Editorial Portallensa: MBG Bukan Sekadar Bagi-Bagi Makanan, Keselamatan Anak Bangsa Tak Boleh Dipertaruhkan

0
Screenshot_20260801_083643

Semarang | Portallensa.com Belum lama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Sudaryono, menyampaikan komitmennya untuk membenahi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Harapan publik pun muncul bahwa tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan semakin baik. Namun harapan itu mendadak terusik.

Ratusan siswa SMKN 6 Semarang dilaporkan mengalami gejala yang diduga sebagai keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG. Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan 707 siswa dan 14 guru mengalami keluhan seperti pusing, mual, muntah, dan diare. Sebagian harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dan puskesmas, sementara distribusi makanan dari SPPG dihentikan sementara.

Terlepas dari apa pun hasil investigasi nanti, satu hal tidak bisa dibantah: program sebesar MBG sedang menghadapi ujian kepercayaan publik.

Program ini sejak awal dipromosikan sebagai investasi untuk melahirkan generasi sehat, cerdas, dan berprestasi. Anggaran yang digelontorkan negara pun mencapai ratusan triliun rupiah. Maka, ketika ratusan siswa justru diduga jatuh sakit setelah menyantap makanan program tersebut, publik berhak bertanya: di mana letak pengawasannya?

Apakah seluruh SPPG benar-benar telah memenuhi standar keamanan pangan?

Apakah setiap juru masak memiliki kompetensi yang memadai?

Apakah proses penyimpanan, pengemasan, distribusi hingga makanan tiba di tangan siswa diawasi secara ketat?

Ataukah target mengejar jumlah dapur dan jutaan porsi justru mengalahkan aspek kualitas dan keselamatan?

BGN tidak cukup hanya menyampaikan bahwa program akan dievaluasi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah audit menyeluruh, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika ditemukan kelalaian, siapa pun yang bertanggung jawab harus dikenai sanksi. Jangan sampai keselamatan anak-anak dikorbankan demi mengejar target capaian program.

Klaim bahwa MBG mampu meningkatkan gizi, kecerdasan, dan prestasi belajar juga perlu dibuktikan dengan implementasi yang benar. Makanan bergizi tidak akan membawa manfaat apabila keamanan pangannya tidak terjamin. Sebaliknya, makanan yang terkontaminasi justru dapat mengancam kesehatan peserta didik dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.

Kasus di SMKN 6 Semarang harus menjadi momentum perbaikan total, bukan sekadar insiden yang berlalu tanpa pembelajaran. Pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik. Kritik adalah bagian dari pengawasan publik agar program yang menggunakan uang rakyat benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.

BGN harus menjawab pertanyaan publik dengan data, hasil uji laboratorium, dan langkah konkret, bukan sekadar pernyataan normatif. Masyarakat menunggu transparansi, bukan pembelaan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan diukur dari berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari. Keberhasilannya diukur dari satu hal yang paling mendasar: apakah setiap anak pulang ke rumah dalam keadaan lebih sehat, atau justru membawa pulang rasa sakit.

Keselamatan anak bangsa bukan ruang untuk coba-coba. Program nasional sebesar apa pun tidak boleh mengabaikan prinsip paling mendasar: keamanan pangan adalah harga mati.

Bang _ Ali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *