15 Ribu Ayam Dibagikan Gratis, 1.200 Peternak Mengadu ke Bupati Kendal: “Tolong Bawa Suara Kami ke Jakarta!”

0
IMG-20260810-WA0024

KENDAL – portallensa.com – Ribuan peternak ayam petelur Kabupaten Kendal akhirnya turun ke jalan. Bukan untuk membuat kerusuhan,

bukan pula untuk mencari perhatian semata. Mereka datang membawa satu kegelisahan: usaha peternakan rakyat yang selama ini menjadi sandaran hidup semakin terjepit oleh harga telur yang jatuh dan biaya pakan yang terus melambung.

Sekitar 1.200 peternak dengan iring-iringan 170 kendaraan memadati kawasan Alun-Alun Kendal, Senin (10/8/2026). Suasana aksi berlangsung damai, namun pesan yang disampaikan terdengar keras: peternak rakyat sedang berada di ujung tekanan ekonomi.

Di tengah aksi, para peternak bahkan membagikan sekitar 15.000 ekor ayam secara gratis kepada masyarakat. Bagi mereka, pembagian ayam bukan sekadar kegiatan sosial. Itu menjadi simbol bahwa di balik produksi pangan yang selama ini dinikmati masyarakat, ada peternak yang juga sedang berjuang mempertahankan kehidupannya.

Harga Telur Jatuh, Pakan Justru MelambungKetua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS), Suwardi, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya menyelamatkan keberlangsungan peternakan rakyat.

“Kami di sini bukan membuat onar. Kendal adalah rumah kami. Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi agar diteruskan ke pemerintah pusat,” tegas Suwardi di hadapan massa.

Persoalannya sederhana, tetapi dampaknya sangat serius: harga jual telur di tingkat peternak melemah, sementara ongkos produksi, terutama pakan, justru semakin berat.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, peternak rakyat bukan hanya kehilangan keuntungan. Mereka terancam tidak mampu mempertahankan kandang, membayar tenaga kerja, membeli pakan, hingga mempertahankan populasi ayam produktif.Bupati Kendal Turun Menemui Peternak

Di tengah ribuan peternak yang menyampaikan keresahan, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari hadir langsung menemui massa.

Bupati menerima berkas tuntutan dan menyatakan komitmennya untuk membawa persoalan tersebut ke tingkat pemerintah pusat.“Pemerintah Kabupaten Kendal ada di sisi bapak ibu. Semua aspirasi ini akan kami teruskan dan kawal ke pemerintah pusat. Kita harus sama-sama menjaga agar peternak rakyat tidak mati,” ujar Bupati.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian serius dari massa aksi. Sebab bagi peternak, persoalan harga telur dan pakan bukan sekadar persoalan perdagangan, tetapi menyangkut nasib ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari kandang-kandang ayam di berbagai wilayah Kendal.

Lima Tuntutan Dibawa ke JakartaAda lima tuntutan utama yang disampaikan para peternak kepada pemerintah pusat.Pertama, stabilisasi harga, termasuk penurunan harga pakan dan penetapan harga acuan di tingkat peternak agar harga telur tidak terus tertekan.

Kedua, memasukkan telur dalam program bantuan pangan nasional, sehingga serapan produksi peternak rakyat dapat meningkat.

Ketiga, memperpanjang program SPHP jagung dengan usulan alokasi enam bulan bagi peternak mikro, empat bulan bagi peternak kecil dan dua bulan bagi peternak menengah.

Keempat, menegakkan aturan kemitraan perusahaan besar dengan peternak rakyat sebesar 98 persen.

Kelima, moratorium atau pembatasan izin baru peternakan skala besar, sebagai langkah perlindungan terhadap keberlangsungan usaha peternak rakyat.

Lima tuntutan itu kini tidak boleh berhenti sebagai berkas yang diserahkan di halaman kantor pemerintahan. Para peternak ingin suara mereka benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan di Jakarta.

15 Ribu Ayam Gratis, Sebuah Pesan yang Tak Boleh DiabaikanAda pemandangan yang menjadi simbol kuat dalam aksi tersebut.15.000 ekor ayam dibagikan gratis kepada masyarakat.

Di satu sisi, ayam adalah sumber penghidupan peternak. Namun pada hari itu, ayam-ayam tersebut justru diberikan kepada warga.Pesannya sederhana: peternak selama ini ikut menyediakan pangan untuk masyarakat, tetapi siapa yang akan memastikan peternak tetap mampu bertahan?

Aksi damai tersebut akhirnya ditutup dengan penyerahan aspirasi secara simbolis. Massa kemudian membubarkan diri dengan tertib.Kini bola berada di tangan pemerintah.

Sebab jika harga telur terus tertekan, pakan tetap mahal dan peternakan rakyat dibiarkan berhadapan dengan industri skala besar tanpa perlindungan yang memadai, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kandang dan ayam.

Yang dipertaruhkan adalah keberlangsungan peternak rakyat sebagai salah satu penyangga pangan masyarakat.

Dan dari Alun-Alun Kendal, Senin itu, pesan mereka sudah dikirim:“Jangan biarkan peternak rakyat mati di kandangnya sendiri. Bawa suara kami sampai Jakarta. ( PK/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *