Dari Tangan Srikandi Pringsari, Kopi Robusta Sumowono Menyimpan Cerita untuk Negeri
SUMOWONO, Kabupaten Semarang, — PORTALLENSA.COM — Dari lereng Gunung Ungaran, sebuah cerita sederhana sedang dirajut. Bukan sekadar tentang secangkir kopi, tetapi tentang petani, kebun, kerja keras, kreativitas anak muda, dan mimpi membawa potensi lokal Kabupaten Semarang melangkah lebih jauh.
Di balik cerita itu ada sosok Lintang Wening Pembayun, mahasiswi Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran asal Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Bersama teman-temannya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNW tahun 2026, Lintang memilih kopi Robusta Sumowono sebagai salah satu potensi lokal yang layak mendapatkan perhatian lebih besar.
Dengan semangat yang ia sebut “Untuk Negeri”, Lintang dan tim tidak ingin kopi Sumowono berhenti sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk biji. Mereka mencoba menghadirkan nilai tambah melalui sebuah produk kopi bernama RUMAYA, dengan filosofi sederhana namun kuat: “Dari Biji Menjadi Cerita.”Bagi Lintang, setiap biji kopi memiliki perjalanan panjang. Dari pohon, dipetik tangan petani, disortir, diproses, dikeringkan, disangrai, digiling hingga akhirnya berada di dalam kemasan.
“Kami tertarik mengangkat kopi karena melihat bahwa Sumowono memiliki potensi cukup besar, khususnya kopi Robusta dari petani lokal. Selama ini sebagian petani masih menjual kopi dalam bentuk biji, sehingga nilai tambah dari produk tersebut belum maksimal,” ujar Lintang saat diwawancarai Jurnalis Portallensa, Juharmanik.

Menurutnya, tim KKN ingin belajar langsung bersama masyarakat petani kopi. Bukan hanya membuat produk, tetapi juga mengangkat perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi produk yang siap dipasarkan.
“Dari situ kami ingin belajar bersama petani, bukan hanya menghasilkan produk kopi, tetapi juga menceritakan perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi produk yang siap dipasarkan. Karena itulah kami mengangkat konsep ‘Dari Kopi Jadi Cerita’ dan menghasilkan produk bernama RUMAYA,” lanjutnya.
Dari Pohon hingga Menjadi Secangkir Cerita
Proses yang dilakukan Lintang dan tim dimulai dari hal paling dasar, yakni mengenal kebun dan tanaman kopi.Mereka belajar langsung kepada petani mengenai kondisi tanaman, buah kopi, hingga menentukan buah yang telah matang dan siap dipanen.
Buah kopi matang kemudian dipetik. Dari proses tersebut mereka belajar bahwa kualitas biji sangat ditentukan sejak awal, termasuk ketelitian dalam memilih buah.
Tahap berikutnya adalah sortasi, yakni memilih dan memisahkan buah berdasarkan kondisi dan kualitasnya.Setelah itu, kopi memasuki proses pascapanen, pengeringan, penggilingan untuk memisahkan kulit, pencucian, hingga pengeringan kembali biji kopi sampai benar-benar siap untuk diproses lebih lanjut.
Biji kopi kemudian memasuki tahap roasting atau sangrai. Pada tahap inilah aroma dan karakter kopi mulai muncul.Setelah disangrai, biji kopi digiling menjadi bubuk dengan tingkat kehalusan yang disesuaikan. Tahap terakhir adalah pengemasan dengan identitas RUMAYA – Kopi Robusta Sumowono.
Namun pekerjaan belum selesai.
Produk yang telah dikemas kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui pemasaran sekaligus cerita mengenai asal-usul kopi tersebut.
“Kami tidak hanya membuat produk, tetapi juga memberikan identitas dan cerita pada kopi tersebut agar memiliki nilai tambah dan daya jual, sekaligus memperkenalkan potensi kopi lokal Sumowono kepada masyarakat yang lebih luas,” pungkas Lintang.
Satu Bulan, Sebuah Gagasan untuk Jangka Panjang, Menariknya seluruh proses tersebut dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
Kegiatan KKN Lintang dan tim berlangsung sekitar satu bulan, mulai 26 Juli hingga 27 Agustus 2026.
Waktu yang singkat tersebut justru menjadi tantangan. Mereka harus membangun komunikasi dengan petani, memahami proses pengolahan kopi, menyusun konsep produk, hingga memikirkan bagaimana kopi lokal tersebut mempunyai identitas yang lebih kuat.
Di titik inilah RUMAYA bukan sekadar produk hasil KKN.
Ia menjadi simbol bahwa mahasiswa dapat hadir bukan hanya sebagai pendatang di tengah masyarakat, tetapi sebagai mitra yang ikut menggali potensi dan mencoba meninggalkan gagasan yang dapat dilanjutkan.
Semangat tersebut sejalan dengan tulisan yang terpampang pada kemasan RUMAYA:
“Dari Biji Menjadi Cerita.
”Sebuah kalimat pendek yang menyimpan perjalanan panjang.
Sebab, di balik setiap tegukan kopi, ada petani yang merawat tanaman, ada tangan yang memetik, ada proses panjang pascapanen, ada kreativitas mahasiswa, dan ada harapan agar produk lokal mampu mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Srikandi Pringsari dan Mimpi Kopi Sumowono Lintang, putri Pringsari, bersama teman-temannya kini membawa sebuah pesan dari Sumowono: bahwa potensi lokal tidak harus berhenti menjadi cerita di kampung sendiri.
Dengan menggandeng masyarakat petani kopi, mereka mencoba membuka jalan agar Kopi Robusta Sumowono semakin dikenal dan mempunyai daya saing lebih luas.
“Dari tangan Srikandi Pringsari, Kopi Robusta Sumowono untuk Negeri.”
Frasa tersebut seolah menjadi gambaran perjalanan Lintang dan timnya.
Seorang mahasiswa datang dengan waktu KKN yang terbatas, tetapi membawa mimpi yang jauh lebih panjang: bagaimana kopi dari Kabupaten Semarang dapat dikenal, diapresiasi, dan dinikmati lebih banyak orang.RUMAYA pun hadir dengan pesan:
“Dari Biji Menjadi Cerita.”Dan cerita itu belum selesai.Karena selama masih ada petani yang menanam, tangan yang memetik, proses yang dijaga, serta generasi muda yang mau mengembangkan, perjalanan kopi Robusta Sumowono akan terus berlanjut.RUMAYA bukan hanya tentang kopi. Ia adalah cerita tentang potensi lokal, kerja keras petani, dan keberanian anak muda untuk membawa karya daerah menuju panggung yang lebih luas.(Juharmanik/Bang_Ali).
