalam keterbatasan, doa menjadi pengingat bahwa kesombongan tidak akan membuat manusia mampu mengendalikan alam.

Namun setelah doa dipanjatkan, pekerjaan belum selesai.

Menjaga alam, menghemat air dan merawat lingkungan adalah bentuk ikhtiar yang harus terus dilakukan.

Sebab hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit.

Hujan adalah kehidupan. (Bang_Ali).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *