Pojok Bang Ali: Kalau Dua Raksasa Saling Kejar Koruptor, Wong Cilik Bilang… Teruskan Saja!

0
Screenshot_20260712_072023

Oleh: Bang Ali

Portallensa.com — Dunia maya kembali gaduh. Bukan karena diskon tanggal kembar, bukan pula karena artis kawin diam-diam. Kali ini yang bikin linimasa panas adalah kabar penggeledahan di sejumlah tempat yang menyeret nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie, oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polda Metro Jaya.

 

Banyak yang menyebut ini sebagai langkah berani Polri dalam membongkar dugaan tindak pidana korupsi. Langkah yang, kalau memang dilakukan secara profesional, tentu layak diapresiasi.

 

Publik tentu belum lupa, sebelumnya Kejaksaan Agung juga bergerak memproses dugaan korupsi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyeret sejumlah nama, termasuk purnawirawan hingga perwira aktif kepolisian.

 

Nah, sejak dua peristiwa itu terjadi, ruang publik langsung berubah menjadi arena adu teori. Ada yang menyebut ini perang antarinstansi. Ada yang menuduh balas dendam. Ada pula yang merasa ini sekadar pengalihan isu dari perkara yang lebih besar. Pokoknya, semua mendadak menjadi analis intelijen, ahli hukum, sekaligus komentator politik. Padahal, penyidik masih bekerja.

 

Ironisnya, di tengah proses hukum yang belum selesai, para produsen hoaks justru panen raya. Narasi “adu domba” dilempar ke mana-mana. Seolah-olah pemberantasan korupsi harus berhenti hanya karena pelakunya berasal dari institusi penegak hukum.

 

Bang Ali justru melihatnya dari sudut yang lebih sederhana.

 

Kalau benar semua institusi berlomba menangkap koruptor, bukankah itu kabar baik?

 

Bayangkan saja seperti pertandingan liga. Bedanya, bukan berebut piala, tetapi berebut kepercayaan rakyat. Institusi yang paling banyak membongkar korupsi secara profesional, transparan, dan berujung pada pemulihan kerugian negara, dialah yang akan mendapat tepuk tangan publik.

 

Rakyat tidak sedang menunggu siapa yang menang perang ego.

 

Rakyat menunggu siapa yang paling serius membersihkan negeri.

 

Di sudut warung kopi, Bang Ali bertemu Kang Parmin. Profesi resminya aplikator teknik sipil. Bahasa gampangnya, tukang bangunan. Tangannya penuh bekas semen, bajunya lusuh, tapi logikanya sering lebih jernih daripada debat para buzzer.

 

Sambil meniup kopi hitam tanpa gula—pahitnya hampir menyaingi isi dompet menjelang tanggal tua—Kang Parmin nyeletuk pelan,

 

“Wong cilik ki ora urus opo kuwi balas dendam utawa perang institusi. Sing penting nek koruptor ditangkapi yo alhamdulillah… nanging duite ojo dikorupsi meneh.”

 

(Wong kecil tidak peduli itu balas dendam atau perang institusi. Yang penting kalau koruptor ditangkap ya alhamdulillah… tapi uang hasil sitaan jangan sampai dikorupsi lagi.)

 

Bang Ali hampir tersedak. Kalimat itu sederhana, tetapi menampar keras.

 

Karena pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan drama. Rakyat membutuhkan hasil. Koruptor ditangkap, diadili secara adil, aset negara dikembalikan, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

 

Kalau Polri menangkap koruptor, bagus.

 

Kalau Kejaksaan menangkap koruptor, bagus.

 

Kalau KPK menangkap koruptor, juga bagus.

 

Yang tidak bagus adalah kalau yang ditangkap hanya lawan, sementara kawan dibiarkan jalan-jalan sambil melambaikan tangan.

 

Maka, daripada sibuk berspekulasi soal perang antarinstansi, lebih baik kita menjadi penonton yang cerdas.

Silakan berlomba.

Silakan unjuk keberanian.

Silakan buktikan integritas.

Karena bagi rakyat, pemenangnya bukan yang paling pandai membuat konferensi pers, melainkan yang paling banyak menyelamatkan uang negara dan paling sedikit menyisakan tanda tanya.

Dan semoga, di negeri ini yang akhirnya kalah bukan Polri, bukan Kejaksaan, bukan KPK.

Melainkan… korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *