Menulis Tanpa Bayaran, Bertahan Demi Marwah Jurnalistik
OPINI | PORTAL LENSA
Di era modern, hampir segala sesuatu berada dalam genggaman. Dengan menekan tombol, informasi berpindah dalam hitungan detik. Teknologi berkembang pesat, diikuti perubahan cara masyarakat memperoleh berita.
Dulu, media cetak menjadi raksasa informasi. Koran menemani sarapan, majalah menjadi sumber pengetahuan, dan wartawan memiliki peran besar dalam membentuk opini publik.
Kini zaman berubah.
Media online tumbuh, media sosial berkembang, dan siapa pun dapat menjadi “penerbit” hanya dengan telepon genggam.
Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, serta berbagai platform digital lainnya membuat informasi tidak lagi menjadi monopoli perusahaan media.
Namun kemudahan itu juga menghadirkan persoalan serius.
Marwah profesi jurnalistik ikut dipertaruhkan.
Kartu Pers Bukan Kartu Sakti
Salah satu masalah yang kerap muncul ialah anggapan bahwa kartu pers merupakan kartu sakti.
Ada oknum yang mengatasnamakan wartawan, menunjukkan kartu pers, lalu bertindak di luar etika jurnalistik.
Padahal, kartu pers bukan kekebalan hukum.
Menjadi wartawan tidak cukup dengan memiliki identitas media atau tercantum dalam struktur redaksi. Jurnalis harus memahami tugasnya: mencari, mengolah, memverifikasi, dan menyampaikan informasi berdasarkan fakta serta prinsip jurnalistik.
Jika kartu pers lebih sering dipakai untuk menekan daripada menemukan kebenaran, wajar bila masyarakat berkata:
“Wartawan? Waduh, jangan dulu…”
Dampaknya tidak berhenti pada oknum.
Profesi wartawan secara keseluruhan ikut terkena getahnya.
Ketika Kepala Desa Mulai Takut Bertemu Wartawan
Fenomena yang lebih memprihatinkan terlihat di tingkat desa.
Sebagian kepala desa dan perangkatnya memilih menghindari wartawan karena khawatir setiap pertemuan berujung pada pertanyaan tentang dana desa.
Akibatnya, komunikasi publik terputus.
Padahal, desa tidak hanya berbicara tentang anggaran. Ada inovasi, UMKM, pertanian, seni budaya, pemuda, pendidikan, pariwisata, prestasi warga, dan potensi lokal lain yang layak diketahui masyarakat.
Namun trauma terhadap pemberitaan negatif membuat pintu komunikasi ditutup.
Ironisnya, media baru dicari ketika muncul persoalan, kritik, atau dugaan masalah.
Tetapi saat desa meraih prestasi?
Kadang wartawan justru tidak dianggap penting.
Piala di Lemari, Prestasi Berhenti di Sana
Hal serupa terjadi di dunia pendidikan.
Sekolah meraih prestasi, piala memenuhi lemari, siswa menjuarai kompetisi, guru tampil unggul, dan berbagai inovasi lahir. Namun, kisah itu sering berhenti di lingkungan sekolah.
Mengapa?
Karena publikasi dianggap berisiko. Kepala sekolah khawatir berita prestasi akan diikuti pertanyaan tentang penggunaan dana BOS.
Padahal, keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Transparansi anggaran merupakan kewajiban, sedangkan publikasi prestasi adalah bagian dari komunikasi publik.
Sekolah yang transparan seharusnya tidak alergi terhadap wartawan, dan wartawan profesional tidak menjadikan berita prestasi sebagai pintu masuk untuk mencari-cari kesalahan.
Hubungan media dan lembaga semestinya dibangun secara sehat.
Ketika Media Sosial Mengambil Alih Panggung
Banyak instansi kini merasa cukup dengan mengelola akun media sosial sendiri, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, website, hingga YouTube.
Tidak ada yang keliru dengan langkah tersebut. Perkembangan teknologi memang harus dimanfaatkan.
Namun, media sosial lembaga dan media jurnalistik memiliki fungsi berbeda.
Akun institusi menyampaikan informasi yang ingin ditampilkan lembaga. Sementara itu, jurnalisme bekerja untuk kepentingan publik melalui verifikasi, perspektif, konteks, dan pengujian informasi.
Masalah muncul ketika lembaga merasa tidak membutuhkan media independen, tetapi mencarinya saat ingin memberitakan sisi negatif pihak lain.
Media jangan hanya dipanggil ketika dibutuhkan untuk menyerang.
Media juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan kabar baik.
Jurnalis, LSM, atau Ormas?
Ada persoalan lain yang tidak kalah serius.
Media merupakan perusahaan dengan manajemen, biaya operasional, perangkat kerja, proses produksi berita, dan tanggung jawab terhadap karya jurnalistik.
Namun di lapangan, profesi jurnalis masih kerap dianggap sebagai kegiatan sampingan. Lebih ironis, sebagian orang menjalankan aktivitas jurnalistik dengan pola seperti organisasi massa atau lembaga swadaya masyarakat: mengandalkan tekanan, kedekatan, atau identitas kelompok.
Padahal, jurnalistik memiliki mekanisme dan etika sendiri.
Wartawan bukan LSM. Wartawan bukan ormas. Wartawan bukan aparat penegak hukum.
Wartawan adalah pekerja jurnalistik yang berpegang pada kaidah jurnalistik.
Karena itu, profesionalisme tidak cukup dibuktikan dengan kartu pers. Profesionalisme terlihat dari cara bertanya, mencari data, memverifikasi, menulis, dan mempertanggungjawabkan berita.
Menulis Karena Peduli
Bagaimana nasib jurnalis dalam situasi seperti ini?
Menjadi jurnalis hari ini bukan perkara mudah. Persaingan media semakin ketat, pendapatan belum tentu sebanding dengan biaya operasional, pembaca memiliki banyak pilihan, dan media sosial bergerak lebih cepat daripada media online.
Dalam kondisi tertentu, menulis tidak lagi semata-mata soal keuntungan.
Menulis menjadi bentuk kepedulian.
Kepedulian kepada masyarakat yang suaranya tidak terdengar, desa yang potensinya belum dikenal, sekolah yang prestasinya hanya tersimpan di lemari piala, serta lingkungan yang membutuhkan perhatian.
Yang paling penting, kepedulian itu ditujukan kepada marwah jurnalistik itu sendiri.
Jangan Mati Hanya Karena Uang
Karya jurnalis bukan kartu pers yang tersimpan di dompet, bukan pula seragam atau atribut yang dikenakan saat mendatangi instansi.
Karya itu adalah berita yang ditulis, fakta yang diungkap, suara yang disampaikan, dan informasi yang akhirnya diketahui publik.
Jika sebuah berita membantu masyarakat memahami persoalan di sekitarnya, di situlah pengabdian jurnalistik menemukan maknanya.
Karena itu, jangan biarkan profesi ini mati hanya karena uang. Jangan pula menjual marwah jurnalistik demi kepentingan sesaat.
Kalau ada yang salah, kritik dengan data.
Kalau ada yang berprestasi, beritakan dengan bangga.
Kalau ada yang belum transparan, tanyakan dengan etika.
Kalau ada masyarakat yang tidak terdengar, beri mereka ruang.
Wartawan sejatinya bukan sosok yang harus ditakuti.
Wartawan seharusnya menjadi orang yang dipercaya publik untuk mencari tahu apa yang publik perlu tahu.
Kepada para jurnalis yang tetap menulis meski tidak selalu mendapatkan apa-apa:
Tetaplah bekerja dengan integritas.
Tulisan mungkin tidak langsung menghasilkan uang. Namun, satu tulisan yang benar, jujur, dan bermanfaat dapat menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga:
jejak bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk masyarakat.
Jangan berhenti mewartakan dunia hanya karena dunia belum memberi harga pada setiap tulisan.
— Bang Ali
