HEBOH! Bulan Bintang Muncul di Atas Gunung Ungaran
Fenomena Langit Jadi Bahan Renungan Warga di Tengah Isu Geotermal
KABUPATEN SEMARANG — Langit Jatijajar, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Senin malam (14/9/2026), menyuguhkan pemandangan yang membuat warga menengadah.
Bulan sabit tipis dan Planet Venus tampak berdekatan di atas kawasan Gunung Ungaran. Dari kejauhan, keduanya terlihat seperti membentuk simbol bulan dan bintang, dengan latar siluet Gunung Ungaran yang gelap dan kerlap-kerlip lampu hotel, vila serta permukiman di sepanjang kawasan Bergas–Bandungan.
Fenomena tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang sekitar pukul 19.00 WIB karena kondisi langit relatif cerah. Secara astronomi, pemandangan itu merupakan fenomena konjungsi Bulan dan Venus.
Namun, bagi sebagian warga lereng Gunung Ungaran, pemandangan tersebut tidak berhenti sebagai fenomena astronomi.
Di tengah menghangatnya isu rencana pengembangan geotermal Gunung Ungaran, kemunculan bulan dan Venus di atas puncak gunung justru dibaca sebagai simbol atau pertanda alam.
Ketika Fenomena Langit Dibaca sebagai Pesan Alam
Sejumlah sesepuh dan warga lokal mengaitkan pemandangan tersebut dengan istilah yang mereka kenal sebagai “sirep alam”—sebuah ungkapan kultural mengenai tanda atau peringatan alam yang harus direnungkan manusia.
“Gunung Ungaran itu bukan sekadar batu dan tanah. Ada mata air, hutan, lahan pertanian, situs sejarah dan kehidupan warga di sekitarnya. Kalau alam memberi tanda, ya jangan buru-buru dianggap angin lalu,” ujar seorang warga Jatijajar.
Tentu saja, tidak ada bukti ilmiah bahwa konjungsi Bulan-Venus merupakan tanda Gunung Ungaran menolak geotermal.
Tetapi di situlah persoalannya menjadi menarik.
Sebab yang sedang dibicarakan warga sebenarnya bukan semata-mata bulan dan Venus.
Yang mereka pertanyakan adalah masa depan gunung yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Gunung Bukan Sekadar Titik di Peta
Dari kawasan Bergas hingga Bandungan, perubahan bentang kawasan Gunung Ungaran semakin mudah dilihat.
Lampu-lampu hotel, vila, tempat usaha dan permukiman menghiasi lereng. Pembangunan membawa pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama memunculkan pertanyaan tentang daya dukung lingkungan, air, ruang hidup dan keseimbangan kawasan lereng gunung.
Kini muncul pula isu pengembangan energi panas bumi.
Bagi pemerintah dan pengembang, geotermal dapat dipandang sebagai salah satu sumber energi yang perlu dikembangkan.
Namun bagi masyarakat yang hidup di kaki gunung, pertanyaannya sederhana:
“Kalau gunung ini sumber kehidupan kami, siapa yang menjamin kehidupan itu tetap aman?”
Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa teknologi aman.
Warga membutuhkan data, kajian ilmiah, transparansi, jaminan perlindungan mata air, mekanisme pengawasan, serta ruang untuk menyampaikan keberatan sebelum keputusan besar menyangkut ruang hidup mereka benar-benar dijalankan.
Antara Mitos, Sains dan Hak Warga
Bulan dan Venus boleh saja hanya sebuah kebetulan astronomi.
Tetapi keresahan warga bukan kebetulan.
Mitos boleh berbeda dengan ilmu pengetahuan. Tafsir sesepuh boleh tidak dapat dibuktikan secara laboratorium. Namun, kekhawatiran masyarakat tetap merupakan fakta sosial yang harus didengar.
Jangan sampai ketika warga berbicara tentang mata air, hutan dan tanah, mereka malah dianggap sedang melawan pembangunan.
Sebab pembangunan yang baik bukan pembangunan yang membuat warga diam.
Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menjawab pertanyaan warga dengan data dan membuka ruang partisipasi.
Malam itu, Gunung Ungaran tetap berdiri.
Bulan sabit dan Venus hanya melintas sebentar, kemudian bergerak mengikuti hukum alam.
Tetapi pertanyaan warga mungkin akan tinggal lebih lama:
Jika benar geotermal membawa manfaat, mampukah pemerintah dan pihak terkait membuktikannya secara terbuka?
Dan jika ternyata ada risiko terhadap air, lingkungan, situs budaya atau ruang hidup masyarakat, siapa yang akan bertanggung jawab?
Karena mungkin yang sedang ditolak warga bukan energi panas buminya.
Yang mereka takutkan adalah ketika sebuah gunung dipandang hanya sebagai sumber energi, sementara manusia yang hidup di sekelilingnya dilupakan.(Kang Gito/ Bang_Ali).
