19 Rumah Warga Retak di Tengah Megaproyek Pakuwon Mall, Pemkot Semarang Didesak Turun Tangan
SEMARANG — Megaproyek pembangunan Superblok Pakuwon Mall Semarang di kawasan Gombel Lama kembali menjadi sorotan. Di tengah geliat investasi bernilai besar yang diharapkan mampu menggerakkan perekonomian Kota Semarang, muncul persoalan serius dari masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pembangunan.
Sedikitnya 19 rumah warga di RT 006/RW 005 Kelurahan Tinjomoyo dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari dinding retak hingga lantai yang disebut mengalami ambles.Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas pekerjaan konstruksi, termasuk penggunaan alat berat dan aktivitas pengeboran di sekitar proyek.
Dugaan tersebut tentu membutuhkan pembuktian teknis. Namun satu hal yang tidak bisa diabaikan: ketika rumah warga mulai mengalami kerusakan dan masyarakat merasa keselamatannya terganggu, pemerintah tidak boleh hanya menunggu persoalan menjadi lebih besar.
Bukan Sekadar Retakan, Ada Kekhawatiran Keselamatan Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar retakan pada tembok yang bisa ditutup dengan semen dan dicat kembali.Rumah merupakan tempat warga berlindung dan menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap perubahan struktur bangunan yang muncul bersamaan dengan aktivitas proyek perlu diperiksa secara serius.

Apalagi kawasan Gombel Lama merupakan kawasan perbukitan dengan karakteristik geografis yang membutuhkan perhatian dalam pembangunan berskala besar.Getaran alat berat, aktivitas pematangan lahan, perubahan kontur tanah, limpasan air hujan, hingga sistem pengamanan lereng merupakan sejumlah aspek yang perlu diawasi secara ketat.
Pertanyaannya sederhana:Apakah seluruh potensi risiko tersebut sudah benar-benar diperhitungkan dan dimitigasi secara maksimal?Dan yang tidak kalah penting:Jika kerusakan rumah warga terbukti berkaitan dengan aktivitas proyek, siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana bentuk pemulihannya?
Warga Menolak Penyelesaian “Tambal Sulam”Forum Advokasi Rakyat (FAR) meminta persoalan tersebut tidak diselesaikan secara sederhana melalui perbaikan fisik yang hanya bersifat sementara.
FAR mendorong dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap rumah warga terdampak untuk mengetahui kondisi struktur bangunan sebelum dan sesudah pekerjaan proyek.Jika diperlukan, pemeriksaan dapat melibatkan tenaga ahli independen sehingga hasilnya tidak menimbulkan prasangka dan dapat diterima semua pihak.
Bagi warga, yang dibutuhkan bukan sekadar tembok kembali mulus.Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa rumah mereka aman.Pengembang Diminta TerbukaPihak pengembang juga dinilai perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai langkah mitigasi yang dilakukan selama proses pembangunan.
Masyarakat berhak mengetahui bagaimana pengendalian getaran dilakukan, bagaimana stabilitas tanah dan lereng dijaga, bagaimana air hujan serta limpasan dari kawasan proyek dikelola, dan bagaimana mekanisme pengaduan warga apabila terjadi kerusakan maupun gangguan akibat aktivitas pembangunan.
Transparansi tersebut penting agar tidak muncul kesan bahwa masyarakat hanya diminta menerima konsekuensi dari pembangunan tanpa memperoleh informasi yang memadai.Investasi besar seharusnya juga diikuti tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat dan lingkungan.
Pemkot Semarang Jangan Sampai Hadir Setelah Masalah MembesarSorotan berikutnya tertuju kepada Pemerintah Kota Semarang.Pemkot bersama instansi teknis terkait perlu memastikan seluruh aktivitas pembangunan berjalan sesuai ketentuan perizinan, tata ruang, persetujuan lingkungan, serta standar keselamatan yang berlaku.
Pengawasan tidak boleh hanya sebatas pemeriksaan dokumen di atas meja.Kalau ada laporan warga, turun ke lapangan. Kalau ada kerusakan, periksa. Kalau ada dugaan dampak lingkungan, ukur dan kaji secara ilmiah.
Dengan demikian, pemerintah dapat berdiri di posisi yang objektif: tidak membela pengembang, tetapi juga tidak serta-merta membenarkan semua tuduhan warga sebelum ada hasil pemeriksaan.
Jika memang tidak terdapat hubungan antara aktivitas proyek dan kerusakan rumah, pemerintah harus menjelaskan berdasarkan kajian teknis.
Namun apabila terbukti terdapat dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembangunan, maka harus ada langkah pemulihan dan pertanggungjawaban sesuai aturan.
Pembangunan Jangan Mengorbankan WargaTidak ada yang salah dengan investasi.
Tidak ada yang salah dengan pembangunan.Kota Semarang membutuhkan pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan pusat-pusat kegiatan baru.Tetapi pembangunan juga memiliki batas yang tidak boleh dilupakan:
keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Jangan sampai sebuah proyek berdiri megah, sementara masyarakat di sekitarnya justru dihantui retaknya rumah, getaran, debu, kebisingan, maupun kekhawatiran terhadap kondisi tanah.
Pembangunan seharusnya menciptakan manfaat yang lebih besar daripada dampak yang ditimbulkannya.
Publik Menunggu Jawaban, Bukan Sekadar PernyataanMunculnya persoalan ini semestinya menjadi momentum bagi Pemkot Semarang dan pengembang untuk membuka ruang dialog dengan warga.
Pemeriksaan kondisi rumah, kajian teknis, evaluasi mitigasi lingkungan, serta mekanisme penyelesaian kerugian perlu dilakukan secara transparan.
Jika memang seluruh prosedur telah dijalankan dengan benar, tunjukkan hasilnya kepada publik.Jika ada kekurangan, perbaiki.
Jika ada warga yang terbukti terdampak, selesaikan secara layak.
Dan jika ditemukan pelanggaran, tindak sesuai ketentuan hukum.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran pembangunan sebuah pusat perbelanjaan.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, tanggung jawab pengembang, serta masa depan lingkungan Kota Semarang.
Pakuwon Mall boleh menjadi simbol kemajuan ekonomi. Tetapi kemajuan itu jangan sampai dibayar dengan keresahan dan rasa tidak aman warga yang tinggal di sekitarnya.
Kini bola ada di tangan Pemerintah Kota Semarang dan pihak pengembang.Publik menunggu: seberapa serius pengawasan dilakukan, seberapa terbuka hasil pemeriksaan disampaikan, dan seberapa besar tanggung jawab diberikan kepada warga apabila dampak pembangunan benar-benar terbukti terjadi.
Karena pembangunan yang hebat bukan hanya yang megah bangunannya, tetapi juga yang mampu menjaga warga di sekelilingnya tetap aman, nyaman dan terlindungi.(FAR/Bang_Ali)
