Kepala Desa Pringsari Zaenal, Rawat Guyub Rukun dan Kedekatan dengan Warga
PRINGAPUS, KABUPATEN SEMARANG —PORTALLENSA.COM- Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis dan individualistis, semangat kebersamaan menjadi modal penting untuk membangun desa. Hal itu terlihat di Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Zaenal.
Sejak dipercaya memimpin Desa Pringsari, Zaenal konsisten mengajak masyarakat menjaga guyub rukun, gotong royong dan kebersamaan. Baginya, pembangunan desa bukan hanya soal jalan, jembatan maupun pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana membangun hubungan yang harmonis antarwarga.
Dalam berbagai kesempatan, baik musyawarah desa, kerja bakti, kegiatan sosial maupun keagamaan, pesan yang disampaikan Zaenal selalu sama.
“Ojo tukaran, ojo pisah-pisah. Kita kuat mergo kita guyub,” ujar Zaenal saat ditemui di Balai Desa Pringsari, 12 Agustus 2026.
Bukan Sekadar Slogan
Semangat guyub rukun tersebut tidak berhenti pada ucapan. Berbagai kegiatan sosial masyarakat terus berjalan, mulai dari santunan anak yatim, perhatian kepada lansia, kegiatan sosial desa maupun program pemerintah, hingga kegiatan ronda malam yang tetap aktif.
Kehadiran Zaenal di tengah masyarakat juga mendapat apresiasi. Bahkan, ia tidak segan turun langsung menyambangi pos ronda dari RT ke RT untuk melihat kondisi sekaligus berkomunikasi dengan warga.

Sejumlah warga mengaku merasa lebih dekat dengan pemerintah desa karena kepala desa mau hadir dan berbaur langsung bersama masyarakat.
Ibu Lin, warga Dusun Tempelsari, mengatakan suasana kebersamaan masyarakat kini semakin terasa.
“Dulu jarang kumpul. Sekarang setiap ada acara desa ataupun dusun pasti ramai. Kami merasa didekati dan diayomi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan warga yang bertugas ronda malam. Mereka mengaku senang sekaligus berterima kasih karena kepala desa masih menyempatkan diri berpatroli dan menyambangi pos ronda.
Perselisihan Diselesaikan dengan Musyawarah
Bagi Zaenal, persoalan antarwarga tidak seharusnya dibiarkan berkembang menjadi konflik. Karena itu, setiap muncul persoalan, pendekatan musyawarah dan kekeluargaan menjadi pilihan utama.
Seorang Ketua RT, Pak RT 12, menuturkan bahwa penyelesaian persoalan sering dilakukan secara sederhana dan penuh kekeluargaan.
“Diajak ngopi bareng di balai desa ataupun di wilayah warga tersebut. Selesai dengan guyon dan salaman,” katanya.
Cara tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan di tingkat desa tidak selalu harus formal. Kedekatan, komunikasi dan kemauan mendengar keluhan warga justru menjadi kekuatan untuk menjaga kondusivitas masyarakat.
Tokoh masyarakat, Ustaz Wahyu, juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Zaenal.
“Pemimpin yang ngerti agama dan ngerti warganya. Selalu mengingatkan: bersama bahagia, bersatu kita kuat,” ujarnya.
Pemimpin yang Hadir di Tengah Masyarakat
Di mata masyarakat, sosok pemimpin yang dibutuhkan bukan hanya pandai menyampaikan slogan, tetapi mampu menjadi teladan dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Zaenal menilai jabatan kepala desa merupakan sebuah amanah.
“Jabatan ini titipan. Tugas saya bukan hanya membangun jalan dan jembatan ataupun pembangunan fisik lainnya, tetapi juga membangun kebersamaan warga,” tegasnya.
Ia berharap semangat guyub rukun yang selama ini tumbuh di Pringsari dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
“Desa maju itu bukan karena anggarannya besar, tapi karena warganya kompak,” pungkas Zaenal.
Harapan untuk Pringsari Semakin Maju
Masyarakat berharap kepemimpinan Zaenal dapat terus membawa Desa Pringsari semakin maju, baik di sektor pertanian, usaha masyarakat maupun bidang pembangunan lainnya.
Warga juga berharap berbagai persoalan yang muncul di lingkungan perumahan maupun masyarakat dapat terus mendapatkan perhatian dan difasilitasi pemerintah desa.
Sebab, bagi masyarakat Pringsari, kepala desa bukan hanya pejabat pemerintahan, tetapi juga sosok yang diharapkan mampu menjadi pengayom, tempat menyampaikan keluhan dan Bapak bagi seluruh warga desa.
Dengan semangat “Guyub Rukun, Bersama Bahagia, Bersatu Kita Kuat”, Pringsari menunjukkan bahwa kemajuan desa tidak hanya dibangun dengan anggaran dan infrastruktur, tetapi juga dengan kebersamaan, kepedulian dan kepemimpinan yang merakyat. ( juharmanik/Bang_Ali ).

