Saat Daerah Berbangga dengan Prestasi, Warga Terdampak TPA Blondo Bergulat dengan Penderitaan
Portallensa.com – Kabupaten Semarang selama ini kerap dipromosikan sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Investasi terus berdatangan, perusahaan-perusahaan besar berdiri di berbagai wilayah, kawasan wisata tumbuh, dan agenda seni budaya digelar hampir tanpa jeda. Berbagai penghargaan pun diraih, termasuk dalam upaya menekan angka pengangguran. Logikanya, geliat ekonomi tersebut semestinya ikut mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, di balik narasi keberhasilan itu, tersimpan kenyataan yang jauh berbeda. Warga terdampak aliran lindi dari TPA Blondo, Kecamatan Bawen, justru mendengar kabar bahwa kondisi anggaran daerah disebut “sedang tidak baik-baik saja”.
Pernyataan tersebut mencuat dalam audiensi yang dihadiri DPRD Kabupaten Semarang dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang pada 17 Juni 2026 di Aula TPA Blondo. Bagi masyarakat kecil yang setiap hari bergantung pada hasil pertanian, kalimat itu sulit dipahami. Mereka melihat investasi tumbuh, pembangunan berjalan, dan berbagai prestasi terus diumumkan. Namun ketika meminta kepastian atas kerugian yang mereka alami, jawaban yang diterima justru bahwa tuntutan ganti rugi masih dalam tahap kajian dan belum ada kepastian.
Ironi inilah yang memunculkan pertanyaan mendasar: jika daerah terus bertumbuh dan pendapatan meningkat, mengapa penderitaan warga yang menjadi korban justru harus menunggu tanpa batas?
Bagi para petani yang lahannya terdampak, persoalan ini bukan sekadar angka dalam laporan anggaran. Ini adalah soal sumber penghidupan yang terancam. Tanaman yang rusak, hasil panen yang menurun, dan ketidakpastian masa depan telah menjadi beban yang mereka rasakan selama bertahun-tahun.
Setelah hasil audiensi disampaikan kepada masyarakat pada Kamis, 18 Juni 2026, tuntutan agar TPA Blondo dihentikan operasionalnya kembali menguat. Warga menilai, selama tempat pembuangan sampah tersebut masih beroperasi tanpa penyelesaian yang jelas, penderitaan petani akan terus berlanjut.
“Musyawarah sudah kami tempuh. Kalau TPA Blondo tidak ditutup, penderitaan petani akan semakin berat. Kami berencana kembali mendatangi DPRD bersama seluruh warga terdampak. Namun sebelumnya kami akan berkoordinasi dengan pihak berwenang agar langkah masyarakat tidak dianggap sebagai tindakan provokatif,” ujar Sugito, koordinator warga terdampak.
Persoalan TPA Blondo kini menjadi ujian bagi pemerintah dan DPRD Kabupaten Semarang. Sebab keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari banyaknya investasi, penghargaan, maupun angka pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan sejati justru diuji dari keberpihakan kepada rakyat yang paling merasakan dampak sebuah kebijakan.
Sebab di tengah pujian atas kemajuan daerah, ada suara-suara kecil yang jangan sampai tenggelam oleh gemuruh tepuk tangan. Ketika kekuasaan dan pendapatan terus bertambah, tetapi keluhan rakyat hanya dijawab dengan alasan keterbatasan anggaran, maka yang muncul bukanlah rasa bangga, melainkan pertanyaan: untuk siapa sebenarnya kemajuan itu dibangun? //F03/Bang_Ali/.
