Malam 1 Suro, Saatnya Bukan Hanya Mencuci Keris, Tapi Juga Membersihkan Hati Para Koruptor
Padahal, rakyat itu ibarat penumpang bus. Kalau sopirnya ugal-ugalan, ya wajar kalau penumpangnya berteriak. Bukan karena ingin merebut setir, melainkan karena masih ingin sampai tujuan dengan selamat.
Portallensa.com- Malam 1 Suro selalu dianggap istimewa oleh sebagian masyarakat Jawa. Ada yang larung sesaji ke laut, ada yang tirakatan, ada yang membuat tumpeng dan berdoa bersama di balai RT. Ada pula yang memilih diam, merenung, dan berharap tahun baru Saka membawa keberkahan bagi negeri.
Namun, di tengah suasana sakral dan penuh refleksi itu, rakyat Indonesia masih disuguhi tontonan yang sama dari tahun ke tahun. Bukan wayang kulit, bukan ketoprak, melainkan parade kasus korupsi yang seolah tak pernah kehabisan episode.
Kalau malam 1 Suro dipercaya sebagai malam membersihkan diri dan mendekatkan kepada Tuhan, mungkin sebagian pejabat perlu menambah satu agenda lagi, yakni membersihkan rekening yang terlalu gemuk dan mengembalikan hak rakyat yang nyasar ke kantong pribadi.
Korupsi di negeri ini tampaknya sudah seperti penyakit musiman. Bedanya, kalau musim hujan datang setahun sekali, musim korupsi datang hampir setiap hari. Dari pusat sampai daerah, dari yang anggarannya miliaran hingga triliunan, selalu saja ada cerita baru yang membuat rakyat mengelus dada sambil bertanya, “Masih ada yang tersisa untuk kami?”
Masalahnya memang bukan sekadar soal gaji. Berapa pun besar penghasilan, jika mentalnya masih menganggap uang rakyat sebagai “rezeki nomplok”, maka kenaikan gaji hanya akan menaikkan standar kemewahan, bukan standar kejujuran.
Sumpah jabatan yang diucapkan saat pelantikan pun kadang terdengar seperti lirik lagu yang hafal di mulut, tetapi lupa maknanya di hati. Kalimat “demi Tuhan saya bersumpah” selesai diucapkan pagi hari, sorenya mungkin sudah sibuk mencari celah agar proyek bisa “diamankan”.
Yang lebih menarik lagi, ketika rakyat mengkritik, sebagian penguasa menganggapnya angin lalu. Tetapi ketika suara rakyat mulai meninggi karena lelah dan marah, tiba-tiba muncul istilah yang mengerikan: dianggap provokasi, dianggap mengganggu stabilitas, bahkan ada yang seolah melihat kritik sebagai ancaman.
Padahal, rakyat itu ibarat penumpang bus. Kalau sopirnya ugal-ugalan, ya wajar kalau penumpangnya berteriak. Bukan karena ingin merebut setir, melainkan karena masih ingin sampai tujuan dengan selamat.
Sayangnya, ruang publik hari ini lebih sering dipenuhi perang klaim. Pemerintah merasa sudah benar, sementara rakyat melihat kenyataan di lapangan yang kadang tidak seindah pidato dan konferensi pers. Akibatnya, masyarakat menjadi bingung. Mana yang harus dipercaya, kata-kata atau fakta?
Malam 1 Suro seharusnya menjadi momen introspeksi bersama. Bukan hanya bagi rakyat kecil yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bagi para pemegang kekuasaan.
Karena sesungguhnya, rakyat tidak meminta pejabat menjadi malaikat. Rakyat hanya berharap mereka tidak berubah menjadi makhluk yang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan rasa malu.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka justru orang yang ketika berbicara sesuai dengan kapasitasnya, ketika berjanji mau menepati, dan ketika salah berani mengakui.
Orang Jawa punya petuah sederhana, “Sing salah kudu seleh.” Yang salah harus mengalah, yang keliru harus memperbaiki diri. Sebab sejarah telah membuktikan, tidak ada kekuasaan yang abadi, tidak ada jabatan yang dibawa mati, dan tidak ada korupsi yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya.
Ketika tangan rakyat terasa terlalu pendek untuk menjangkau perubahan, ketika suara kritik seolah tidak lagi didengar, maka masih ada satu tempat untuk menggantungkan harapan, yakni kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Di malam 1 Suro ini, seluruh rakyat Indonesia memiliki doa yang sama: negeri yang lebih adil, pemimpin yang lebih bijak, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan oleh rakyat, bukan hanya hadir dalam statistik.
Semoga Indonesia tetap jaya, rakyatnya semakin sejahtera, dan para pelaku korupsi segera sadar bahwa uang rakyat bukan warisan nenek moyang yang bisa dibagi sesuka hati.
Karena pada akhirnya, yang paling keramat di negeri ini bukan malam 1 Suro, melainkan kekuatan doa rakyat yang sudah terlalu lama bersabar. //Bang_Ali//