POJOK BANG ALI: ANTARA KORUPSI DAN SUMPAH JABATAN

0
IMG_20260910_213727

Obrolan Sore di Bawah Pohon, Pinggir Sawah Pringapus

Portallensa.com. Sore itu, musim kemarau sedang pelit memberi hujan.

Di sebuah kafe kecil di pinggiran Pringapus, di antara hamparan sawah yang kini mulai berdampingan dengan pagar-pagar pabrik, Bang Ali duduk di bawah rindangnya pohon.Di depannya ada Mas Juhar.Di sampingnya, duduk seseorang yang oleh Bang Ali lebih suka disebut Sang Pertapa.

Mantan penakluk samudera. Lelaki yang pernah akrab dengan gelombang, angin dan kerasnya kehidupan. Banyak pengalaman yang ia ceritakan, tetapi ada satu hal yang justru paling menarik perhatian Bang Ali: kesederhanaannya. Ia tidak banyak bicara soal dirinya. Tidak suka mencari panggung. Tidak sibuk menjelaskan bahwa dirinya hebat. Namun dari cara memandang orang lain, menghargai lawan bicara dan berbicara tentang masa depan, terlihat bahwa api perjuangannya belum padam. Hanya medan perangnya yang berubah. Bukan lagi lautan. Bukan pula medan pertempuran. Melainkan masyarakat.

Mas Juhar: “Bang, katanya orang ini pernah menaklukkan samudera?”

Bang Ali: “Katanya begitu.”

Mas Juhar: “Terus sekarang menaklukkan apa?”

Bang Ali: “Belum tahu. Mungkin menaklukkan rasa malas kita untuk berpikir.”

Sang Pertapa hanya tersenyum.

Sang Pertapa: “Samudera itu kelihatan gelombangnya. Yang sulit justru menghadapi gelombang kepentingan.

”Mas Juhar: “Waduh… kalau gelombang kepentingan, kapal apa yang cocok?

”Bang Ali: “Bukan kapal”

Mas Juhar: “Terus?”

Bang Ali: “Kompas.”

Mas Juhar: “Kompas apa?”

Bang Ali menatap Sang Pertapa. Bang Ali: “Kompas moral.”

Mereka tertawa kecil.

Sore semakin teduh. Obrolan yang semula ringan perlahan berubah serius. Sang Pertapa bercerita tentang sebuah rencana besar. Bukan untuk dirinya sendiri. Ia ingin mendorong generasi muda agar berani berkarya, berusaha dan membangun lingkungan sekitarnya. Ia ingin mengawal anak-anak muda agar tidak hanya menjadi penonton pembangunan.

Sang Pertapa: “Perjuangan hari ini bukan hanya soal merebut sesuatu. Tapi bagaimana membuat orang di sekitar kita punya kesempatan untuk hidup lebih baik.”

Bang Ali mengangguk.

Bang Ali: “Itulah kemerdekaan yang sering lupa kita bicarakan.”

Mas Juhar: “Bukannya sudah merdeka, Bang?”

Bang Ali: “Negara sudah merdeka.”

Bang Ali berhenti sebentar. Bang Ali: “Tapi jangan sampai rakyat merdeka hanya untuk memilih, sementara setelah itu suaranya disimpan di gudang sampai pemilu berikutnya.”

Mas Juhar langsung tertawa. Mas Juhar: “Bang… itu sindiran atau angin dari sawah?”

Bang Ali:“Kalau terasa, berarti ada yang lewat.”

Bang Ali kemudian memandang jauh ke arah hamparan sawah. Bang Ali: “Setiap kali saya melihat bendera berkibar, yang terlihat merahnya adalah aliran darah para pejuang.”Ia terdiam sejenak.

Bang Ali: “Dan putihnya adalah alunan doa dari orang-orang yang ditinggalkan.”Sang Pertapa menundukkan kepala.

Sang Pertapa: “Saya merinding Bang mendengarnya.”

Mas Juhar yang biasanya banyak bercanda pun ikut diam.

Beberapa menit kemudian, Mas Juhar memecah kesunyian.

Mas Juhar: “Bang, kalau begitu sekarang yang harus kita lawan apa?”Bang Ali tersenyum.

Bang Ali: “Kadang bukan penjajah yang paling berbahaya.”

Mas Juhar: “Lalu?”

Bang Ali: “Keserakahan.”

Sang Pertapa: “Dan pengkhianatan terhadap amanah.”Bang Ali mengangguk.

Bang Ali: “Jabatan itu bukan hadiah. Jabatan adalah amanah.”

Mas Juhar: “Kalau sumpah jabatan dilanggar bagaimana?”

Bang Ali menatapnya.

Bang Ali: “Ya jangan sampai sumpah kepada Tuhan hanya menjadi suara yang bagus saat pelantikan.”Hening.

