Sekolah SD Kristen 3 Ebenhaezer Salatiga,Soroti Tantangan Mendidik Generasi Alfa di Era Digital
SALATIGA – portallensa.com – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa tantangan tersendiri bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Gawai, internet, gim daring hingga media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan anak-anak, khususnya Generasi Alfa.
Menyikapi kondisi tersebut, Sekolah SD Kristen 3 Ebenhaezer Salatiga menggelar seminar parenting bertajuk “Mendampingi Anak Berhikmat di Era Digital”. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi orang tua untuk memahami pola pengasuhan yang tepat di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Seminar menghadirkan pakar Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Yustinus Windrawanto, S.Pd., M.Pd. Dalam pemaparannya, ia mengulas berbagai tantangan yang dihadapi orang tua ketika mendampingi anak yang sejak kecil telah tumbuh berdampingan dengan teknologi digital.
Menurut Yustinus, perbedaan generasi menjadi salah satu tantangan. Orang tua yang banyak berasal dari Generasi X dan Milenial harus menghadapi anak-anak yang memiliki kemampuan adaptasi sangat cepat terhadap teknologi.
Waspadai Pola Asuh “Helikopter”
Selain persoalan teknologi, seminar juga menyoroti fenomena helicopter parenting, yakni pola pengasuhan ketika orang tua terlalu jauh mengawasi, mengatur, bahkan menyelesaikan berbagai persoalan yang sebenarnya dapat dipelajari dan dihadapi sendiri oleh anak.
Pola pengasuhan berlebihan tersebut dikhawatirkan membuat anak kurang terlatih menghadapi tekanan dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Yustinus juga menjelaskan perkembangan kemampuan anak dalam mengendalikan emosi dan mengambil keputusan. Menurutnya, perkembangan pusat emosi berlangsung berbeda dengan bagian otak yang berperan dalam pertimbangan dan pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut membuat pendampingan orang tua tetap diperlukan agar anak tidak mudah terbawa keinginan memperoleh kesenangan secara instan, termasuk yang ditawarkan melalui dunia digital.
Video Pendek dan Ancaman Menurunnya Konsentrasi
Persoalan lain yang mendapat perhatian adalah kebiasaan mengonsumsi video pendek secara terus-menerus atau scrolling tanpa batas.
Kebiasaan menerima stimulasi secara cepat dikhawatirkan membuat anak semakin sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama. Anak dapat menjadi mudah bosan ketika harus menjalani proses yang membutuhkan konsentrasi dan kesabaran, seperti membaca buku maupun mengikuti kegiatan belajar.
Fenomena yang populer disebut brain rot tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengawasan dan pendampingan penggunaan perangkat digital di lingkungan keluarga.
Jangan Hanya Melarang, Orang Tua Harus Mendampingi
Menanggapi kekhawatiran orang tua terhadap gim daring, termasuk Roblox, serta penggunaan gawai berlebihan, seminar tersebut menekankan bahwa pelarangan secara mutlak belum tentu menjadi jalan keluar terbaik.
Aturan yang terlalu kaku tanpa komunikasi justru berpotensi mendorong anak menggunakan gawai secara sembunyi-sembunyi. Karena itu, orang tua didorong membangun kesepakatan, pengawasan, komunikasi, serta memberikan contoh penggunaan teknologi secara sehat.
Pemanfaatan teknologi juga diarahkan dari sekadar konsumsi pasif menuju kegiatan yang lebih produktif dan edukatif, misalnya belajar coding, membuat karya atau konten kreatif, serta menggunakan teknologi untuk menunjang proses pembelajaran.
Orang tua juga dapat mengajak anak melakukan refleksi setelah menggunakan media digital. Anak diajak memahami apa yang telah dilihat, pelajaran apa yang diperoleh, serta tindakan bijak apa yang dapat dilakukan setelahnya.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kemampuan anak untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, bukan sekadar menjadi konsumen dari berbagai konten yang disajikan algoritma digital.
Seminar ditutup dengan doa bersama sekaligus komitmen memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Melalui kegiatan tersebut, Sekolah Kristen 3 Ebenhaezer Salatiga ingin mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak semestinya dipandang hanya sebagai ancaman. Teknologi dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan selama digunakan secara tepat, terarah, dan tetap berada dalam pendampingan orang tua.
Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah sederhana namun penting: teknologi seharusnya dikendalikan manusia, bukan justru mengendalikan kehidupan dan masa depan anak-anak.
narasumber : gio
red. : tomi
