Dari Obor Gedong Songo hingga Bandungan, Jateng Guyub Membawa Suara Penolakan Geothermal

0
IMG_20260923_084503

KABUPATEN SEMARANG, Portallensa.com – Cahaya bulan berpadu dengan nyala obor di pelataran Candi I Gedong Songo, Kabupaten Semarang, Selasa malam. Dalam suasana hening dan penuh haru, doa dipanjatkan sebelum langkah panjang dimulai.

Di tempat itu, prosesi pelepasan Mat Tohek dilakukan. Ia memulai aksi jalan kaki dari Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah untuk menyuarakan penolakan terhadap pengembangan geothermal.

Bagi mereka yang hadir, malam itu bukan sekadar seremoni pelepasan. Ada doa, restu, perjalanan panjang, dan pesan yang hendak dibawa sampai ke hadapan pemerintah.

Sekitar 30 orang dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Jateng Guyub turut hadir memberikan dukungan. Menariknya, mereka memilih meninggalkan atribut organisasi masing-masing.

Tidak ada identitas ormas, LSM maupun aliansi yang ditonjolkan. Yang dibawa hanya satu nama: Jateng Guyub.

Para tokoh masyarakat dan sesepuh setempat juga hadir. Sementara di pelataran parkir Candi Gedong Songo, warga dari berbagai wilayah sekitar memadati lokasi untuk menyaksikan prosesi pamitan sekaligus memohon doa restu.

Suasana semakin haru ketika Ki Sarwan, tokoh sesepuh setempat, memberikan doa dan restu kepada Mat Tohek agar diberikan keselamatan selama perjalanan.

Setelah itu, langkah dimulai.

Mat Tohek didampingi empat orang dari Jateng Guyub. Ratusan kendaraan roda dua dan puluhan kendaraan roda empat disebut ikut mengiringi perjalanan.

Sepanjang jalan, suara dukungan warga terdengar. Seruan “tolak geothermal” diteriakkan oleh rombongan dan mendapat sambutan dari sejumlah warga yang berada di sepanjang jalur perjalanan.

Dari Medsos ke Jalan Raya

Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan tiba di RTH Bandungan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kantor Bupati Semarang.

Di kawasan tersebut, massa berkumpul. Orasi digelar dan sejumlah pernyataan sikap masyarakat setempat disampaikan terkait penolakan terhadap geothermal.

Di tengah momentum itu, muncul kritik yang cukup keras terhadap pola gerakan yang dinilai hanya ramai di ruang digital.

Peserta aksi menegaskan bahwa perjuangan yang mereka lakukan tidak berhenti pada unggahan media sosial, pernyataan sikap, atau perang komentar di dunia maya.

Mereka memilih turun langsung, berjalan kaki, menghadapi dinginnya malam, menempuh puluhan kilometer, dan berhadapan langsung dengan masyarakat maupun pemerintah.

Kritik tersebut diarahkan kepada pihak-pihak yang menurut mereka lebih banyak menyuarakan isu melalui media sosial, tetapi minim keterlibatan dalam aksi nyata di lapangan.

Namun, kritik itu juga tidak diarahkan kepada seluruh organisasi. Yang dipersoalkan adalah sikap sebagian pihak yang dinilai baru terlihat ketika sebuah gerakan mulai mendapatkan perhatian publik.

“Jangan Jadi Penumpang Gelap”

Persoalan atribut organisasi bahkan menjadi salah satu sorotan peserta.

Salah seorang peserta menyampaikan bahwa Jateng Guyub berasal dari berbagai latar belakang organisasi, tetapi ketika turun dalam aksi tersebut, identitas masing-masing sengaja ditanggalkan.

«“Kita hadir dari seluruh elemen masyarakat. Tanpa atribut, tanpa tanda pengenal ormas, aliansi maupun LSM. Kita tinggalkan semuanya. Hanya ada satu bendera, Jateng Guyub.”»

Pernyataan itu sekaligus menjadi sindiran kepada pihak yang dianggap mencoba mengambil ruang dalam gerakan setelah aksi mendapatkan perhatian.

Peserta menyebut fenomena tersebut sebagai “penumpang gelap”—istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan pihak yang dinilai ingin memperoleh panggung dari sebuah perjuangan tanpa ikut menanggung proses dan perjuangannya sejak awal.

Pesannya sederhana: jika sebuah persoalan dianggap penting, maka keberpihakan semestinya tidak hanya terlihat di layar ponsel.

Sebab, antara membuat unggahan dan berjalan puluhan kilometer tentu terdapat jarak yang tidak sedikit.

Kapolres Semarang Temui Peserta

Di Bandungan, Kapolres Semarang AKBP Heru menemui langsung peserta aksi.

Dalam pertemuan tersebut, Kapolres memberikan dukungan agar perjalanan berlangsung aman sekaligus mengingatkan peserta untuk berhati-hati selama menempuh perjalanan.

Rombongan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 00.00 WIB, rombongan tiba di depan Gedung Bupati Semarang. Setelah beristirahat, Kapolres kembali menemui peserta aksi.

Perjalanan kemudian dihentikan sementara untuk beristirahat dan akan dilanjutkan pada hari berikutnya menuju tujuan akhir, Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Yang Diuji Bukan Sekadar Kaki, tetapi Konsistensi

Aksi Mat Tohek dan Jateng Guyub pada akhirnya menghadirkan satu persoalan yang lebih luas dalam setiap gerakan masyarakat: siapa yang benar-benar hadir ketika perjuangan membutuhkan tenaga, waktu, dan keberanian untuk turun ke lapangan?

Media sosial memang mampu membuat sebuah isu menyebar dalam hitungan menit.

Namun, perjalanan dari Gedong Songo pada malam hari menunjukkan bahwa sebagian masyarakat memilih cara berbeda: meninggalkan kenyamanan, berjalan bersama, bertemu warga, dan menyampaikan aspirasi secara langsung.

Kritik terhadap “aktivisme di media sosial” pun menjadi refleksi bagi siapa saja yang mengaku membawa suara masyarakat.

Sebab bagi peserta aksi, perjuangan tidak cukup hanya dengan suara yang keras di dunia maya. Konsistensi juga diukur dari keberanian untuk hadir ketika perjuangan benar-benar membutuhkan kehadiran.

Dari Gedong Songo, perjalanan belum selesai.

Obor boleh padam, malam boleh berganti pagi, tetapi suara yang mereka bawa masih harus menempuh perjalanan hingga ke depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.( Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *