April 23, 2026

Outbound dan Tadabbur Alam Machan Ngaji Tegaron: Semangat Jamaah Menyatu dengan Alam dan Iman

WhatsApp Image 2026-04-23 at 18.03.22

SALATIGA – portallensa.com – Suasana berbeda tampak di kawasan hutan pinus Kalipasang, Rabu, 22 April 2026. Sekitar 80 jamaah Majelis Ta’lim Machan Ngaji Tegaron berkumpul dalam kegiatan outbound dan tadabbur alam yang bukan sekadar agenda penyegaran, tetapi juga ruang menumbuhkan kembali semangat kebersamaan dan keimanan.

Setelah kurang lebih dua bulan vakum selama Ramadhan dan Syawal, kegiatan ini menjadi momentum yang dinanti. Wajah-wajah penuh antusias terlihat sejak pagi, menandakan bahwa majelis ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah bagi para anggotanya.

Mengusung tema “Alam Jadi Guru, Iman Jadi Tujuan”, para jamaah diajak untuk belajar langsung dari alam. Di bawah rindangnya pohon pinus dan sejuknya udara pegunungan, setiap langkah dan aktivitas menjadi refleksi atas kebesaran Allah SWT. Momentum yang bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pun semakin memperkuat pesan tentang pentingnya menjaga dan mencintai alam sebagai bagian dari iman.

Kegiatan dikemas secara menarik dan edukatif. Mulai dari permainan kelompok di alam terbuka, kegiatan di pendopo, hingga sistem pos ala pramuka dengan metode pencarian jejak. Tawa dan keceriaan mewarnai jalannya acara, namun di balik itu terselip nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, serta ketelitian yang terus diasah.

Tidak hanya itu, para jamaah juga diuji pemahamannya terhadap materi kitab fiqih yang selama ini dipelajari dalam pengajian rutin setiap hari Rabu. Hal ini menjadi bukti bahwa belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam ruangan—alam pun bisa menjadi ruang kelas yang hidup dan bermakna.

Di balik suksesnya kegiatan ini, ada sosok yang perannya begitu kuat meski tak selalu berada di garis depan, yakni Ibu Nyai Syarifah Saefullah. Dengan ketelatenan dan kesabaran yang konsisten, beliau terus membimbing para jamaah tanpa mengenal lelah. Kehadirannya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penguat yang menjaga ruh majelis tetap hidup.

Dalam setiap aktivitas, Ibu Nyai menanamkan nilai bahwa apa pun yang dilakukan dapat bernilai ibadah jika dilandasi niat yang benar. Pendekatan beliau yang hangat namun tegas membuat para jamaah dari berbagai usia merasa nyaman, dihargai, dan memiliki tempat untuk bertumbuh bersama.

Menurut narasumber, Yuni, semangat jamaah justru semakin terasa setelah masa vakum. “Yang paling terlihat itu kebersamaannya. Jamaah datang dengan penuh semangat, saling menguatkan, dan menikmati setiap prosesnya,” ujarnya.

Kemeriahan kegiatan semakin lengkap dengan pembagian doorprize yang menambah keceriaan. Namun lebih dari itu, yang dibawa pulang para jamaah adalah energi baru—semangat yang diperbarui, kebersamaan yang semakin erat, dan keimanan yang semakin dikuatkan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa majelis tak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah kesederhanaan, terpancar kekuatan: semangat jamaah yang tulus, kebersamaan yang hangat, serta keteladanan seorang guru yang tak pernah lelah membimbing.

Dari hutan pinus Kalipasang, satu pesan sederhana namun mendalam kembali ditegaskan—bahwa ketika alam dijadikan guru dan iman menjadi tujuan, maka setiap langkah akan selalu menemukan maknanya. Red. Yuni/Bang_Ali./