Reformasi Jilid II Menggema di Jakarta, Mahasiswa dan Aliansi Rakyat Suarakan Enam Tuntutan

IMG-20260620-WA0019

Portallensa.com — Jakarta, 20 Juni 2026 – Gelombang aksi unjuk rasa bertajuk “Reformasi Jilid II” menggema di sejumlah titik strategis di Ibu Kota. Ribuan mahasiswa bersama elemen masyarakat yang tergabung dalam berbagai aliansi turun ke jalan membawa bendera Merah Putih, spanduk bertuliskan “REFORMASI”, serta menyampaikan aspirasi melalui mimbar bebas dan mobil komando.

 

Aksi terpusat di kawasan Bundaran HI, Jalan Medan Merdeka Barat atau Monas, Gedung DPR/MPR Senayan, Tugu Tani, hingga Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng. Massa secara bergantian menggelar orasi, menuntut perubahan kebijakan yang dinilai semakin membebani rakyat.

 

Sejak pagi hari, suasana di pusat Jakarta dipenuhi lautan manusia. Pengeras suara disiapkan, spanduk-spanduk dibentangkan, sementara para peserta aksi menyuarakan kegelisahan yang mereka sebut sebagai akumulasi berbagai persoalan ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga demokrasi.

 

Aliansi mahasiswa yang terdiri dari SEMA Universitas Paramadina bersama gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) membawa enam tuntutan utama, yakni:

  1. Menstabilkan nilai rupiah dengan menghentikan pemborosan APBN dan mengevaluasi sejumlah program populis seperti MBG dan Koperasi Merah Putih.
  2. Menurunkan harga BBM serta kebutuhan pokok masyarakat.
  3. Membatalkan RUU Polri dan menghentikan militerisasi di ranah sipil.
  4. Menolak pemutusan hubungan kerja (PHK) massal serta mengevaluasi kebijakan ketenagakerjaan.
  5. Menolak komersialisasi pendidikan dan mengevaluasi status PTN-BH.
  6. Menuntut transparansi dalam pengelolaan BPI Danantara.

 

Rangkaian aksi dimulai pukul 09.00 WIB di kawasan Monas oleh Tani Merdeka Indonesia, kemudian berlanjut pukul 10.00 WIB di depan Gedung DPR/MPR Senayan. Pada pukul 11.00 WIB massa bergerak di Bundaran HI, dan pada pukul 13.00 WIB aksi berlangsung di Tugu Tani serta Kementerian Keuangan. Pada waktu yang sama, SEMA Universitas Paramadina menggelar aksi bertajuk Reformasi Jilid II di depan Istana Negara.

 

Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, Polres Metro Jakarta Pusat mengerahkan 3.009 personel gabungan. Rekayasa lalu lintas diberlakukan secara situasional menyesuaikan perkembangan jumlah massa di lapangan.

 

Di tengah terik matahari dan kepadatan ibu kota, para demonstran menegaskan bahwa aksi mereka merupakan bentuk penyampaian aspirasi yang dijamin konstitusi. Bagi sebagian peserta, turun ke jalan bukan sekadar tradisi pergerakan mahasiswa, melainkan cara menyuarakan keresahan masyarakat yang semakin merasakan tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan.

 

“Reformasi bukan hanya peristiwa tahun 1998, tetapi semangat untuk terus mengoreksi kekuasaan agar tetap berpihak kepada rakyat,” seru salah seorang orator dari atas mobil komando.

 

Aksi yang berlangsung di berbagai titik tersebut menjadi pengingat bahwa suara masyarakat sipil dan mahasiswa masih menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Tantangan bagi pemerintah bukan sekadar menjaga ketertiban, tetapi juga membuka ruang dialog dan mendengar aspirasi yang lahir dari jalanan, agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi jurang yang memisahkan negara dengan rakyatnya.//F03/Bang_Ali//