Pojok Bang Ali: Surat dari Penulis Gadungan, REUNI DI ANTARA PEMATUNG, PETANI DAN PENULIS GADUNGAN
Portallensa.com Siang itu kami kembali bertemu. Bukan di ruang mewah, bukan dalam acara penuh seremoni. Hanya obrolan sederhana antara seorang pematung kayu, petani, dan seorang yang menyebut dirinya penulis gadungan.
Sang pematung datang dengan tangan penuh jejak kerja. Serbuk kayu menempel di jemari, tetapi dari tangannya lahir karya. Ia tahu, kayu tidak akan menjadi indah hanya dengan dipuji. Harus dipahat, dikikis, bahkan terkadang dihancurkan lalu dibentuk kembali.
Petani pun bercerita tentang tanah. Tangan mereka kasar karena cangkul dan matahari. Mereka menanam ketika orang lain masih menghitung keuntungan. Ironisnya, petani sering menjadi orang yang paling sibuk ketika menanam, tetapi justru paling cemas ketika panen—karena harga tidak selalu berpihak kepada mereka.
Lalu giliran si penulis gadungan.
Ia bukan sastrawan besar. Tidak punya gelar sastra. Hanya gemar memungut cerita dari warung kopi, jalan kampung, sawah, dan suara orang-orang kecil.

“Kalau menulis tentang kenyataan membuat saya disebut gadungan, ya biarlah,” katanya.
Sebab zaman sekarang terlalu banyak orang pandai berbicara, tetapi sedikit yang mau bekerja.
Terlalu banyak yang sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun kenyataan.
Ada yang rajin bicara tentang rakyat, tetapi jarang mendengar rakyat.
Ada yang gemar memamerkan keberhasilan, sementara orang yang benar-benar bekerja justru tidak pernah disebut.
Kami tertawa.
Pematung berkata, “Kayu yang bagus lahir dari proses.”
Petani menyahut, “Panen yang baik juga.”
Penulis gadungan tersenyum, “Tulisan yang jujur pun begitu.
Tidak lahir dari pesanan, apalagi pujian.”
Tiga profesi, tiga jalan berbeda.
Pematung mengukir kayu agar meninggalkan bentuk.
Petani mengolah tanah agar kehidupan terus tumbuh.
Penulis menulis agar cerita manusia tidak hilang.
Dan mungkin inilah yang sering dilupakan zaman:
ketika kamera mati, jabatan selesai, baliho diturunkan, dan tepuk tangan berhenti—yang tersisa hanyalah karya.
Bukan pencitraan.
Bukan slogan.
Bukan gelar.
Karya.
Kalau kami disebut orang biasa, tidak masalah.
Sebab orang biasa pun bisa meninggalkan jejak.
Dan kalau saya tetap disebut penulis gadungan, saya hanya punya satu jawaban:
Lebih baik gadungan tetapi berani menulis kenyataan, daripada hebat tetapi hanya pandai memuji keadaan
Bang_Ali
