PWI LS BUDAL NJARAN, BUDAYA YANG BERJIWA PANCASILA

0
IMG-20261001-WA0004

PRINGAPUS, KAB. SEMARANG —PORTALLENSA.COM– Ketika budaya tradisional perlahan terdesak zaman, ketika generasi muda lebih akrab dengan budaya dari layar gawai daripada kesenian yang tumbuh di tanah kelahirannya sendiri, PWI LS Kecamatan Pringapus memilih jalan berbeda.Mereka tidak ingin hanya menjadi penonton.

Mereka ingin “Budal Njaran”.

Bukan sekadar berangkat menunggang kuda kepang. Bukan sekadar mempertontonkan kesenian tradisional. Tetapi membawa pesan bahwa budaya, agama, persatuan dan semangat kebangsaan dapat berjalan beriringan.

Dengan semangat “Budal Njaran, Budaya yang Berjiwa Pancasila”, PWI LS Pringapus ingin menjadikan jaranan, kuda lumping, barongan dan kesenian tradisional Jawa bukan sebagai tontonan semata, melainkan sebagai bagian dari tuntunan kehidupan masyarakat.

Ketua PWI LS Kecamatan Pringapus, Gus Widi, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak semestinya dipertentangkan dengan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, sejarah Walisongo menunjukkan bahwa dakwah dan budaya pernah berjalan beriringan. Karena itu, budaya lokal justru dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai agama, persatuan dan kebangsaan.

“Budal Njaran ini adalah simbol kami. Laskar Sabilillah harus gagah seperti penunggang kuda, tetapi tetap berjiwa Pancasila. Budaya jaranan kita jaga. Bukan sekadar tontonan, tetapi sekaligus tuntunan. Kita isi dengan sholawat Jawa, doa dan semangat NKRI harga mati,” tegas Gus Widi.»

Ketika Jaranan Dijadikan Jalan Merawat IdentitasBagi PWI LS Pringapus, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan kesenian masa lalu.

Ada persoalan yang lebih besar: identitas generasi masa depan.

Jika generasi muda tidak lagi mengenal kesenian yang lahir dan tumbuh di tanahnya sendiri, maka bukan tidak mungkin suatu hari budaya itu hanya tinggal nama dalam buku sejarah.

Karena itu, konsep “Budaya yang Berjiwa Pancasila” dibangun melalui tiga pilar.

Pertama, Nguri-uri Budaya.Jaranan, barongan dan berbagai kesenian tradisional lokal Pringapus dipandang sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu dirawat dan diwariskan.

Kedua, Berjiwa Pancasila.

Kesenian menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, gotong royong, penghormatan terhadap keberagaman dan nilai Ketuhanan, tanpa membawa sentimen SARA.

Ketiga, Bernafaskan Islami.S

eni tradisional dapat diisi dengan sholawat Jawa, kidung Jawa, doa serta pesan-pesan akhlak yang terinspirasi dari nilai-nilai dakwah Walisongo dan Aswaja.

Dengan konsep tersebut, panggung kesenian diharapkan tidak berhenti ketika musik selesai dan penonton pulang.

Ada pesan yang dibawa pulang.

Ada nilai yang ditanamkan.

Ada identitas yang diwariskan.

Dari Jalan Kaki ke Jalan KebudayaanSemangat tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Jateng Guyub Kabupaten Semarang.

Setelah sebelumnya terlibat dalam kegiatan jalan kaki dari Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah yang berjalan aman dan lancar dengan pengawalan aparat, kini perhatian diarahkan pada penguatan budaya lokal.

PWI LS Pringapus bahkan menggagas “Budal Njaran” sebagai agenda budaya yang diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin tahunan.

Gagasannya sederhana, tetapi pesannya besar: setiap momentum kegiatan masyarakat di Pringapus diharapkan dapat memberi ruang bagi kesenian tradisional, khususnya jaran kepang atau kuda lumping.

Bukan hanya musik dan tarian.

Tetapi juga sholawat Jawa, kidung Jawa, pesan kebangsaan serta sosialisasi nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.

Sebab, menurut semangat yang dibawa PWI LS, melestarikan budaya bukan berarti menolak kemajuan zaman.

Justru dengan mengenal akar budaya, generasi muda memiliki pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Mengenal Jaranan dari Cerita“Budal Njaran” akhirnya menjadi sebuah seruan.Seruan agar budaya tidak hanya dipajang dalam festival.

Seruan agar kesenian tradisional tidak hanya muncul ketika ada hajatan.

Dan yang paling penting, seruan agar anak-anak muda tidak kehilangan hubungan dengan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.Sebab sebuah bangsa bukan hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih.

Bangsa juga dibangun oleh ingatan, budaya, gotong royong dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

PWI LS Pringapus ingin mengambil bagian dalam perjalanan itu.

Menjaga agama.

Merawat budaya.

Memperkuat persatuan.

Dan menjaga Indonesia sesuai semangat kebudayaan Nusantara yang mereka yakini sebagai bagian dari jejak Walisongo.

Budal Njaran!

Budaya lestari!

Pancasila di hati!

NKRI harga mati!

PWI LS Jaya!

(Juharmanik/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *