Ratusan Siswa SMKN 1 Salatiga Gelar Aksi, Persoalkan Perubahan Rencana Pembangunan Ruang Ekspresi

0
IMG-20260811-WA0001

SALATIGA, PORTALLENSA.COM – Ratusan siswa SMK Negeri 1 Kota Salatiga, Jawa Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan sekolah, Senin (10/8/2026). Mereka mempertanyakan perubahan rencana pembangunan fasilitas sekolah yang sebelumnya disebut akan menyediakan ruang terbuka untuk berekspresi dan berkegiatan bagi siswa.


Aksi berlangsung di lapangan sekolah hingga area teras ruang kepala sekolah. Para siswa menyampaikan aspirasi secara bersama-sama sambil membentangkan sejumlah spanduk yang berisi tuntutan agar pihak sekolah memberikan kejelasan mengenai rencana pembangunan fasilitas yang sebelumnya telah disampaikan kepada siswa.
Persoalan mencuat setelah siswa mendapatkan informasi bahwa lahan yang semula direncanakan untuk ruang ekspresi justru akan digunakan untuk pembangunan gedung ruang praktik siswa.
Perubahan rencana tersebut memicu kekecewaan di kalangan siswa. Mereka kemudian memilih menyampaikan aspirasi melalui aksi di lingkungan sekolah untuk meminta penjelasan secara langsung dari pihak manajemen sekolah.
Dalam aksi tersebut, tidak ada siswa yang bersedia memberikan keterangan kepada awak media. Para siswa memilih menyampaikan tuntutan secara bersama-sama melalui aksi yang mereka gelar.
Kepala SMK Negeri 1 Salatiga, Harti, menjelaskan bahwa aksi tersebut terjadi karena adanya miskomunikasi antara pihak sekolah dengan siswa terkait rencana pembangunan fasilitas.
Menurut Harti, ruang ekspresi bagi siswa tetap akan dibangun. Hanya saja, lokasinya mengalami perubahan karena lahan yang sebelumnya direncanakan untuk fasilitas tersebut akan dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan ruang praktik siswa.
“Ini sebenarnya karena ada miskomunikasi. Ruang ekspresi tetap ada, hanya lokasinya yang dipindahkan,” ujar Harti.
Harti menambahkan, pihak sekolah sebelumnya telah melakukan sosialisasi mengenai perubahan rencana tersebut. Namun, informasi itu dinilai belum sepenuhnya diterima oleh seluruh siswa sehingga muncul persepsi berbeda yang kemudian berkembang menjadi aksi.
Usai aksi, pihak sekolah bersama perwakilan siswa kemudian menggelar audiensi. Dalam pertemuan tersebut, sekolah memberikan penjelasan mengenai rencana pembangunan gedung ruang praktik siswa sekaligus memastikan fasilitas ruang ekspresi tetap masuk dalam program sekolah.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi jalan keluar agar persoalan tidak berkembang lebih jauh. Pihak sekolah juga berharap komunikasi antara siswa dan manajemen sekolah dapat diperkuat sehingga setiap kebijakan pembangunan dapat dipahami bersama.
Dengan adanya dialog tersebut, sekolah berharap proses pembangunan fasilitas dapat berjalan sesuai rencana tanpa mengesampingkan kebutuhan siswa terhadap ruang untuk berekspresi, berkegiatan, dan mengembangkan kreativitas di lingkungan sekolah. ( Red / tm )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *