KESAKTIAN PANCASILA DI TENGAH GEMPURAN DEGRADASI MENTAL PEJABAT

0
Screenshot_20261001_081026

PORTAL LENSA.COM — Pancasila tidak pernah kekurangan kata-kata untuk dipuja. Setiap 1 Oktober, kita kembali mengucapkan selamat Hari Kesaktian Pancasila, menggelar upacara, mengibarkan bendera, dan mengulang pidato tentang persatuan serta pengabdian kepada bangsa.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting: seberapa sakti Pancasila ketika nilai-nilainya justru diuji oleh perilaku manusia yang diberi amanah mengelola negara?

Para pahlawan telah membayar harga yang mahal untuk mempertahankan republik. Mereka berjuang dengan darah, air mata, bahkan kehilangan nyawa demi sebuah Indonesia yang merdeka dan bermartabat.

Tetapi hari ini, perjuangan itu seolah menghadapi musuh dengan wajah berbeda.

Bukan lagi penjajah bersenjata.

Melainkan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan, konflik kepentingan, dan hilangnya rasa malu ketika amanah rakyat diperlakukan seperti milik pribadi.

Korupsi bukan sekadar persoalan angka dalam laporan penegak hukum. Di balik setiap rupiah uang negara yang diselewengkan, ada hak rakyat yang berpotensi terampas.

Ada sekolah yang seharusnya lebih layak.

Ada jalan yang seharusnya diperbaiki.

Ada pelayanan publik yang seharusnya lebih manusiawi.

Ada rakyat kecil yang setiap hari dipaksa bertahan hidup, sementara sebagian orang yang memperoleh kekuasaan justru tergoda memperkaya diri.

Ironisnya, kata “Pancasila” sering terdengar lantang dari podium, tetapi implementasinya justru melemah ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi.

Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sila ketiga tentang persatuan.

Sila keempat tentang kerakyatan dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan.

Dan sila kelima tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pertanyaannya sederhana: apakah kelima sila itu berhenti sebagai hafalan, atau benar-benar menjadi kompas moral bagi mereka yang memegang kekuasaan?

Sebab Pancasila tidak akan kehilangan kesaktiannya.

Yang berbahaya adalah ketika manusianya kehilangan kesetiaan terhadap nilai-nilai Pancasila.

Hari Kesaktian Pancasila semestinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum untuk bercermin.

Pejabat bukan pemilik negara.

Kekuasaan bukan warisan pribadi.

Jabatan bukan tiket untuk hidup mewah dengan mengorbankan kepentingan rakyat.

Dan uang negara bukan ladang untuk dipanen sesuka hati.

Rakyat mungkin tidak mampu masuk ke ruang-ruang kekuasaan. Tetapi rakyat memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan ingatan untuk mencatat.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah duduk di kursi kekuasaan.

Sejarah juga mencatat apa yang mereka lakukan ketika kursi itu berada di bawah tanggung jawabnya.

Para pahlawan telah mewariskan Indonesia.

Tugas generasi hari ini bukan sekadar menghafal Pancasila, melainkan menyelamatkan nilai-nilainya dari keserakahan manusia.

Jika korupsi terus dianggap biasa, jika penyalahgunaan kewenangan dianggap lumrah, dan jika kepentingan rakyat terus kalah oleh kepentingan segelintir orang, maka yang harus dipertanyakan bukan kesaktian Pancasila.

Tetapi kesetiaan manusia terhadap Pancasila.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila.

Pancasila bukan sekadar dasar negara. Ia adalah janji moral bahwa Indonesia dibangun untuk seluruh rakyat, bukan untuk segelintir mereka yang kebetulan sedang memegang kekuasaan.

Pancasila adalah tonggak kejayaan Indonesia.
Menjaganya bukan tugas seremoni.
Menjaganya adalah keberanian untuk melawan keserakahan, ketidakadilan, dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Penulis : Ali Mahfudi, S.H.

Pemimpin Redaksi Portallensa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *