Api Kembali Menggigit Gunung Andong, 1,2 Hektare Hutan Terbakar

0
IMG_20260916_192834

MAGELANG —portallensa.com– Gunung Andong kembali diselimuti asap. Kebakaran hutan terjadi di kawasan Pagergunung, Kabupaten Magelang, Selasa (15/9/2026) sore.

Api pertama kali diketahui sekitar pukul 15.00 WIB, ketika anggota basecamp melihat kepulan asap dari kawasan hutan. Dari kepulan yang semula terlihat tipis, api kemudian membakar vegetasi di kawasan Petak 27A1.

KRPH Pagergunung, Samhari, menyebut luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 1,2 hektare.

Vegetasi yang terbakar cukup beragam. Krinyu, ilalang, kaliandra, pakis hingga pohon pinus menjadi bagian dari kawasan yang terdampak kobaran api.

Di tengah kondisi tersebut, upaya pemadaman langsung dilakukan. Sekitar 40 personel dari berbagai unsur turun ke lapangan. Mereka berasal dari Basecamp Temu Kidul, Pendem, Polsek Ngablak, Koramil, LMDH, MPA hingga komunitas SAR.

Bukan pekerjaan mudah.

Medan yang curam, ditambah keberadaan jurang dan bebatuan, membuat setiap langkah menuju titik api harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Bagi para petugas, memadamkan api di gunung bukan sekadar membawa peralatan menuju lokasi kebakaran.

Mereka harus berhadapan dengan medan yang tidak bersahabat, sementara api bisa bergerak mengikuti kondisi vegetasi dan arah angin.

Sore berganti malam. Namun perjuangan belum selesai.

Dalam kondisi cahaya yang semakin terbatas, petugas tetap berupaya mengendalikan kobaran api. Keselamatan personel menjadi bagian penting dalam proses pemadaman karena kawasan yang terbakar berada di medan yang terjal.

Di balik peristiwa tersebut, ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar luas lahan yang terbakar.

Hutan di lereng gunung bukan hanya kumpulan pohon. Di sana terdapat tumbuhan yang tumbuh bertahun-tahun, menjadi tempat hidup berbagai satwa dan membantu menjaga keseimbangan lingkungan.

Ketika vegetasi terbakar, yang hilang bukan hanya warna hijau yang terlihat dari kejauhan. Lapisan kehidupan di dalamnya ikut terdampak.

Bagi masyarakat yang hidup di sekitar pegunungan, hutan juga memiliki arti yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kawasan hutan berkaitan dengan tata air, tanah, udara dan keberlangsungan lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, kebakaran hutan selalu meninggalkan kekhawatiran.

Terlebih ketika api muncul pada musim dengan kondisi vegetasi yang mudah terbakar. Sedikit percikan dapat berkembang menjadi persoalan besar apabila tidak segera diketahui dan dikendalikan.

Peristiwa di Gunung Andong kali ini juga memperlihatkan sisi lain yang jarang terlihat dari sebuah kebakaran hutan: orang-orang yang berjalan mendekati api ketika sebagian orang justru memilih menjauh.

Puluhan personel dari berbagai unsur harus bekerja bersama menghadapi medan berat demi mencegah api meluas.

Mereka mungkin tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Tidak ada panggung, tidak ada sorotan lampu. Hanya asap, panas, lereng terjal dan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kebakaran Gunung Andong akhirnya bukan hanya cerita tentang api.

Ini adalah cerita tentang hutan yang harus dijaga, tentang alam yang rentan ketika kondisi mengering, dan tentang orang-orang yang berusaha berdiri di antara api dan kawasan hutan yang masih tersisa.

Sebab ketika satu bagian hutan terbakar, yang seharusnya menjadi perhatian bukan hanya berapa hektare yang hilang, tetapi juga apa yang akan dirasakan manusia dan lingkungan setelah api benar-benar padam.

Kini, harapannya sederhana: api segera dapat dikendalikan, tidak meluas, dan kawasan hutan Gunung Andong kembali tenang.

Karena hutan tidak pernah meminta banyak.

Ia hanya ingin tetap tumbuh, tetap hijau, dan tetap menjadi rumah bagi kehidupan.(Tomi/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *