Kebakaran Rumah Kayu di Suruh Renggut Nyawa, Gangguan Listrik Diduga Jadi Pemicu
KABUPATEN SEMARANG | PORTALLENSA.COM — Malam Jumat, 14 Agustus 2026, berubah menjadi duka bagi warga Dusun Boromiri, RT 026/RW 005, Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.
Sebuah rumah hunian berbahan kayu berukuran sekitar 10 x 8 meter ludes dilalap api. Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik itu merenggut satu nyawa, yakni Rohmat Salam, pemilik rumah.
Laporan kebakaran diterima Mako Damkar Kota Salatiga sekitar pukul 19.40 WIB. Tiga menit kemudian, petugas Regu 2 Damkar Salatiga bergerak menuju lokasi yang berjarak sekitar 20 kilometer. Petugas tiba pukul 20.14 WIB dan langsung melakukan penanganan.
Api pertama kali diketahui warga telah membesar di bagian tengah rumah. Warga berupaya mencari pertolongan dan menghubungi petugas pemadam. Penanganan kemudian melibatkan Damkar Salatiga bersama unsur pemadam dari wilayah sekitar.

Namun, di tengah kepanikan tersebut, terdapat satu persoalan paling memilukan: Rohmat Salam masih berada di dalam rumah dan tidak sempat menyelamatkan diri.
Korban diketahui mengalami gangguan jiwa sehingga diduga kesulitan melakukan evakuasi ketika api membesar. Petugas kemudian melakukan evakuasi korban sekaligus pemadaman dan pendinginan.
Sekitar pukul 21.15 WIB, proses pemadaman dinyatakan selesai. Dalam penanganan tersebut, kebutuhan air juga didukung PDAM Sukowati sebanyak sekitar 1.500 liter.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar tentang rumah yang terbakar. Di balik kobaran api, ada satu nyawa yang hilang dan sebuah keluarga yang harus menghadapi kehilangan.
Kebakaran juga kembali mengingatkan bahwa persoalan keselamatan listrik tidak boleh dianggap sepele. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penggunaan perangkat listrik yang sesuai standar, serta kewaspadaan terhadap kondisi penghuni rumah menjadi bagian penting dari upaya mencegah tragedi serupa.
Petugas Damkar Salatiga bersama Kasi Dammat dan personel Ferry H.P., Eko S., Agus S., Agung W., Ferian, Cakra, dan Yuli berjibaku menangani kebakaran hingga api benar-benar terkendali.
Di tengah musibah, kecepatan warga melapor dan respons petugas menjadi garis pertahanan terakhir. Namun, tragedi Rohmat Salam meninggalkan pesan yang jauh lebih dalam: api bisa dipadamkan, tetapi kehilangan satu nyawa tidak pernah bisa dinyalakan kembali. (Kang Gito/Bang_Ali).
