Mei 25, 2026

Diduga Kritik Berujung Sanksi, Dua Siswa di Pesawaran Alami Pemutusan Makan Bergizi Gratis

ChatGPT Image 25 Jan 2026, 11.50.33

Pesawaran, Lampung – portallensa.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi jaring pengaman pemenuhan gizi anak sekolah, justru diduga berubah menjadi alat sanksi. Dua murid di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, dilaporkan tidak menerima jatah MBG selama tiga hari setelah orang tua mereka mengkritik buruknya pelayanan program tersebut melalui media sosial.

Kedua siswa tersebut merupakan kakak beradik, Alfan, siswa kelas VI MI Al-Fatah, dan Arsya, murid TK RA MA Arif 1. Keduanya tidak lagi menerima MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program MBG Desa Trimulyo yang dikelola oleh Yayasan Garanta.

Kasus ini menuai reaksi keras dari DPRD Kabupaten Pesawaran. Wakil Ketua I DPRD Pesawaran, M. Nasir, bersama Komisi IV DPRD Pesawaran, turun langsung menemui kedua siswa sekaligus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG MBG Trimulyo.

Dalam kunjungan tersebut, DPRD menemukan sejumlah kejanggalan. Salah satu temuan mencolok adalah menu MBG berupa buah salak yang dalam kondisi busuk namun tetap disajikan kepada siswa. DPRD juga menilai telah terjadi tindakan diskriminatif terhadap dua anak tersebut sebagai dampak dari kritik orang tua mereka.

“Ini jelas dampak dari orang tua siswa yang mengkritik. Kalau merasa dirugikan, seharusnya tempuh jalur hukum, bukan malah mengorbankan anaknya. Ini berdampak serius pada psikologis anak. Teman-temannya dapat, dia tidak. Ini kejam,” tegas M. Nasir.

Nasir menilai kritik yang disampaikan orang tua merupakan kritik sosial yang wajar dan tidak dapat dijadikan dasar pemberian sanksi terhadap anak.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Berdosa kita kalau diam. Anak-anak ini menjadi korban. Dari hasil diskusi kami, terbukti ada pemutusan MBG karena postingan orang tua yang memviralkan pelayanan buruk,” ujarnya.

Komisi IV DPRD Pesawaran menyimpulkan bahwa pengelolaan dapur MBG Trimulyo telah melampaui kewenangan dan menunjukkan sikap arogansi. Bahkan, DPRD menilai persoalan ini telah masuk ke ranah hukum.

“Kami melihat potensi gangguan psikologis serius terhadap anak. Ada intimidasi terhadap orang tua, serta upaya menakut-nakuti dengan salah tafsir undang-undang. Ini bukan sekadar administrasi, tapi sudah ranah hukum,” kata Nasir.

Atas dasar tersebut, DPRD secara tegas meminta agar dapur SPPG MBG Trimulyo segera ditutup dan diganti pengelola lain.

“Hari ini saya nyatakan dapur MBG ini layak ditutup. Saya minta BGN segera menutup dan menggantinya. Jika tidak, akan terjadi gejolak di masyarakat. Pamong desa, pihak sekolah, semua sudah gerah,” tegasnya.

DPRD juga menyatakan akan membawa kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi, mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, hingga Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ini ada indikasi pelanggaran hukum berupa intimidasi dan perundungan yang berdampak pada psikologis anak. Ini wilayah aparat penegak hukum,” lanjut Nasir.

Sementara itu, penanggung jawab SPPG MBG Desa Trimulyo, Dewi Ratih, membantah tudingan tersebut. Ia menyebut keputusan yang diambil merupakan saran dari pihak pusat.

“Kondisinya memang sedang panas. Saya akan ke DPRD untuk menjelaskan secara detail dan membawa bukti. MBG itu dibagikan dari dapur, tidak selalu diantar ke sekolah,” ujarnya.

Dewi juga mengklaim bahwa kedua anak tersebut tetap menerima MBG.
“Untuk dua anak itu sebenarnya mereka dapat setiap hari. Ada anak tidak mampu yang MBG-nya kami berikan langsung ke yang bersangkutan. Saya punya buktinya. Sanksi yang saya berikan hanya satu periode, anggaran satu minggu memang tidak saya ajukan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam jika merasa diserang.
“Kalau itu kritik atau saran kami terima. Tapi kalau sudah fitnah, ujaran kebencian, atau merusak nama baik, tentu kami harus membela diri,” tambahnya.

Terkait desakan penutupan dapur MBG, Dewi menyatakan akan berkoordinasi dengan DPRD dan BGN pusat. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi dan berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG ke depan. (Red./Kreatot. Bang_Ali)