Bang Ali: “Setelah kamera mati, rakyat justru ditinggalkan.”

Pembicaraan kemudian menyentuh berbagai persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya.Menurut Bang Ali, ketika muncul persoalan di lapangan, termasuk dugaan kejadian keracunan makanan, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar saling bantah.

Bang Ali: “Rakyat tidak butuh klaim siapa yang paling benar.”

Mas Juhar: “Terus butuh apa?”

Bang Ali: “Penjelasan yang gamblang. Data yang terbuka. Pengawasan yang serius. Kalau ada kesalahan, katakan salah. Kalau tidak salah, tunjukkan buktinya.”

Mas Juhar: “Berarti bukan lomba cepat membuat pernyataan?”

Bang Ali: “Bukan.”

Mas Juhar: “Bukan juga lomba mencari kambing hitam?”

Bang Ali: “Jangan. Kasihan kambingnya.”

Mereka kembali tertawa. Begitu pula dengan polemik rencana pengembangan panas bumi atau geothermal. Bang Ali menegaskan, masyarakat berhak mendapatkan informasi secara utuh. Bukan hanya tentang manfaat investasi dan energi.Tetapi juga tentang lingkungan, tata ruang, risiko, mata air, pertanian, kehidupan masyarakat serta mekanisme pengawasan.

Bang Ali: “Kalau memang baik, jelaskan mengapa baik.”

Sang Pertapa: “Kalau ada risiko?”

Bang Ali:“Jelaskan risikonya.”

Mas Juhar: “Kalau masyarakat bertanya?”

Bang Ali:“Jawab.”

Mas Juhar:“Kalau masyarakat tetap tidak setuju?” Bang Ali tersenyum.

Bang Ali: “Dengarkan.”

Sang Pertapa kemudian memandang matahari yang mulai turun.

Sang Pertapa:“Bang, perjuangan seperti ini panjang.”

Bang Ali:“Memang.”

Sang Pertapa:“Dan tidak semua orang mau berdiri di depan.”

Bang Ali tersenyum.

Bang Ali:“Tidak apa-apa.”

Sang Pertapa:“Kenapa?”

Bang Ali:“Tidak semua perjuangan membutuhkan panggung.”Ia menunjuk bayangan pohon di tanah.

Bang Ali:“Kadang yang paling berarti justru hadir sebagai bayangan.” Mas Juhar tertawa.

Mas Juhar:“Berarti Sang Pertapa memang cocok jadi bayangan, Bang?”

Bang Ali:“Bukan karena takut terlihat.” Bang Ali menatap Sang Pertapa.

Bang Ali:“Tapi karena ia ingin pekerjaannya yang terlihat.”Sang Pertapa hanya tersenyum.

Sore semakin tua. Pabrik-pabrik mulai menyalakan lampu. Burung-burung pulang ke sarang. Sawah masih menyimpan sisa panas matahari. Bang Ali kembali memandang bendera kecil yang berkibar di kejauhan.Bang Ali:“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.”

Mas Juhar:“Terus kekurangan apa?”

Bang Ali:“Orang yang ketika diberi kekuasaan masih ingat kepada siapa kekuasaan itu harus dipertanggungjawabkan.”

Sang Pertapa mengangguk.

Bang Ali:“Dan ketika sumpah sudah diucapkan atas nama Tuhan, jangan sampai kepentingan dunia membuat amanah itu dilupakan.”

Mas Juhar menyeruput kopinya. Mas Juhar:“Kalau begitu, Bang… siapa yang paling takut dengan sumpah?”

Bang Ali tersenyum tipis. Bang Ali:“Seharusnya bukan rakyat.”

Ia menatap jauh ke depan. Bang Ali:“Yang seharusnya takut adalah mereka yang diberi amanah, tetapi menggunakan jabatan untuk kepentingan dirinya sendiri.”

Malam mulai turun. Tidak ada deklarasi. Tidak ada spanduk. Tidak ada panggung. Tidak ada kamera yang berebut mengambil gambar. Hanya tiga orang di bawah pohon.

Bang Ali dengan tulisannya.

Mas Juhar dengan celotehnya.

Dan Sang Pertapa dengan bayangannya. Namun dari obrolan sederhana itu lahir satu pesan: Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti berani menyampaikan kebenaran, mengawal kebijakan, menjaga lingkungan, membela kepentingan masyarakat dan memastikan amanah tidak berubah menjadi kesempatan memperkaya diri. Sebab jabatan bukan kehormatan untuk dipamerkan, melainkan amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Sumpah yang diucapkan atas nama Tuhan tidak berhenti di ruang pelantikan. Ia akan ditagih oleh rakyat, sejarah, dan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Jabatan berakhir. Kekuasaan berganti. Panggung dibongkar.Namun pertanggungjawaban moral dan keagamaan tidak pernah mengenal masa jabatan.

Salam satu pena.— Bang Ali Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *