MERTI DUSUN KERTOSARI 2026

0

“Kertosari Gumregah, Nyawiji, Memetri Budaya”

IMG-20260816-WA0019

PRINGAPUS —Kab. Semarang– Pagi 16 Agustus 2026 terasa berbeda di Dusun Kertosari, Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dari sudut-sudut dusun, warga berdatangan dengan wajah penuh semangat.

Busana adat Jawa dikenakan, gunungan hasil bumi dipersiapkan, dan suara kesenian tradisional mengiringi langkah warga dalam sebuah peristiwa yang bukan sekadar pesta tahunan.

Merti Dusun Kertosari 2026 menjadi momentum untuk mengingat kembali dari mana mereka berasal, menghormati leluhur, mensyukuri hasil bumi, sekaligus meneguhkan kembali persaudaraan warga.

Mengusung tema “Kertosari Gumregah Nyawiji Memetri Budaya”, kegiatan ini diikuti warga dari 12 RT dengan penuh kekompakan.

Dari Kertosari Menuju Gunung Munggut, Menapak Jejak Leluhur Kirab budaya bergerak dari Dusun Kertosari menuju Paseban Joglo Gunung Munggut. Gunungan hasil bumi, miniatur karya warga, serta iringan jathilan membuat suasana semakin semarak.

Namun di balik kemeriahan itu tersimpan sebuah pertanyaan penting:Mengapa kirab harus menuju Gunung Munggut?Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan perjalanan, tetapi menjadi pintu untuk mengenalkan sejarah kepada generasi penerus.

Di Gunung Munggut terdapat makam Mbah Kertosari, sosok yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai salah satu tokoh yang memiliki keterkaitan dengan sejarah awal Dusun Kertosari. Ia dikenang sebagai sosok yang peduli terhadap masyarakat.

Di tempat itulah rombongan melakukan nyekar atau ziarah.Kepala Desa Pringsari, Zaenal, turut memimpin prosesi tersebut. Suasana yang sebelumnya riuh mendadak berubah hening. Warga menundukkan kepala, memanjatkan doa, dan menaburkan bunga di pusara.Harum bunga mawar seakan berpadu dengan keheningan Gunung Munggut.

Bagi masyarakat Kertosari, ziarah itu bukan sekadar tradisi. Ia menjadi cara untuk menyambungkan masa lalu dengan masa kini—agar generasi muda tidak hanya mengenal nama dusunnya, tetapi juga memahami sejarah yang berada di balik nama tersebut.

Gunungan Hasil Bumi: Rebutan Berkah, Bukan Sekadar RebutanSetelah prosesi ziarah, rombongan kembali menuju lapangan Dusun Kertosari.

Puncak acara berlangsung meriah. Gunungan hasil bumi menjadi pusat perhatian warga. Ketika prosesi rebutan dimulai, warga berbondong-bondong mengambil bagian dari gunungan tersebut.

Bagi sebagian warga, hasil bumi yang didapat bukan sekadar makanan.Ada makna syukur dan keyakinan tentang keberkahan yang menyertai tradisi tersebut.

Di tengah tawa, sorak dan kegembiraan, terlihat satu hal yang jauh lebih penting: warga masih mau berkumpul, berbagi dan merayakan kebahagiaan bersama.

Kepala Desa: “Budaya Jangan Sampai Luntur”Kepala Desa Pringsari Zaenal mengingatkan bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dirawat bersama.“Tema kita Gumregah Nyawiji Memetri Budaya. Gumregah artinya bangkit, nyawiji artinya bersatu.

Dengan guyub rukun kita memetri, kita jaga budaya agar tidak luntur. Anak cucu kita harus tahu asal-usule.”Zaenal juga mengapresiasi kekompakan warga Kertosari.“Berat sama dijinjing, ringan sama dirasakan. Bahagia, guyub rukun bersama. Semangat Kertosari tidak pernah mati.”

Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Sebab sebuah dusun tidak hanya dibangun dengan jalan, rumah dan fasilitas, tetapi juga dengan rasa memiliki dan persaudaraan warganya.

Ketika Anak Muda Mulai Mencintai BudayanyaKemeriahan Merti Dusun juga melibatkan generasi muda.Berbagai perlombaan, stand UMKM, miniatur untuk kirab hingga pentas kesenian menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk ikut ambil bagian.

Seorang warga, Bu Sumi, mengaku terharu bisa kembali berkumpul bersama warga.“Setahun sekali kita bisa kumpul ngene ki. Mangan bareng, kirab bareng. Iki sing marai Kertosari tetep adem. Pringsari guyub, Pak Kadesse ugo merakyat.

”Sementara Ketua Karang Taruna Dusun Kertosari menegaskan bahwa anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton.“Anak muda dilibatkan penuh. Ada lomba, stand UMKM, aneka ragam miniatur untuk kirab. Jadi budaya ora mung diapalke, tapi diuri-uri bareng.

”Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi di tengah zaman ketika budaya tradisional semakin mudah tergeser oleh budaya digital, keterlibatan anak muda menjadi harapan.

Reog, Jathilan dan Napas Budaya yang Belum PadamMenjelang akhir kegiatan, lapangan Dusun Kertosari kembali dipenuhi warga. Pentas budaya reog dan jathilan menjadi penutup rangkaian acara.

Suara gamelan, gerak para penampil dan sorak penonton menjadi gambaran bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat.Merti Dusun Kertosari akhirnya bukan hanya tentang gunungan hasil bumi.

Ia adalah tentang syukur, sejarah, leluhur, kebersamaan dan masa depan.

Sebab ketika sebuah masyarakat masih mau berkumpul untuk mengingat sejarahnya, sesungguhnya mereka sedang menjaga identitasnya.

Dan ketika anak-anak muda ikut menari, membantu kirab, membuat miniatur dan merawat tradisi, berarti budaya itu belum mati.Ia masih bernapas.

Ia masih hidup.

Dan napas itu bernama Kertosari Gumregah, Nyawiji, Memetri Budaya.Budaya lestari, warga sejahtera.

Kertosari hebat, Pringsari guyub rukun. (Juharmanik/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *