PWI LS Pringapus: Maulid Nabi, Merawat Tradisi, Menjaga Sejarah Walisongo

0
IMG_20260927_074133

PRINGAPUS, PORTALLENSA.COM — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus hari lahir pertama PWI LS Pimpinan Cabang Kecamatan Pringapus tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Di tengah perubahan zaman dan semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat pentingnya agama, budaya, dan sejarah berjalan beriringan.


Rangkaian kegiatan digelar sejak Sabtu (26/9/2026). Siang hari, masyarakat disuguhi berbagai kegiatan keagamaan seperti lomba MTQ, tahfidz, dan sejumlah kegiatan lainnya. Malam harinya, acara dilanjutkan dengan pengajian akbar dan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH Jumardi Ahmad Tsalis.

Selain rangkaian pengajian akbar, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) PWI LS dari Ketua PWI LS Jawa Tengah KH. Miftakhul Huda kepada PWI LS Pimpinan Cabang Kecamatan Pringapus. Penyerahan SK tersebut menjadi penanda resmi keberadaan dan dimulainya kiprah PWI LS Kecamatan Pringapus dalam menjalankan amanah organisasi, sekaligus memperkuat komitmen untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan Walisongo, menjaga budaya, serta mengenalkan sejarah kepada generasi muda.


Ketua Panitia sekaligus Ketua PWI LS Kecamatan Pringapus, Gus Widi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan masyarakat yang telah hadir serta memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.


Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah, Ketua PWI LS Jawa Tengah KH Miftakhul Huda atau yang akrab disapa Gus Miftah ABG, Camat Pringapus Slamet Sodiq, S.H., serta jajaran Forkopimcam yang turut hadir.


Namun, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pengajian.
Minggu (27/9/2026), kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni budaya kuda lumping. Pilihan menghadirkan kesenian tradisional tersebut menjadi pesan tersendiri bahwa kegiatan keagamaan tidak harus menjauh dari kebudayaan lokal.


Bagi PWI LS Kecamatan Pringapus, agama, budaya dan sejarah bukan tiga hal yang harus dipertentangkan. Ketiganya justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun karakter generasi muda.


PWI LS yang membawa semangat Walisongo ingin menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berbicara tentang nilai religius, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengenali akar sejarah dan menjaga kebudayaan yang diwariskan para pendahulu.


Di tengah derasnya budaya luar dan perkembangan teknologi yang membuat generasi muda semakin mudah kehilangan jejak sejarahnya, pelestarian budaya menjadi pekerjaan bersama.


Kesenian seperti kuda lumping, misalnya, bukan sekadar tontonan. Di dalamnya terdapat tradisi, kreativitas masyarakat dan jejak kebudayaan yang layak dikenalkan kepada generasi berikutnya.


Begitu pula dengan sejarah Walisongo. Menurut semangat yang dibawa PWI LS Pringapus, sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dipahami dan diluruskan agar generasi muda tidak kehilangan pijakan dalam memahami perjalanan bangsanya.


Sebab bangsa yang lupa sejarah akan mudah kehilangan arah. Dan generasi yang tidak mengenal budayanya akan mudah merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.


Dari Pringapus, peringatan Maulid Nabi sekaligus hari lahir pertama PWI LS tersebut akhirnya membawa pesan sederhana: merawat iman, menghormati sejarah, dan menjaga budaya bukan sekadar tugas organisasi, melainkan tanggung jawab bersama.


Dan ketika anak-anak muda kembali mengenal MTQ, tahfidz, sejarah, serta kesenian tradisional dalam satu ruang yang sama, di situlah sebuah tradisi tidak sekadar dipertontonkan—tetapi mulai diwariskan.(Juharmanik/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *