KRISIS AIR BERSIH MELANDA GEYONGAN BAWEN, WARGA BERTAHAN, ANCAMAN KEBAKARAN MENGINTAI
Ketika Air Menjadi Barang Langka, Ke Mana Wakil Rakyat dan Pemerintah?
BAWEN, PORTALLENSA.COM — Kemarau panjang bukan lagi sekadar cerita tentang sawah yang mengering atau rumput yang berubah kecokelatan. Bagi warga Dusun Geyongan, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, kemarau telah berubah menjadi persoalan serius: air bersih semakin sulit didapat.
Setiap hari warga harus berburu air. Sumber air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat debitnya semakin kecil, sementara kebutuhan terus berjalan. Antrean warga pun menjadi pemandangan sehari-hari.
Perkebunan warga mulai gersang. Sumur-sumur mengering. Bahkan sejumlah sumur bor yang dibangun secara swadaya masyarakat di beberapa titik belum mampu memberikan jawaban.
Ada yang sempat mengeluarkan air, tetapi hanya sesaat. Setelah itu, sumber kembali berhenti mengalir.
Warga sudah mencoba mencari solusi dengan uang dan tenaga sendiri. Tetapi kemampuan masyarakat tentu ada batasnya.
“Berbagai cara sudah ditempuh. Warga hanya bisa pasrah. Untuk mencukupi kebutuhan, kami swadaya mendatangkan tangki air dari luar. Uluran bantuan dari pihak mana pun sangat kami butuhkan,” ujar Prayitno, perangkat Dusun Geyongan.
WARGA SUDAH BERUSAHA, TAPI KEMAMPUAN TERBATAS
Krisis ini bukan karena warga hanya duduk menunggu bantuan.
Pengeboran dilakukan di sejumlah lokasi. Namun hasilnya belum maksimal. Air hanya mengalir sementara sebelum kembali tidak keluar.
Beberapa sumur bor akhirnya tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
Warga kemudian mencoba alternatif lain dengan membuat water treatment. Lagi-lagi persoalan biaya menjadi kendala.
Niat ada. Gotong royong ada. Upaya ada.
Yang tidak ada adalah kemampuan finansial yang cukup untuk membangun sistem penyediaan air yang bena – benar mampu bertahan dalam jangka panjang.
DUGAAN PENCEMARAN MENAMBAH KEKHAWATIRAN
Persoalan semakin rumit karena warga juga mengeluhkan kondisi sejumlah aliran sungai dan sumber air yang mereka nilai tidak layak digunakan.
Warga menduga terdapat pencemaran limbah lindi yang berkaitan dengan kawasan TPA Blondo.
Dugaan tersebut tentu perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan uji kualitas air oleh instansi yang berwenang. Namun kekhawatiran warga tidak bisa begitu saja diabaikan.
Sebab ketika sumber air semakin sedikit, air yang tersisa seharusnya justru menjadi sesuatu yang harus dijaga kualitasnya.
Di sinilah pemerintah dituntut hadir bukan hanya ketika masalah sudah menjadi berita, tetapi sejak warga mulai menyampaikan keluhan.
RAWAN KEBAKARAN, AIR SULIT, WARGA SEMAKIN CEMAS
Kekeringan ekstrem juga menyimpan ancaman lain.
Lahan yang kering, tanaman yang meranggas, rumput yang mudah terbakar, ditambah terbatasnya sumber air membuat warga khawatir jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Percikan api kecil bisa berubah menjadi persoalan besar ketika masyarakat tidak memiliki cadangan air yang memadai untuk melakukan penanganan awal.
Ironisnya, untuk memadamkan api warga mungkin akan kesulitan mendapatkan air, sementara untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka harus mengantre.
WAKIL RAKYAT, JANGAN HANYA HADIR SAAT MEMINTA SUARA
Kondisi Geyongan juga semestinya menjadi perhatian serius para wakil rakyat.
Mereka dipilih untuk membawa suara masyarakat ke ruang kebijakan. Maka ketika warga yang diwakili sedang kesulitan mendapatkan kebutuhan paling dasar, respons dan langkah nyata seharusnya tidak perlu menunggu persoalan menjadi viral.
Air bersih bukan persoalan kecil.
Ini menyangkut kesehatan, keselamatan, ekonomi, lingkungan, bahkan ketahanan sosial masyarakat.
Warga tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya meminta agar bisa mendapatkan air untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan bertahan hidup.

WARGA TIDAK MEMINTA DIKASIHANI
Warga Geyongan telah menunjukkan bahwa mereka bukan masyarakat yang mudah menyerah.
Mereka mengebor dengan biaya sendiri.
Mereka mencoba membuat pengolahan air.
Mereka membeli air tangki secara swadaya.
Mereka bergotong royong menghadapi kemarau.
Tetapi pemerintah memiliki sumber daya, kewenangan, anggaran dan perangkat yang jauh lebih besar.
Karena itu, pertanyaannya sederhana:
Sampai kapan warga harus bertahan sendiri?
Pemerintah diharapkan segera mencarikan solusi penyediaan air bersih yang berkelanjutan, melakukan pemeriksaan terhadap kualitas sumber air, serta menindaklanjuti keluhan masyarakat mengenai dugaan pencemaran lingkungan apabila terbukti berdasarkan hasil pemeriksaan.
Warga juga berharap para wakil rakyat turun melihat langsung kondisi masyarakat, bukan sekadar mendengar laporan dari balik meja.
Di Geyongan, air bukan sekadar air.
Di setiap tetesnya ada kehidupan.
Dan ketika warga sudah mulai pasrah karena sumber air mengering, mungkin sudah waktunya pemerintah berhenti sekadar mendengar—dan mulai benar-benar datang.(Kang Gito/ Bang_ Ali).
