DENGAR ISU PANAS BUMI GUNUNG UNGARAN, WARGA GEDONGSONGO INGIN MENTERI DENGARKAN CERITA SITUS
UNGARAN —PORTALLENSA.COM– Rencana pengembangan panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran kembali memantik kegelisahan warga. Di lereng Gunung Ungaran, khususnya sekitar kawasan Candi Gedongsongo, kekhawatiran masyarakat ternyata bukan semata soal air, kebun atau aktivitas pengeboran.
Ada sesuatu yang lebih tua dari proyek, lebih panjang dari umur pemerintahan, dan lebih mahal daripada sekadar hitungan investasi: warisan sejarah dan ruang hidup masyarakat.
“Kalau Gunung Ungaran dibor, situs-situs ini mau jadi apa?” ujar Sonhaji, S.E., S.H.I., tokoh penggiat pertanian, seni dan budaya di kawasan Candi Bandungan, Minggu (13/9/2026).
Bagi masyarakat sekitar, Gedongsongo bukan hanya destinasi wisata. Sembilan bangunan candi Hindu yang tersebar di lereng Gunung Ungaran dipandang sebagai bagian dari jejak peradaban masa lalu sekaligus kawasan yang memiliki nilai budaya dan spiritual.
Karena itu, ketika muncul pembicaraan mengenai eksplorasi panas bumi, pertanyaan warga pun sederhana: sudahkah seluruh kekayaan sejarah di bawah dan sekitar kawasan itu benar-benar diketahui?
Jangan Sampai Yang Belum Ditemukan Sudah Lebih Dulu Rusak
Warga dan pegiat budaya menyebut masih terdapat berbagai temuan dan cerita lokal yang diyakini berkaitan dengan jejak peradaban lama.
Mulai dari batu berukir, umpak yang ditemukan di sejumlah lokasi, mata air yang dipercaya memiliki nilai sejarah, hingga cerita tutur mengenai jalur kuno dan perjalanan para pertapa menuju kawasan Gunung Ungaran.
Sebagian tentu masih membutuhkan penelitian arkeologis untuk memastikan nilai dan konteks sejarahnya.
Justru karena itulah warga meminta kajian menyeluruh dilakukan sebelum aktivitas yang berpotensi mengubah bentang alam dimulai.
“Leluhur kami bilang, Gunung Ungaran ini jangan dirusak. Kalau dibor untuk geothermal, yang rusak jangan sampai bukan hanya tanahnya, tetapi sejarahnya juga hilang,” kata Sonhaji.
Warga Tidak Anti Energi, Mereka Ingin Didengar
Kekhawatiran tersebut tidak otomatis berarti masyarakat menolak perkembangan energi terbarukan.
Yang dipersoalkan warga adalah ketika pembicaraan mengenai energi seolah lebih cepat daripada pembicaraan mengenai air, situs, lingkungan, keselamatan dan masa depan masyarakat sekitar.
Apalagi Gunung Ungaran merupakan satu kesatuan bentang alam. Perubahan pada satu kawasan, menurut kekhawatiran warga, harus diperhitungkan dampaknya terhadap kawasan lain.
Seorang pemuda setempat bahkan mempertanyakan kemungkinan dampak aktivitas pengeboran terhadap bangunan cagar budaya.
“Candi Gedongsongo sudah berusia ratusan tahun. Kalau ada aktivitas berat dan kemudian terjadi kerusakan, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya.
Pertanyaan itu semestinya tidak dijawab dengan emosi.
Jawabannya harus berupa data.
Warga Meminta Pemerintah Turun Mendengar
Masyarakat Gedongsongo berharap pemerintah pusat, termasuk kementerian terkait, tidak hanya menerima laporan administratif mengenai potensi panas bumi Gunung Ungaran.
Mereka ingin pemerintah datang, melihat langsung kawasan, mendengarkan petani, juru pelihara situs, budayawan, pelaku wisata, pemuda, serta masyarakat yang hidup berdampingan dengan Gunung Ungaran setiap hari.
Sebab bagi warga, Gunung Ungaran bukan sekadar titik koordinat dalam peta proyek.
Ia adalah sumber air, lahan pertanian, ruang budaya, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari identitas masyarakat.
Karena itu, warga menyuarakan sejumlah tuntutan: penghormatan terhadap kawasan Gedongsongo, kajian arkeologi dan lingkungan secara menyeluruh, keterbukaan informasi, serta pelibatan masyarakat dalam setiap tahapan kebijakan.
Mereka juga mendorong agar kawasan yang memiliki nilai sejarah dan ekologis tersebut mendapatkan perlindungan yang kuat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Jangan Sampai Energi Menjadi Alasan Melupakan Sejarah
Kekhawatiran lain datang dari sektor pariwisata.
Gedongsongo selama ini dijual bukan karena gedung beton atau mesin industri. Wisatawan datang karena lanskap pegunungan, udara, kabut, candi, sejarah dan suasana alamnya.
“Wisatawan datang karena suasananya masih alami. Kalau kawasan ini berubah dan kehilangan karakter, kami juga yang kehilangan penghasilan,” ungkap warga.
Di titik inilah pemerintah menghadapi pekerjaan yang tidak sederhana.
Energi terbarukan memang penting. Tetapi pelestarian sejarah juga bukan pilihan tambahan.
Keduanya harus ditempatkan dalam satu meja pembahasan yang terbuka, ilmiah dan melibatkan masyarakat.
Sebab ketika sebuah situs rusak, ia tidak bisa dibuat kembali seperti semula.
Dan ketika mata air kehilangan sumbernya, uang tidak selalu mampu mengembalikan kehidupan yang telah hilang.
Gunung Ungaran bukan sekadar tempat menyimpan panas bumi. Ia juga menyimpan jejak manusia, sejarah, budaya, air dan kehidupan.
Maka sebelum suara mesin pengebor terdengar di lerengnya, warga meminta satu hal yang jauh lebih sederhana:
Dengarkan dulu suara masyarakat yang hidup di sana.
Gunung Ungaran adalah museum alam yang masih hidup. Jangan buru-buru mengebor sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dijaga oleh masyarakat.(Juharmanik/Bang_Ali).
