Antrian Panjang Pertalite di Kabupaten Semarang, Masyarakat Kecil Kembali Menanggung Beban

0

“Kami ini masyarakat kecil. Antre lama menyita waktu. Kalau Pertalite habis, akhirnya terpaksa beli Pertamax yang lebih mahal, padahal uangnya sudah ada peruntukannya sendiri,” ujarnya.

IMG-20260714-WA0003

PORTALLENSA.COM | Kabupaten Semarang, 14 Juli 2026 – Pemandangan antrean panjang kendaraan roda dua di sejumlah SPBU yang menjual BBM bersubsidi jenis Pertalite kembali menjadi keluhan masyarakat. Kondisi ini hampir setiap hari terjadi di beberapa titik SPBU di wilayah Kabupaten Semarang dan memicu pertanyaan mengenai efektivitas distribusi BBM bersubsidi di lapangan.

 

Berdasarkan pantauan PortalLensa.com pada Senin (13/7/2026), puluhan sepeda motor tampak mengular mengantre untuk mendapatkan Pertalite. Tidak sedikit pengendara yang harus menunggu cukup lama hanya untuk mengisi beberapa liter bahan bakar.

 

Ironisnya, ketika tim mencoba mencari SPBU lain, beberapa petugas menyampaikan bahwa stok Pertalite telah habis. Pengendara kemudian diarahkan membeli Pertamax yang harganya jauh lebih tinggi.

 

Bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, pilihan tersebut bukanlah keputusan yang mudah. Namun demi menghindari kehabisan BBM di tengah perjalanan, banyak yang akhirnya terpaksa membeli Pertamax meski harus mengorbankan anggaran kebutuhan rumah tangga lainnya.

 

Yang menjadi perhatian, tim PortalLensa.com kemudian melakukan pemantauan di salah satu SPBU yang sebelumnya menyatakan stok Pertalite habis sambil menunggu pengiriman dari mobil tangki Pertamina. Selama sekitar empat jam melakukan observasi, tidak terlihat adanya mobil tangki yang datang melakukan pengisian. Namun setelah beberapa waktu, dispenser Pertalite kembali dibuka dan melayani pembelian masyarakat.

 

Temuan tersebut tentu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah benar stok saat itu telah habis, atau terdapat mekanisme operasional lain yang menyebabkan penjualan Pertalite sempat dihentikan? Pertanyaan ini penting dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi maupun berkurangnya kepercayaan publik terhadap pelayanan SPBU.

 

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah beberapa kali menyampaikan bahwa stok BBM nasional, termasuk Pertalite, berada dalam kondisi aman. Apabila stok nasional memang mencukupi, maka persoalan yang dirasakan masyarakat diduga lebih berkaitan dengan distribusi, penyaluran, kuota, atau pengelolaan operasional di tingkat lapangan yang perlu mendapat evaluasi.

 

Budiono, salah seorang warga Kabupaten Semarang, mengaku antrean panjang sudah menjadi pemandangan yang sering terjadi.

 

“Kami ini masyarakat kecil. Antre lama menyita waktu. Kalau Pertalite habis, akhirnya terpaksa beli Pertamax yang lebih mahal, padahal uangnya sudah ada peruntukannya sendiri,” ujarnya.

 

Kondisi seperti ini tidak hanya menghabiskan waktu masyarakat, tetapi juga menambah beban ekonomi keluarga. Selisih harga antara Pertalite dan Pertamax memang terlihat kecil dalam sekali pengisian, namun jika terus berulang, dampaknya cukup signifikan bagi para pekerja harian, pelaku UMKM, maupun masyarakat berpenghasilan rendah.

 

Pemerintah, Pertamina, dan pengelola SPBU diharapkan dapat memberikan penjelasan yang transparan mengenai penyebab sering terjadinya antrean panjang maupun penghentian sementara penjualan Pertalite. Transparansi menjadi penting agar masyarakat memperoleh kepastian pelayanan sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap penyaluran BBM bersubsidi.

 

BBM bersubsidi pada hakikatnya merupakan bentuk kehadiran negara untuk membantu masyarakat. Karena itu, distribusi yang tepat sasaran, pelayanan yang terbuka, dan pengawasan yang optimal menjadi kunci agar tujuan subsidi benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. ( Kang_Gito/Bang_Ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *