Membentuk Karakter dengan Latihan Militer: Solusi atau Justru Salah Kaprah?
Portallensa.com//- Lima nyawa melayang. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk sebuah program yang diklaim bertujuan membentuk karakter.
Pernyataan Kementerian Pertahanan yang tetap menganggap latihan dasar militer (Latsarmil) penting bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memunculkan pertanyaan mendasar:
apakah disiplin dan integritas hanya bisa dibentuk melalui pola pendidikan militer?
Jika jawabannya “ya”, maka logikanya seluruh pemimpin perusahaan, kepala daerah, pengusaha sukses, akademisi, hingga tokoh masyarakat seharusnya berasal dari pendidikan militer. Faktanya tidak demikian.
Indonesia dipenuhi sosok-sosok hebat yang membangun bisnis bernilai triliunan rupiah, memimpin lembaga publik, mengelola koperasi, bahkan membawa inovasi besar tanpa pernah menjalani latihan dasar militer. Mereka berhasil karena kompetensi, pengalaman, integritas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan yang terus diasah.
Maka, menyamakan pembentukan karakter dengan latihan fisik bergaya militer adalah penyederhanaan persoalan yang terlalu jauh.
Karakter bukan dibentuk oleh kerasnya bentakan. Karakter lahir dari pendidikan yang benar, keteladanan, tanggung jawab, dan budaya organisasi yang sehat.
Calon manajer koperasi sejatinya akan mengelola uang rakyat, aset masyarakat, dan kepercayaan publik. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan membaca laporan keuangan, memahami tata kelola koperasi, mengelola konflik, menyusun strategi usaha, hingga membangun transparansi. Semua itu adalah kompetensi manajerial, bukan kemampuan bertahan dalam tekanan fisik.
Disiplin memang penting. Tidak ada yang membantah. Namun disiplin bukan hak eksklusif dunia militer.
Rumah sakit memiliki disiplin tinggi. Dunia penerbangan memiliki standar disiplin yang sangat ketat. Perusahaan-perusahaan global menerapkan budaya kerja yang keras. Bahkan lembaga pendidikan terbaik di dunia membentuk karakter tanpa harus membawa peserta ke pola latihan semi-militer.
Yang membedakan adalah metode.
Disiplin modern dibangun melalui sistem, bukan rasa takut.
Pemimpin dibentuk melalui keteladanan, bukan sekadar hukuman. Lebih memprihatinkan lagi, tragedi yang menewaskan lima peserta justru memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang harus dievaluasi secara mendasar, bukan sekadar memperbaiki kurikulum atau mengurangi intensitas latihan.
Pertanyaan besarnya bukan lagi “bagaimana memperbaiki Latsarmil?”, melainkan “apakah Latsarmil memang tepat untuk calon pengelola koperasi?”
Pemerintah harus berani membuka ruang evaluasi secara objektif. Jangan sampai alasan membentuk karakter dijadikan legitimasi untuk mempertahankan metode yang belum tentu relevan dengan kebutuhan profesi sipil.
Membangun mental tangguh memang penting. Tetapi ketangguhan tidak selalu lahir dari latihan fisik. Seorang dokter yang bertugas 24 jam, guru di daerah terpencil, nelayan yang menghadapi badai, atau petani yang bertaruh dengan cuaca juga memiliki mental baja—tanpa pernah mengikuti latihan dasar militer.
Negara membutuhkan pemimpin koperasi yang jujur, cerdas, profesional, dan mampu menyejahterakan masyarakat. Bukan sekadar mereka yang mampu bertahan dalam latihan fisik.
Lima nyawa yang telah hilang harus menjadi alarm keras bahwa keselamatan peserta tidak boleh dipertaruhkan atas nama pembentukan karakter.
Sebab pada akhirnya, karakter terbaik bukan dibuktikan dari seberapa kuat seseorang menerima tekanan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada masyarakat.
PortalLensa berpendapat: Negara tidak boleh alergi terhadap kritik. Justru kritik adalah bentuk kepedulian agar setiap kebijakan benar-benar menghasilkan manusia unggul tanpa mengorbankan keselamatan warganya. Membentuk karakter adalah kewajiban, tetapi memilih metode yang tepat adalah tanggung jawab. (Bang_Ali)