PILKADES SERENTAK KABUPATEN SEMARANG: BANYAK JANJI, JANGAN LUPA ISI!

0
Screenshot_20261027_084449

KABUPATEN SEMARANG —PORTALENSA.COM -+ Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Semarang semakin menarik untuk dicermati. Berbagai latar belakang ikut meramaikan bursa calon. Mulai dari mantan anggota dewan, sarjana yang baru lulus, petahana yang ingin melanjutkan kekuasaan, hingga pendatang baru yang menawarkan harapan perubahan. Bahkan, ada pula calon yang datang dari luar kecamatan.

Panggung demokrasi desa pun semakin meriah. Ada yang menjual perubahan, pembaruan, digitalisasi pelayanan, hingga keberlanjutan pembangunan. Semuanya terdengar meyakinkan. Kalau hanya mendengarkan pidato, rasanya desa bisa langsung naik kelas, pelayanan serba digital, jalan mulus, dan warga hidup tenteram tanpa perlu mengelus dada.

Tetapi tunggu dulu! Memimpin desa bukan lomba merangkai kata-kata indah, apalagi sekadar adu spanduk dan baliho.

Sebab, memimpin desa bukan hanya soal siapa yang paling pandai berjanji, melainkan siapa yang paling mampu membuktikan.

Mantan anggota dewan tentu memiliki pengalaman politik. Sarjana muda mungkin membawa gagasan segar. Petahana punya catatan kinerja yang bisa dinilai, sementara pendatang baru berhak menawarkan perubahan. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk meyakinkan masyarakat.

Namun, jabatan kepala desa bukan panggung untuk menguji coba kemampuan dengan uang rakyat sebagai biaya praktiknya.

Di sinilah rekam jejak menjadi penting. Bukan sekadar gelar akademik, jabatan masa lalu, kedekatan dengan tokoh tertentu, atau kemampuan mengobral janji menjelang pencoblosan.

Masyarakat perlu bertanya: Apa yang sudah dikerjakan? Bagaimana sikapnya ketika menghadapi persoalan? Mampukah ia mengelola anggaran, merangkul perbedaan, dan mempertanggungjawabkan keputusan?

Sebab, percaya diri itu perlu, tetapi sadar diri jauh lebih penting.

Orang Jawa punya pepatah yang layak menjadi pengingat bagi setiap calon pemimpin: “Iso rumongso, ojo rumongso iso.” Artinya, mampu menempatkan diri dan menyadari kemampuan jauh lebih penting daripada merasa paling mampu.

Jangan sampai baru memasang baliho sudah merasa menjadi pemimpin besar, baru mengumpulkan pendukung sudah merasa paling dikehendaki rakyat, dan baru mengucapkan visi-misi sudah menganggap persoalan desa selesai.

Padahal, setelah dilantik, yang dihadapi bukan lagi tepuk tangan pendukung, melainkan jalan rusak, persoalan administrasi, kebutuhan warga, pengelolaan anggaran, dan segudang persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan senyum di depan kamera.

JANGAN CUMA SIAP MENANG, TAPI GAGAP SAAT KALAH

Ada satu hal lagi yang tak kalah penting: kedewasaan berdemokrasi.

Calon kepala desa harus siap menang sekaligus siap kalah. Jangan sampai ketika menang merasa menjadi raja kecil, sementara ketika kalah mendadak merasa demokrasi sedang tidak baik-baik saja.

Lebih berbahaya lagi jika demi kemenangan, segala cara dianggap halal. Politik uang, intimidasi, fitnah, hingga upaya memecah belah warga bukanlah bukti kehebatan seorang calon, melainkan tanda bahwa ambisi bisa lebih besar daripada kedewasaan.

Ada pula fenomena yang lebih rumit: tidak siap kalah, tetapi juga tidak siap menang.

Ketika kalah, tidak bisa menerima hasil. Ketika menang, tidak siap menghadapi tanggung jawab. Kalau begini, masyarakat bisa-bisa hanya kebagian repotnya, sementara calon sibuk mengurus egonya sendiri.

Demokrasi desa bukan pertandingan untuk membuktikan siapa paling sakti. Ini adalah proses memilih orang yang paling layak diberi amanah.

JANGAN SAMPAI RAKYAT MEMBELI KUCING DALAM KARUNG

Masyarakat juga perlu berhati-hati. Jangan sampai pilihan politik ditentukan oleh amplop, uang transportasi, sembako, atau janji manis sesaat.

Uang yang diterima hari ini mungkin habis dalam sehari, sedangkan dampak salah memilih pemimpin bisa dirasakan selama bertahun-tahun.

Jangan pula memilih hanya karena calon masih saudara, teman dekat, satu kelompok, atau rajin menyapa ketika musim Pilkades tiba. Sebab, kedekatan personal tidak otomatis menjamin kemampuan memimpin.

Ketika seseorang sudah menjabat, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar pemimpin yang pandai menyapa, melainkan pemimpin yang mau mendengar, berani mengambil keputusan, mampu bekerja, dan bersedia dikritik.

Kalau sebelum terpilih saja sulit menerima kritik, bagaimana nanti ketika harus mengelola pemerintahan desa yang melibatkan banyak kepentingan?

Jangan sampai masyarakat membeli kucing dalam karung, lalu baru sadar setelah karungnya dibuka bahwa yang dibeli bukan solusi, melainkan masalah baru.

KEMENANGAN SEJATI ADALAH KEMENANGAN MASYARAKAT

Pilkades seharusnya menjadi momentum memperbaiki masa depan desa, bukan ajang mempertontonkan ambisi, gengsi, dan permusuhan.

Siapa pun yang terpilih nanti, dialah yang harus membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat bukan hadiah untuk dinikmati, melainkan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan.

Kepala desa terpilih harus mampu merangkul mereka yang memilihnya maupun yang tidak memilihnya. Sebab, setelah pemilihan selesai, tidak ada lagi istilah warga kubu A atau kubu B. Yang ada adalah satu desa dengan kepentingan bersama.

Jangan sampai kemenangan calon justru menjadi awal penderitaan masyarakat karena pemimpinnya tidak mampu menjalankan tugas.

Jangan pula desa berubah menjadi panggung balas dendam politik, tempat lawan dipinggirkan, kritik dianggap permusuhan, dan jabatan diperlakukan seperti hak milik pribadi.

Ingat, kepala desa dipilih untuk mengurus desa, bukan agar desa sibuk mengurus perasaan kepala desanya.

Pada akhirnya, masyarakatlah yang menentukan. Pilih berdasarkan rekam jejak, kapasitas, integritas, dan kesungguhan bekerja. Bukan semata-mata karena janji yang terdengar merdu atau baliho yang terlihat paling megah.

Sebab, desa tidak membutuhkan pemimpin yang hanya hebat saat kampanye. Desa membutuhkan pemimpin yang tetap hebat ketika kamera mati, sorak-sorai pendukung menghilang, dan persoalan warga mulai mengetuk pintu kantor desa.

Pilkades bukan sekadar memilih siapa yang menang. Pilkades adalah menentukan siapa yang layak diberi kepercayaan.

Jangan sampai salah pilih, lalu lima tahun berikutnya hanya bisa berkata, “Lha kok ngene?”

Pilih pemimpinnya dengan akal sehat. Awasi dengan keberanian. Tagih janjinya dengan cara yang bermartabat.

Karena kemenangan yang sesungguhnya bukan kemenangan seorang calon, melainkan kemenangan seluruh masyarakat desa.

Salam demokrasi desa yang sehat!

PORTALLENSA.COM — Kritis, Humanis, dan Berimbang.

Bang Ali Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *