Tirakatan HUT RI ke-81, Dari Tumpeng hingga Kritik: Merawat Persatuan di Tengah Riuh Persoalan Negeri

0
IMG-20260817-WA0004

SALATIGA & KAB.SEMARANG –PORTALLENSA.COM– Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 tahun ini kembali menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan kemewahan. Di tingkat kampung dan perumahan, kemerdekaan justru terasa ketika warga duduk bersama, berdoa, mengenang jasa pahlawan, dan saling menguatkan.


Suasana itu terlihat dalam Malam Tirakatan HUT RI ke-81 yang digelar warga RT 12 Pringsari Indah, Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Minggu malam (16/8/2026).


Mengusung semangat “Wujud Kebersamaan, Mengenang Pahlawan Kemerdekaan dan Memupuk Persatuan”, warga dari berbagai usia berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna.


Acara diawali pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, mengheningkan cipta yang dipimpin Ketua RT Mulyo Sutarno, doa bersama lintas agama, pembacaan teks Proklamasi, puisi kemerdekaan, sambutan, potong tumpeng, hingga ramah tamah dan pembagian doorprize.
Namun, tirakatan bukan sekadar urusan tumpeng dan seremonial tahunan.


Ada pesan yang jauh lebih penting: kemerdekaan akan kehilangan makna apabila persatuan di antara warga justru terkikis oleh ego, perbedaan pilihan, status sosial, maupun kepentingan pribadi.


Ketua RT 12 mengingatkan bahwa 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk mengisi kemerdekaan dengan kehidupan bermasyarakat yang guyub, rukun, gotong royong dan peduli terhadap lingkungan.
“Tirakatan bukan hanya seremonial, tetapi wujud syukur dan kebersamaan. RT 12 kuat karena kita bersatu.”


Pesan tersebut menjadi relevan ketika kehidupan sosial masyarakat hari ini semakin mudah terbelah hanya karena perbedaan pandangan.
Di tengah derasnya informasi, perdebatan politik, persoalan ekonomi hingga berbagai persoalan sosial, tetangga semestinya tidak berubah menjadi lawan.


Sebab, ketika persoalan datang, sering kali orang pertama yang mengetuk pintu bukan pejabat, bukan tokoh politik, melainkan tetangga di sebelah rumah.


Dari Pringsari hingga Salatiga, Merdeka dengan Cara Sederhana
Semangat serupa juga terlihat di Perumahan Bulupermai RT 04/RW 06, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga.


Warga merayakan HUT RI ke-81 dengan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh kelompok usia, dari anak-anak hingga orang tua.


Malam tirakatan menjadi puncak kebersamaan. Ketua RT Subiyanto Adam bersama seorang tokoh pelaku sejarah yang kini berusia 89 tahun melaksanakan prosesi potong tumpeng.


Kehadiran sosok sepuh tersebut menjadi simbol penting: kemerdekaan yang dinikmati generasi hari ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada pengorbanan, air mata, keberanian dan perjuangan generasi sebelumnya.


Karena itu, mengenang pahlawan tidak cukup hanya dengan memasang bendera selama bulan Agustus.


Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga cita-cita mereka?


Warga Bulupermai menyatakan tetap berkomitmen meneruskan cita-cita para pahlawan, meskipun berbagai persoalan masih dihadapi masyarakat, termasuk persoalan sampah yang tengah menjadi perhatian di Kota Salatiga.


Justru dalam kondisi seperti itulah semangat kemerdekaan diuji.


Menjadi warga yang baik bukan hanya ketika keadaan nyaman. Kepedulian terhadap lingkungan, kebersihan, kerukunan dan kehidupan sosial harus tetap dijalankan ketika persoalan datang silih berganti.


Jangan Sampai Merdeka dari Penjajahan, tetapi Terjajah oleh Ego


Tirakatan di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya menyimpan kritik sosial yang sederhana.


Kita sudah 81 tahun merdeka dari penjajahan, tetapi jangan sampai masyarakat justru “terjajah” oleh ego, kebencian, fanatisme kelompok, kepentingan politik dan sikap saling curiga.


Perbedaan suku, agama, pekerjaan, tingkat ekonomi maupun pilihan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.


Sebab Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar tulisan di lambang negara. Ia harus hidup di halaman rumah, di pos ronda, di warung, di kegiatan RT, dan dalam cara kita memperlakukan tetangga.


Sebelum malam tirakatan digelar, warga Pringsari Indah juga telah melakukan berbagai kegiatan, mulai kerja bakti membersihkan lingkungan, pemasangan umbul-umbul, hingga berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak, pemuda, bapak-bapak dan ibu-ibu.


Itulah wajah kemerdekaan yang sesungguhnya: tidak selalu megah, tetapi dekat dengan rakyat.
Di satu sisi ada panggung besar, pidato dan berbagai perayaan. Di sisi lain, ada warga kampung yang duduk bersila di atas tikar, berdoa bersama, memotong tumpeng dan makan dalam satu meja.


Yang satu mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah persatuan sering kali tumbuh.


Kemerdekaan Harus Terasa Sampai Tetangga Sebelah
Peringatan HUT RI ke-81 akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia republik.
Ia adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah Indonesia yang merdeka juga membuat masyarakatnya semakin peduli, semakin adil, semakin rukun dan semakin manusiawi?


Karena ukuran kemerdekaan bukan hanya pembangunan yang menjulang tinggi atau angka-angka keberhasilan yang diumumkan dari atas podium.


Kemerdekaan juga terlihat ketika warga masih mau bergotong royong, ketika tetangga masih saling membantu, ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan, dan ketika anak-anak masih diajari menghormati sejarah.
Dari Pringsari hingga Salatiga, pesan itu terdengar sederhana: kita boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.


Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera.
Karena kemerdekaan yang paling indah adalah ketika negeri merdeka, masyarakatnya rukun, dan tetangga masih menjadi keluarga pertama ketika kesulitan datang.(juharmanik/AgusM/Bang_Ali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *