Langkah Mat Tohek dan Wajah Humanis Polisi, Aksi Jateng Guyub Berjalan Kondusif
KABUPATEN SEMARANG – portallensa.com– Langkah kaki Mat Tohek, warga asal Blora, dari kawasan Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, menjadi bagian dari rangkaian aksi Jateng Guyub dalam memperingati Hari Tani.
Perjalanan tersebut bukan sekadar long march. Di balik puluhan kilometer yang ditempuh, terdapat aspirasi masyarakat yang hendak disampaikan kepada pemerintah, mulai dari penolakan rencana pengembangan geotermal di kawasan Gunung Ungaran dan Telomoyo, persoalan lingkungan, hingga isu hak atas tanah.
Selasa malam, suasana jalur Gedong Songo menuju RTH Bandungan tampak berbeda. Ratusan sepeda motor dan puluhan mobil bergerak beriringan mengawal perjalanan Mat Tohek.
Ia berjalan bersama rombongan yang mendapat pendampingan dari sejumlah sesepuh Ambarawa, tokoh masyarakat, serta elemen yang tergabung dalam Jateng Guyub.
Pesan yang dibawa cukup jelas: menyampaikan aspirasi tanpa menciptakan kerusuhan.

Dikawal Ketat, Tetap Humanis
Di tengah arus rombongan yang cukup besar, pengamanan dilakukan jajaran lPolres Semarang. Sedikitnya 200 personel, dibantu Babinsa dan Linmas, diterjunkan untuk memastikan perjalanan berjalan aman dan tertib.
Kapolres Semarang AKBP Heru Dwi Purnomo, S.I.K., M.Si. turut turun langsung memantau situasi di lapangan bersama jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Semarang.
Kehadiran pimpinan kepolisian di lapangan menjadi bagian dari upaya memastikan jalur yang dilalui peserta tetap aman sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi dari peserta aksi. Bagi mereka, pengamanan tidak hanya dipandang sebagai tugas menjaga ketertiban, tetapi juga bagaimana polisi mampu berkomunikasi dengan masyarakat secara terbuka dan humanis.
Sikap tersebut sejalan dengan perhatian AKBP Heru Dwi Purnomo terhadap pelayanan kepada masyarakat sejak dipercaya memimpin Polres Semarang.
Komunikasi Jadi Kunci
Salah satu anggota tim Jateng Guyub mengatakan, kelancaran kegiatan tidak terlepas dari komunikasi dan koordinasi yang dibangun sejak awal dengan pihak kepolisian.
“Kegiatan aksi ini kita lakukan untuk menyuarakan penolakan rencana geotermal, bukan untuk membuat kerusuhan. Selama persiapan kami selalu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Pak Kasat Intelkam.”
Menurutnya, pola komunikasi yang terbuka membuat masing-masing pihak memahami posisi dan kepentingannya. Masyarakat dapat menyampaikan aspirasi, sementara aparat dapat menjalankan tugas pengamanan tanpa harus mengedepankan pendekatan yang berjarak.
Kesan positif juga disampaikan kepada Kasat Intelkam Polres Semarang, Iptu Michael A., yang dinilai mampu membangun komunikasi dengan gaya yang mudah dipahami, fleksibel dan humanis.
“Salam perkenalan buat Pak Kasat yang baru, Iptu Michael A. Gaya komunikasi yang mudah dipahami, fleksibel dan humanis tentu akan menjadikan masyarakat semakin mudah bersama-sama menciptakan kondisi yang aman dan kondusif,” ujar salah satu perwakilan Jateng Guyub.
Polisi Mengawal, Warga Menyampaikan Aspirasi
Bagi peserta, keberhasilan pengamanan bukan semata-mata diukur dari banyaknya personel yang diturunkan, tetapi dari bagaimana kehadiran polisi mampu membuat masyarakat merasa aman saat menyampaikan pendapat.
Dalam aksi tersebut, aparat berada di sepanjang jalur yang dilewati rombongan. Pengawalan dilakukan agar perjalanan yang melibatkan kendaraan dalam jumlah besar tetap berlangsung tertib dan tidak mengganggu keselamatan pengguna jalan lainnya.
Di sisi lain, Jateng Guyub juga menunjukkan komitmen untuk menjaga aksi tetap damai.
Perbedaan pandangan mengenai geotermal, lingkungan, maupun persoalan pertanahan disampaikan melalui ruang aspirasi, bukan melalui tindakan anarkis.
Sinergi dua sisi tersebut—masyarakat yang menyampaikan aspirasi dan aparat yang menjaga keamanan—menjadi salah satu faktor penting sehingga perjalanan dari kawasan Gedong Songo dapat berlangsung lancar.
Bagi warga Kabupaten Semarang, kehadiran langsung Kapolres bersama jajaran PJU juga memberikan kesan tersendiri.
Sosok pimpinan kepolisian yang hadir langsung di tengah masyarakat dianggap menunjukkan bahwa keamanan tidak hanya dibangun dari balik meja, tetapi juga melalui komunikasi dan kehadiran di lapangan.

Selamat datang dan salam perkenalan untuk Iptu Michael A.
Bagi Jateng Guyub, komunikasi yang humanis adalah pintu untuk membangun kepercayaan. Dan bagi kepolisian, kepercayaan masyarakat merupakan modal penting dalam menciptakan keamanan dan ketertiban.
Dari Gedong Songo, langkah Mat Tohek terus bergerak menuju Semarang.
Yang dibawa bukan sekadar perjalanan kaki, melainkan suara masyarakat yang ingin didengar.(Bang_Ali).
