Mata Air, Hutan, dan Masa Depan Anak Cucu Jangan Dikalahkan Atas Nama Energi
SEMARANG, Portallensa.com — Rencana pengembangan proyek geothermal di kawasan Gunung Ungaran kembali menuai penolakan. Bagi warga dan aktivis lingkungan, persoalannya bukan semata soal pembangunan pembangkit energi, melainkan tentang apa yang akan terjadi terhadap hutan, mata air, ekosistem, dan ruang hidup masyarakat di sekitar Gunung Ungaran.
Kekhawatiran tersebut mendorong Aliansi KAI Semar Menggugat mengajak masyarakat dan pemerhati lingkungan Kabupaten Semarang mengikuti Koordinasi Penolakan Proyek Geothermal Gunung Ungaran, yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 2 September 2026, pukul 14.30 WIB, di Basecamp Kendalisada, kawasan Gedongsongo, Kabupaten Semarang.
Ajakan tersebut terbuka bagi masyarakat umum dengan seruan “Datang, Bersama, Bergerak!” serta tagline:
“Selamatkan Alam Ungaran, Warisan untuk Anak Cucu Kita.”
Bukan Sekadar Menolak Pembangunan
Bagi kelompok masyarakat yang menolak, Gunung Ungaran bukan sekadar bentang alam yang memiliki potensi energi.
Gunung, hutan, mata air, lahan pertanian, hingga kawasan wisata merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Karena itu, setiap rencana pembangunan di kawasan tersebut dinilai harus menjawab satu pertanyaan mendasar:
Jika energi hari ini diperoleh dengan risiko terhadap sumber kehidupan masyarakat, siapa yang akan menanggung akibatnya di kemudian hari?
Pamflet ajakan aksi menyebut sedikitnya enam alasan penolakan, mulai dari kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, ancaman terhadap mata air, potensi aktivitas seismik, dampak terhadap kesehatan, kelestarian alam dan pariwisata, hingga persoalan keadilan antargenerasi.
Kekhawatiran tersebut tentu menjadi suara masyarakat yang perlu didengar dan diuji secara terbuka melalui kajian teknis maupun proses perizinan yang transparan.
Mata Air Bukan Sekadar Air
Salah satu isu yang paling sensitif adalah keberadaan mata air.
Bagi masyarakat lereng Gunung Ungaran, mata air bukan sekadar sumber air yang keluar dari tanah. Di sanalah kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, dan kehidupan sehari-hari bergantung.
Jika sumber air terganggu, persoalannya bukan hanya persoalan lingkungan.
Itu menyangkut kehidupan manusia.
Karena itu, kekhawatiran warga terhadap potensi perubahan kondisi air akibat aktivitas proyek tidak semestinya dianggap sebagai penghambat pembangunan.
Sebaliknya, kekhawatiran tersebut harus dijawab dengan data yang dapat dibuka kepada publik: bagaimana kondisi mata air sebelum proyek, bagaimana mekanisme perlindungannya, bagaimana pemantauannya, dan siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi perubahan lingkungan.
Energi Bersih, Tetapi Jangan Mengorbankan Ruang Hidup
Geothermal sering ditempatkan sebagai bagian dari solusi energi bersih dan energi terbarukan.
Namun bagi masyarakat, label energi bersih tidak boleh otomatis mengakhiri pertanyaan mengenai dampak lingkungan.
Pembangunan boleh berjalan. Energi boleh dikembangkan. Tetapi keselamatan masyarakat dan kelestarian alam juga harus ditempatkan sebagai batas yang tidak boleh ditawar.
Di sinilah pentingnya keterbukaan informasi.
Masyarakat berhak mengetahui secara jelas lokasi proyek, luasan kawasan, kajian lingkungan, potensi dampak terhadap mata air, mitigasi risiko, mekanisme pengawasan, hingga bentuk perlindungan terhadap masyarakat apabila terjadi dampak yang tidak diharapkan.
Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika keputusan dibuat, lalu diminta menerima ketika persoalan sudah muncul.
Empat Tuntutan
Dalam ajakan tersebut, Aliansi KAI Semar Menggugat membawa empat tuntutan utama:
- Menolak proyek geothermal Gunung Ungaran;
- Menyelamatkan mata air;
- Menjaga kelestarian alam Gedongsongo;
- Mencegah pencemaran udara dan air.
Suara penolakan ini seharusnya tidak berhenti sebagai pertarungan antara kelompok yang disebut “pro pembangunan” melawan kelompok yang disebut “anti pembangunan”.
Persoalannya jauh lebih besar.
Bagaimana pembangunan energi dapat berjalan tanpa membuat masyarakat kehilangan ruang hidupnya?
Gunung Ungaran Bukan Milik Generasi Hari Ini
Gunung Ungaran telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum berbagai proyek pembangunan direncanakan.
Hutan, mata air, tanah dan ekosistemnya bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dikembalikan ketika mengalami kerusakan.
Karena itu, prinsip kehati-hatian menjadi penting.
Jika benar proyek tersebut aman bagi lingkungan, maka data dan kajian harus mampu menjawab kekhawatiran masyarakat.
Jika ada potensi risiko, maka masyarakat berhak mengetahui bagaimana risiko itu dicegah dan siapa yang akan bertanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang berapa megawatt energi yang bisa dihasilkan.
Tetapi juga tentang berapa banyak mata air yang harus tetap mengalir, berapa luas hutan yang harus tetap terjaga, dan apakah anak cucu kelak masih dapat menikmati Gunung Ungaran dalam kondisi yang sama seperti hari ini.
Energi adalah kebutuhan. Pembangunan adalah keniscayaan. Tetapi alam dan kehidupan manusia bukan harga yang boleh dibayar diam-diam.(Kang_Gito/Bang_Gito) .
