POJOK BANG ALI: Teh Manis Hangat, Bang Jono, dan Mimpi Menjadikan Media sebagai Jembatan Informasi Publik
Pagi menjelang siang. Matahari belum terlalu garang. Seperti biasa, setelah membantu istri di warung sarapan, aku mengambil posisi favorit: meja pojok dekat termos air panas. Meja yang lebih sering dipakai menulis berita daripada menghitung untung warung.
Belum juga ide mengalir, terdengar suara yang sudah sangat akrab.
“Selamat pagi, saudaraku…” Aku menoleh. Bang Jono datang dengan kaos olahraga, celana training, dan sepeda yang masih berkeringat.
“Sehat terus, Bang,” jawabku.
“Ada angin apa pagi-pagi sudah sampai sini?” tanyaku.
“Biasa… muter-muter naik sepeda. Daripada muter-muter di pikiran,” katanya sambil tertawa.
Bang Jono ini memang unik. Seorang ASN, pemikir moderat, kritis, tapi kalau berdiskusi tidak pernah memaksakan pendapat. Lawan bicara diajak berpikir, bukan diajak bertengkar. Orang seperti ini sekarang mulai langka. Yang banyak justru ahli komentar sebelum membaca.
“Monggo, mau minum apa?”
“Teh manis hangat… sehangat pagi ini.”
Aku pun memanggil istri.
“Ma… satu teh manis hangat. Jangan terlalu manis, nanti Bang Jono susah membedakan mana teh, mana rayuan.”Kami tertawa.
Belum sempat teh datang, Bang Jono langsung membuka pembicaraan.
“Aku lihat perkembangan Portallensa luar biasa. Pembacanya mulai banyak. Viewer-nya juga lumayan. Untuk media daerah, ini pertumbuhannya bagus. Ada yang beda.”Aku tersenyum.
“Oh… ternyata diam-diam mengamati juga. Kukira sibuk mengamati dracin.”Bang Jono tertawa lepas.
“Menurutku, Bang Ali lebih cocok di dunia media daripada di LBH. Dulu di Djalapaksi berkembang, sekarang Portallensa juga. Sebenarnya apa sih motivasinya terjun di media?”
Aku menyeruput kopi.
“Mau jawaban jujur… atau jawaban yang enak didengar?”
“Terserah. Yang penting jangan seperti janji politik.”Kami kembali tertawa.
Aku mulai bercerita.
“Pertama, wartawan sering diidentikkan sebagai orang yang mencari-cari kesalahan. Datang, cari celah, lalu berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan keuntungan. Memang tidak semuanya begitu, tapi stigma itu terlanjur melekat. Ditambah lagi media siluman yang kantornya tidak jelas, tetapi proposal iklannya keliling ke mana-mana. Ada kartu pers, tapi berita tidak ada.”
“Padahal media seharusnya menjadi jembatan informasi publik. Menyampaikan fakta, bukan menjual ketakutan.”Bang Jono mengangguk pelan.
“Kedua, ruang publik sekarang terlalu ramai oleh narasi negatif. Seolah negeri ini isinya hanya korupsi, tawuran, konflik, dan saling hujat. Padahal di desa-desa masih banyak gotong royong. Di sekolah masih banyak anak berprestasi. Babinsa, Bhabinkamtibmas, guru, relawan, dan masyarakat masih bekerja tanpa banyak bicara.”
“Kalau yang baik tidak pernah diberitakan, nanti anak-anak kita mengira dunia ini hanya dipenuhi keburukan.”Bang Jono kembali mengangguk.
“Ketiga, aku ingin masyarakat ikut menjadi bagian dari media. Kepala desa boleh mengirim kegiatan desanya. Sekolah mengirim prestasi siswanya. Organisasi masyarakat mengirim kegiatan sosialnya. Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, OPD, siapa pun yang bekerja untuk masyarakat, silakan kirim berita.”
“Media bukan hanya milik wartawan. Media adalah rumah bersama untuk informasi yang bermanfaat.”
Bang Jono lalu bertanya lagi.
“Kalau begitu, bagaimana wartawan di lapangan bisa tetap hidup tanpa harus cari-cari masalah?
“Nah… ini pertanyaan yang paling mahal.
Aku tersenyum.
“Media memang perusahaan. Tapi mencari keuntungan di media hari ini tidak semudah dua puluh tahun lalu. Dulu iklan koran dan media menjadi primadona. Sekarang? Anggaran iklan banyak yang lari ke Facebook, TikTok, dan platform digital.”
“Kalau wartawan hanya menggantungkan hidup dari media, godaannya besar.”
“Lalu?”
“Aku selalu mengingatkan teman-teman jurnalis agar punya usaha sendiri. Ada yang jualan, bertani, buka bengkel, servis komputer, usaha interior, apa saja yang halal. Dengan begitu mereka tidak bergantung pada amplop atau mencari-cari kesalahan orang.”
“Kalau perutnya sudah aman, tulisannya biasanya juga lebih jujur.”
Bang Jono tertawa.”Itu teori baru ya?”
“Bukan teori… pengalaman.”
Aku melanjutkan.”Untuk berita kegiatan juga tidak harus semua wartawan turun ke lapangan. Banyak instansi sekarang punya humas. Desa punya dokumentasi. Sekolah punya operator. Babinsa, Bhabinkamtibmas, camat, OPD semuanya bisa mengirim rilis dan foto. Tugas wartawan adalah memverifikasi, mengolah, dan menyajikannya menjadi berita yang layak dibaca.”
Bang Jono menghabiskan teh manisnya.”Berarti wartawan sekarang bukan hanya pintar menulis…”
“Iya.”
“Tapi juga harus pintar menyaring.”
“Betul.”
“Dan jangan mudah nyinyir.”
“Itu yang paling penting.”Kami pun sama-sama tertawa.
Bang Jono pamit melanjutkan gowes.
Aku kembali ke meja kecilku. Kopi tinggal setengah. Ide sudah penuh. Kadang inspirasi memang tidak datang dari ruang rapat ber-AC atau seminar berbintang lima. Cukup dari segelas teh manis hangat, seorang sahabat yang gemar bersepeda, dan obrolan sederhana di warung sarapan.Karena pada akhirnya…
Media yang baik bukan media yang paling keras berteriak.Tetapi media yang mampu menjadi jembatan, agar masyarakat saling mendengar, saling memahami, dan tetap percaya bahwa di negeri ini, masih banyak kabar baik yang layak diperjuangkan. (Coretan Bang Ali).
