PANCASILA: MASIH DI HATI, ATAU SEKADAR PAJANGAN?

0
Screenshot_20260817_090610

Portallensa.com — Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Pancasila bukan lahir dari ruang ber-AC, bukan pula hasil rapat para pencari jabatan. Ia lahir dari perjuangan panjang, dari darah, air mata, keringat dan pengorbanan para pahlawan.

Pancasila adalah pondasi kokoh bangsa ini.

Namun hari ini, mari kita berhenti sejenak.

Tarik napas dalam-dalam. Pejamkan mata. Bayangkan para pejuang yang dahulu berdiri di tengah ancaman penjajahan.

Lalu tanyakan kepada hati kita sendiri:

Apakah Pancasila masih hidup dalam diri kita, atau hanya menjadi tulisan indah yang terpajang di dinding?

Ketuhanan Yang Maha Esa begitu sering kita ucapkan. Nama Tuhan berkali-kali disebut dalam pidato, upacara dan berbagai acara kenegaraan. Tetapi ironisnya, masih ada manusia-manusia terhormat yang lebih sibuk menjaga pundi-pundi kekayaan daripada menjaga iman dan kejujuran.

Doa di bibir, tetapi keserakahan di tangan.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terdengar begitu mulia. Namun ketika kriminalisasi, ketimpangan dan perlakuan tidak adil masih terjadi, kita kembali bertanya: di mana keberadaban itu?

Jangan sampai hukum terasa tajam bagi yang lemah, tetapi mendadak tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Persatuan Indonesia pun sering terdengar gagah ketika diucapkan di atas panggung.

Tetapi setelah turun dari panggung?

Perang urat saraf dimulai. Beda pilihan menjadi permusuhan. Beda pendapat menjadi alasan untuk saling menghina. Media sosial berubah menjadi medan perang, sementara tetangga sendiri kadang diperlakukan seperti musuh hanya karena berbeda pilihan.

Kita mengucapkan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi ego sering berkata: “Yang berbeda dengan saya berarti salah.

”Sementara sila keempat, tentang kerakyatan dan permusyawaratan, seakan sedang dipertontonkan dalam drama politik yang tak kunjung tamat.

Mengatasnamakan rakyat menjadi kalimat yang sangat mudah diucapkan.

Rakyat dipeluk ketika suara dibutuhkan.

Rakyat dicari ketika pemilu tiba.

Tetapi setelah kursi kekuasaan didapat, suara rakyat kadang berubah menjadi suara yang terlalu kecil untuk didengar.

Drama politik kita bahkan kadang lebih panjang daripada drama China.

Bedanya, penonton drama China cukup kehilangan waktu.

Penonton drama politik bisa kehilangan kesabaran—bahkan kehilangan kepercayaan.

Lalu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sebuah cita-cita luhur para pendiri bangsa yang sampai hari ini masih harus terus diperjuangkan.

Keadilan jangan hanya menjadi kata indah dalam buku pelajaran.

Ia harus terasa di kehidupan nyata. Mari kita kembali mengingat masa perjuangan. Di medan perang, rakyat datang bukan dengan bertanya, “Apa keuntungan saya?

”Saudagar menyerahkan hartanya. Petani menyerahkan hasil panennya.

Cendekiawan memberikan gagasannya.

Guru tetap mendidik anak-anak bangsa meskipun dalam keterbatasan.

Para pemuda bersedia mempertaruhkan nyawanya.

Dan para ibu, istri serta perempuan yang tidak berada di medan perang, melantunkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka tidak sedang berebut jabatan.

Tidak sedang mengejar proyek. Tidak sedang menghitung berapa banyak keuntungan yang bisa dibawa pulang.

Mereka sedang memperjuangkan satu hal: Indonesia yang merdeka.

Jutaan pahlawan tanpa nisan telah memberikan hidupnya agar kita hari ini bisa berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Lalu, apakah kita pantas disebut penerus yang mereka banggakan?

Ataukah kita justru menjadi generasi yang perlahan lupa kepada pengorbanan mereka?Diperbudak politik demi kekuasaan.

Diperbudak nafsu demi keserakahan. Diperbudak ego hingga merasa paling benar dan paling hebat.

Kita begitu mudah berteriak “NKRI harga mati!

”Tetapi jangan sampai persaudaraan, kejujuran dan keadilan justru kita jual murah demi kepentingan sesaat.

Di usia 81 tahun Republik Indonesia, mungkin kita tidak perlu hanya merayakan kemerdekaan dengan pesta, lomba dan gemerlap perayaan.

Sesekali, mari kita rayakan kemerdekaan dengan introspeksi.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah Pancasila masih ada di hati kita? Atau hanya menjadi pemanis agar kita terlihat patriotis? Karena Indonesia tidak akan runtuh hanya karena berbeda pendapat.

Indonesia akan rapuh ketika kita kehilangan rasa saling menghormati.

Maka rawatlah persaudaraan.

Jaga kerukunan.

Hormati perbedaan.

Jangan biarkan ego merusak keharmonisan warga.

Sebab Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan di kaki Garuda. Ia adalah janji bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menghancurkan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka! Semoga di usia 81 tahun ini, kita bukan hanya semakin pandai mengucapkan Pancasila, tetapi semakin berani menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila tetap di hati.

Indonesia tetap dalam persaudaraan. Merdeka!— Bang Ali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *