JATENG GUYUB BANGUN KEKUATAN, Rakyat Bergerak Menagih Janji “Ngopeni”
Portallensa.com | Jawa Tengah — Hari Tani Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, bukan pula sekadar panggung untuk mengucapkan selamat kepada para petani. Bagi Jateng Guyub, momentum 24 September harus menjadi ruang untuk kembali mengingatkan bahwa tanah, air, pangan, dan lingkungan hidup bukan milik segelintir kepentingan.
Atas dasar itu, Jateng Guyub mengajak berbagai elemen masyarakat Jawa Tengah untuk hadir, bersolidaritas dan menyampaikan aspirasi dalam aksi yang direncanakan berlangsung 22–24 September 2026 di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Yang hendak disatukan bukan sekadar massa, melainkan berbagai persoalan rakyat yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Petani dengan persoalan tanahnya. Buruh dengan persoalan kesejahteraannya. Pedagang kaki lima dengan ruang hidupnya. Mahasiswa dengan kegelisahannya. Nelayan dengan persoalan sumber daya pesisir. Ojol dengan persoalan pekerjaan. Pemerhati lingkungan dengan keresahan atas kerusakan alam.
Termasuk perempuan yang memperjuangkan haknya, pekerja seni dan budaya, budayawan, pemuda, komunitas, hingga masyarakat miskin kota dan desa.
Pesannya sederhana: keresahan boleh berbeda, tetapi kepentingan untuk hidup layak adalah kepentingan bersama.
Tanah, Air dan Pangan Bukan Sekadar Angka
Jateng Guyub menempatkan Hari Tani Nasional sebagai momentum untuk mempertemukan berbagai persoalan tersebut.
Sebab ketika tanah semakin sulit diakses rakyat, persoalannya tidak berhenti pada petani.
Ketika sumber air terancam, yang terdampak bukan hanya warga di sekitar lokasi.
Ketika lahan pertanian menyusut, dampaknya bukan hanya pada petani, tetapi juga pada ketersediaan dan harga pangan.
Dan ketika lingkungan rusak, tagihannya pada akhirnya dibayar masyarakat.
Karena itu, Jateng Guyub mendorong solidaritas lintas sektor sebagai kekuatan sipil untuk menyuarakan kepentingan rakyat secara terbuka dan damai.
Persoalan petani adalah persoalan pangan kita.
Persoalan tanah adalah persoalan kehidupan kita.
Persoalan air adalah persoalan masa depan kita.
Persoalan lingkungan adalah persoalan seluruh masyarakat.
Dari “Guyub” Menjadi Kekuatan Rakyat
Di tengah berbagai persoalan sosial yang muncul di Jawa Tengah, istilah Guyub mendapatkan makna yang lebih luas.
Bukan sekadar berkumpul.
Bukan sekadar membuat acara.
Tetapi bagaimana berbagai kelompok masyarakat dapat duduk bersama, bertukar persoalan, menyatukan suara, dan mengawal kebijakan publik yang bersentuhan langsung dengan kehidupan rakyat.
Jateng Guyub menyebut momentum ini sebagai upaya membangun kekuatan rakyat—kekuatan yang lahir dari solidaritas, kepedulian, keberanian menyampaikan pendapat, serta kesadaran bahwa masyarakat memiliki hak untuk didengar.
Aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pun bukan semata persoalan lokasi.
Ada pesan politik-sosial yang hendak disampaikan: ketika rakyat memiliki persoalan, pemerintah harus hadir dan mendengar.
Sebab pemerintahan bukan hanya soal jabatan, gedung, dan kewenangan.
Ada rakyat yang harus diurus.
Ada kehidupan yang harus dilindungi.
Ada janji yang harus dibuktikan.“Nagih Sing Janji Ngopeni”
Di sinilah kalimat “NAGIH SING JANJI NGOPENI” menjadi menarik.
Kalimat sederhana dalam bahasa rakyat, tetapi memiliki makna yang cukup dalam.
Ngopeni bukan sekadar memerintah.
Ngopeni berarti merawat, menjaga, melindungi dan memastikan rakyat tidak ditinggalkan ketika berhadapan dengan persoalan.
Maka yang ditagih bukan sekadar janji politik.
Yang ditagih adalah kehadiran dan keberpihakan kebijakan kepada rakyat.
Rakyat tidak hanya membutuhkan slogan tentang kesejahteraan. Mereka membutuhkan tanah yang adil, pangan yang terjangkau, pekerjaan yang layak, air yang terjaga, serta lingkungan hidup yang tidak dikorbankan demi kepentingan tertentu.
TANAH KANGGO RAKYAT, BANYU SUMBER PANGURIPAN
Jateng Guyub menyerukan agar Hari Tani Nasional 2026 tidak berhenti sebagai peringatan seremonial.
Momentum tersebut diharapkan menjadi ruang konsolidasi masyarakat, mempertemukan berbagai persoalan rakyat, sekaligus menyampaikan aspirasi kepada pemerintah Jawa Tengah.
Tanah kanggo rakyat.
Banyu sumber panguripan.
Dan satu kalimat yang menjadi penutup sekaligus pesan utama:
“NAGIH SING JANJI NGOPENI.”
Aksi dijadwalkan berlangsung 22–24 September 2026 di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, dengan mengedepankan penyampaian aspirasi secara tertib,terbuka, dan damai. (Tim Media Jateng guyup/Bang_Ali).
