TPA BLONDO: Ketika Penderitaan Rakyat Menjadi Pertunjukan
Ratapan Warga, Senandung Merdu Pengantar Tidur Pemerintah dan Wakil Rakyat
KABUPATEN SEMARANG – PORTALLENSA.COM | Bertahun-tahun warga terdampak TPA Blondo datang membawa cerita yang sama: tentang penderitaan, lingkungan, air, lahan dan kehidupan yang mereka rasakan semakin berat.
Mereka datang bukan membawa kemewahan.
Mereka datang membawa luka.
Mengadu kepada pemerintah.
Mengetuk pintu wakil rakyat.
Berbicara dalam forum-forum resmi.
Menyampaikan keluhan dengan harapan sederhana: didengar dan diselesaikan.
Namun, entah mengapa, penderitaan itu seakan berubah menjadi sebuah pertunjukan teater.
Ketika warga datang, panggung dibuka.
Wajah-wajah serius muncul.
Kepala mengangguk.
Catatan ditulis.
Janji pengawalan disampaikan.
Semua terlihat begitu peduli.
Tetapi ketika rapat selesai, pintu ditutup, kamera dimatikan dan warga pulang, pertunjukan pun berakhir.
Dan yang lebih menyakitkan, penderitaan warga ternyata tidak ikut berakhir.
Mereka tetap pulang membawa masalah yang sama.
Sawah tetap mereka pikirkan.
Air tetap mereka cari.
Kehidupan keluarga tetap harus mereka jalani.
Sementara di ruang kekuasaan, mungkin penderitaan itu hanya berubah menjadi satu baris dalam notulen:
“Akan ditindaklanjuti.”
Kalimat yang terdengar indah, tetapi bagi rakyat yang sudah bertahun-tahun menunggu, bisa terasa seperti hukuman untuk kembali bersabar.
Ratapan yang Menjadi Lagu Pengantar Tidur
Ada sindiran yang mungkin terdengar kejam, tetapi lahir dari luka:
Ratapan dan rintihan warga terdampak laksana senandung merdu yang mengantarkan pemerintah dan wakil rakyat untuk tidur malam.
Warga menangis, pemerintah mendengar.
Warga kecewa, wakil rakyat mencatat.
Warga berharap, pejabat berjanji.
Kemudian semuanya kembali normal.
Seolah penderitaan rakyat memiliki tombol pause.
Bisa dihentikan ketika rapat selesai.
Padahal penderitaan tidak mengenal jam kantor.
Ia ikut tidur bersama warga.
Ia bangun bersama warga.
Ia mengikuti mereka ke sawah.
Masuk ke dapur.
Masuk ke dalam pikiran ketika anak-anak membutuhkan masa depan.
Penderitaan rakyat bukan pertunjukan yang selesai ketika kursi rapat dikosongkan.
Ketika Mata dan Telinga Tak Lagi Terbuka
Mungkin yang paling menyedihkan bukan ketika pemerintah belum mampu menyelesaikan.
Tetapi ketika rakyat mulai merasa tidak dilihat dan tidak didengar.
Ketika mata tertutup terhadap penderitaan.
Ketika telinga tertutup terhadap jeritan.
Maka rakyat kecil akhirnya hanya memiliki satu tempat untuk bersandar:
Tuhan Yang Maha Esa.
Di tengah kesunyian, lahirlah doa-doa.
Bukan doa orang kaya.
Bukan doa orang yang hidup nyaman.
Tetapi doa dari mereka yang sedang bertahan.
“Ya Tuhan, kalau manusia tidak melihat kami, lihatlah kami.
Kalau manusia tidak mendengar kami, dengarlah kami.”
Bait-bait doa itu mungkin tidak masuk ruang rapat.
Tidak tercatat dalam notulen.
Tidak masuk kamera.
Namun doa yang lahir dari penderitaan memiliki jalannya sendiri.
Jabatan Tidak Selamanya
Pemerintah berganti.
Wakil rakyat berganti.
Jabatan memiliki batas.
Kursi kekuasaan tidak diwariskan kepada siapa pun untuk selamanya.
Tetapi penderitaan rakyat akan meninggalkan jejak.
Dan sejarah selalu punya cara untuk mengingat siapa yang pernah mendengar dan siapa yang memilih berpaling.
Karena itu, jangan sampai kesombongan dan keserakahan kekuasaan membuat jeritan rakyat terdengar terlalu kecil.
Sebab manusia boleh menutup pintu.
Boleh menutup mata.
Boleh menutup telinga.
Tetapi tidak ada satu pun pintu yang mampu menutup pandangan Tuhan.
Lampu panggung boleh dimatikan.
Rapat boleh dibubarkan.
Kamera boleh berhenti merekam.
Tetapi rakyat tetap pulang membawa luka.
Dan ketika semua pintu terasa tertutup, mereka masih mempunyai satu sandaran:
doa.
Doa rakyat kecil yang mungkin pelan di telinga manusia, tetapi tidak pernah kecil di hadapan Tuhan.
(Bang Ali)
