Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Boyolali Padukan Spiritualitas dan Kesenian Tradisional
BOYOLALI, PORTALLENSA.COM – Suasana religius berpadu dengan semarak budaya mewarnai Padepokan Darul Hidayah Al-Karomah, Karanggede, Blumbang Wetan, Kabupaten Boyolali. Di bawah asuhan Si Mbah Bagus Maulana Bela Belu (Kyai Anom Chambali Mudho Ningrum) yang akrab disapa Mbah Gombel, digelar Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Eyang Gembong Singo Yudho, dan Eyang Onggo Leksono.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu, 25 Juli 2026 dan akan berlangsung hingga 1 Agustus 2026. Acara ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus melestarikan warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Sejak pembukaan, ribuan jamaah dan masyarakat dari Boyolali, Salatiga, serta sejumlah daerah sekitar memadati lokasi padepokan. Mereka tidak hanya mengikuti rangkaian doa dan haul, tetapi juga menikmati pertunjukan seni tradisional yang menjadi bagian dari kemeriahan acara.
Kesenian Reog tampil memukau melalui paguyuban Turonggo Jati Bengle, Turonggo Mudho, dan Ibunda Salatiga. Berbagai atraksi khas Reog yang penuh semangat dan keberanian berhasil memikat perhatian penonton dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua.
Bagi masyarakat, perpaduan antara kegiatan keagamaan dan pelestarian budaya menjadi daya tarik tersendiri. Selain memperkuat nilai-nilai spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga lintas daerah.
Puncak rangkaian Haul Akbar akan ditutup dengan Pengajian Akbar yang menghadirkan KH. Muhammad Syafi’i, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Kedawung, Sragen. Tausiyah yang akan disampaikan diharapkan mampu memberikan siraman rohani, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan semangat persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Pengasuh Padepokan Darul Hidayah Al-Karomah, Mbah Gombel, berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan, menjaga tradisi para ulama dan leluhur, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi muda.
Haul Akbar ini menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan dan budaya lokal dapat berjalan beriringan sebagai kekuatan dalam menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Semangat gotong royong, kekeluargaan, dan kecintaan terhadap warisan budaya menjadi pesan yang terus hidup melalui kegiatan tersebut.( Mbah Sugeng/Bang_Ali).

