Gus Widi Tegas Menolak Rencana Geothermal Gunung Ungaran: “Kita Beri Mata Air, Jangan Air Mata

0
IMG-20260909-WA0010

KABUPATEN SEMARANG, PortalLensa.com — Polemik rencana eksplorasi dan eksploitasi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran kembali menjadi sorotan. Kali ini, penolakan disampaikan oleh PWI LS (Pejuang Walisongo Laskar Sabilillah) Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, di bawah kepemimpinan Gus Widiyono (Gus Widi).

Bersama pengurus dan anggota PWI LS Kecamatan Pringapus, Gus Widi menyatakan penolakan tegas terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Ungaran.

Menurut Gus Widi, sikap tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan penolakan terhadap pembangunan.

Pihaknya mempertanyakan apakah rencana pengembangan energi tersebut telah mempertimbangkan keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan Gunung Ungaran.

“Gunung Ungaran bukan hanya gunung. Ia adalah sejarah, sumber kehidupan, dan identitas kami. Lestarikan Gunung Ungaran untuk anak cucu kita,” tegas Gus Widi.

Bukan Sekadar Persoalan EnergiMenurut Gus Widi, Gunung Ungaran memiliki nilai sejarah dan budaya yang tidak dapat diukur hanya berdasarkan kalkulasi ekonomi maupun kebutuhan energi.

Di lereng Gunung Ungaran terdapat berbagai situs sejarah, candi, petilasan, mata air, serta jejak kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, rencana eksplorasi panas bumi harus dikaji secara menyeluruh. Jangan sampai proyek yang diklaim untuk memenuhi kebutuhan energi justru mengorbankan warisan sejarah dan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan apabila mengalami kerusakan.

Pertanyaannya sederhana: jika sumber mata air rusak, ekosistem berubah, dan kawasan budaya terganggu, siapa yang akan menanggung dampaknya puluhan tahun kemudian?

Gus Widi menilai bahwa pembangunan tidak boleh hanya memperhitungkan nilai investasi dan produksi energi, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai ekologis, sosial, budaya, serta keselamatan masyarakat.

Kekhawatiran terhadap Sumber Air dan Ekosistem

Penolakan tersebut juga didasarkan pada kekhawatiran terhadap kelestarian lingkungan.

Gunung Ungaran selama ini menjadi salah satu kawasan penting bagi keberadaan sumber air dan ekosistem di Kabupaten Semarang. Masyarakat di sekitar kawasan tersebut juga menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan pariwisata.

Gus Widi mengingatkan bahwa setiap kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi di kawasan pegunungan memiliki konsekuensi yang harus dikaji secara serius dan menyeluruh.

Bagi masyarakat, air bukan sekadar komoditas.

Air adalah kehidupan.

Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi memengaruhi sumber air harus disampaikan secara transparan kepada publik serta melibatkan masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

Jangan Sampai Masyarakat Hanya Menjadi Penonton

Gas Widi juga meminta pemerintah tidak menempatkan masyarakat hanya sebagai objek kebijakan pembangunan.

Menurutnya, masyarakat lokal harus memperoleh ruang yang memadai untuk menyampaikan pendapat, keberatan, maupun kekhawatiran sebelum keputusan strategis terkait Gunung Ungaran ditetapkan.

Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kabupaten Semarang diminta mendengarkan aspirasi masyarakat serta melaksanakan kajian secara terbuka dan komprehensif.

PWI LS Kecamatan Pringapus menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain membatalkan seluruh izin terkait eksplorasi dan eksploitasi panas bumi di Gunung Ungaran, menetapkan kawasan Gunung Ungaran sebagai kawasan konservasi dan warisan budaya yang dilindungi, serta melibatkan masyarakat lokal dalam setiap kebijakan pengelolaan lingkungan.

Menolak Gerakan Ditunggangi Kepentingan

Gus Widi juga mengingatkan agar gerakan penolakan terhadap rencana panas bumi tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu.

Ia meminta masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat memastikan perjuangan tersebut tidak berubah menjadi kendaraan politik, kepentingan bisnis, maupun pemicu konflik antarwarga.

“Kami menolak keras adanya penunggang kepentingan. Jangan sampai gerakan ini ditumpangi oknum yang memiliki kepentingan pribadi maupun golongan,” tegasnya.

Menurutnya, perjuangan untuk menjaga Gunung Ungaran harus tetap berlandaskan kepentingan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan pelestarian sejarah.

Bagi PWI LS, persoalan ini bukan momentum untuk mencari panggung, melainkan bagian dari upaya menjaga marwah kawasan yang memiliki nilai sejarah dan menjadi sumber kehidupan masyarakat.

“Kita Beri Mata Air, Jangan Air Mata”

Gus Widi menegaskan bahwa pihaknya berharap pemerintah pusat tidak mengabaikan aspirasi masyarakat Kabupaten Semarang.

Ia meminta pemerintah mengambil sikap tegas terhadap rencana pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran serta mempertimbangkan pembatalan proyek tersebut apabila dinilai berpotensi mengancam lingkungan, sumber air, situs budaya, dan kehidupan masyarakat.

Pesan Gus Widi kemudian dirangkum dalam sebuah pernyataan yang tegas dan simbolis:

“Marilah untuk anak cucu kita. Kita beri mata air, jangan air mata.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bagi masyarakat Pringapus, Gunung Ungaran bukan sekadar bentang alam yang dapat dinilai berdasarkan potensi energinya.

Ia adalah ruang hidup.

Ia adalah sumber air.

Ia adalah sejarah.

Bagi sebagian masyarakat, Gunung Ungaran juga merupakan bagian dari identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini, keputusan berada di tangan pemerintah.

Apakah aspirasi masyarakat akan menjadi bagian utama dalam menentukan masa depan Gunung Ungaran, ataukah pembangunan energi akan tetap berjalan dengan pendekatan yang berorientasi pada proyek semata?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka kepada Masyarakat

Jangan sampai ketika mata air mengering, masyarakat baru sibuk mencari pihak yang harus bertanggung jawab.(Juharmanik/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *