Juni 6, 2026

Kendal Bergerak Setelah Suara Rakyat Menggema

Masyarakat Kendal sesungguhnya tidak anti tambang. Mereka hanya menginginkan keadilan. Mereka ingin udara yang bersih, jalan yang aman, lingkungan yang terjaga, serta kepastian bahwa aturan berlaku untuk semua pihak.

IMG-20260606-WA0000

KENDAL —portallensa.com- Di era media sosial, suara rakyat tidak lagi harus menunggu ruang audiensi resmi untuk didengar. Cukup dengan satu unggahan yang menyentuh keresahan bersama, gelombangnya bisa sampai ke meja pengambil kebijakan. Itulah yang terjadi di Kabupaten Kendal.

 

Kritik masyarakat terhadap aktivitas tambang galian C yang selama ini dianggap menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan sosial akhirnya mendapat respons nyata. Pemerintah Kabupaten Kendal bersama unsur Forkopimda memutuskan mengaktifkan kembali Satgas Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB), sebuah langkah yang lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari tekanan dan aspirasi publik yang terus bergema.

 

Fenomena “Kendal Nggebal” menjadi simbol perlawanan warga terhadap kondisi yang mereka rasakan sehari-hari. Jalan rusak, debu yang mengganggu kesehatan, ancaman keselamatan akibat lalu lalang truk bertonase besar, hingga kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan menjadi akumulasi keresahan yang selama ini menunggu jawaban.

 

Menariknya, pemerintah memilih tidak bersikap defensif. Kritik yang muncul, termasuk konten viral yang menyindir pejabat daerah dengan gambar bersimbah lumpur, justru diterima sebagai bentuk kontrol sosial. Sikap ini patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa demokrasi yang sehat bukan hanya soal menerima pujian, tetapi juga keberanian mendengar kritik yang menyakitkan.

 

Namun, masyarakat tentu berharap lebih dari sekadar rapat dan pembentukan satgas. Pengalaman selama ini mengajarkan bahwa persoalan tambang tidak selesai dengan seremonial, spanduk, atau foto bersama. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dan konsisten di lapangan.

Penertiban truk tambang yang melanggar kapasitas jalan menjadi ujian pertama. Sebab, warga sudah terlalu sering menyaksikan jalan desa dan jalan kabupaten yang dibangun dari uang rakyat rusak lebih cepat akibat beban kendaraan yang tidak sesuai kelas jalan. Kerusakan itu pada akhirnya harus ditanggung masyarakat melalui biaya perbaikan yang tidak sedikit.

 

Di sisi lain, aktivitas pertambangan memang memiliki kontribusi terhadap perekonomian daerah. Banyak warga menggantungkan hidup dari sektor tersebut. Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar menutup atau membiarkan, melainkan memastikan bahwa keuntungan ekonomi tidak dibayar dengan kerusakan lingkungan dan penderitaan masyarakat sekitar.

 

Satgas MBLB kini memikul harapan besar. Mereka harus mampu membuktikan bahwa negara hadir bukan hanya ketika masalah menjadi viral, tetapi juga dalam pengawasan rutin yang berkelanjutan. Ketegasan terhadap pelanggaran harus berlaku sama, tanpa memandang siapa pelakunya dan seberapa besar modal yang dimiliki.

 

Masyarakat Kendal sesungguhnya tidak anti tambang. Mereka hanya menginginkan keadilan. Mereka ingin udara yang bersih, jalan yang aman, lingkungan yang terjaga, serta kepastian bahwa aturan berlaku untuk semua pihak.

 

Aktivasi kembali Satgas MBLB adalah langkah awal yang baik. Namun sejarah akan mencatat bukan dari seberapa banyak rapat yang digelar, melainkan dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan warga di lapangan.

 

Karena pada akhirnya, suara rakyat yang viral bukanlah ancaman bagi pemerintah. Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dan ketika pemerintah memilih mendengar, di situlah kepercayaan publik mulai tumbuh kembali. //PK/Bang_Ali//.